Lompat ke isi utama
poster webinar "cinta tanpa syarat" bagi orang tua anak difabel

Webinar Penerimaan Orang Tua dengan Anak Difabel

Solider.id, Surakarta- Ada beberapa hal yang membuat orangtua sedih melihat kondisi anaknya yang berbeda. Sigit Yudhanarto, seorang pendamping psikologi dan dosen di Politeknik Jakarta menyatakan bahwa untuk membuka penerimaan sebuah keluarga terhadap anaknya yang difabel, meminta orangtua untuk melakukan flashback atau menoleh ke belakang bagaimana mereka dengan susah payah untuk mendapatkan buah hati misalnya. Sebab ada orangtua yang mudah mendapatkan anak, begitu pun sebaliknya. Demikian pengantar webinar interaktif bertema Cinta Tanpa Syarat yang digelar oleh Unit Layanan Rehabilitasi Sosial Anak Penyandang Disabilitas bekerja sama dengan Atensi, dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional (HAN), Jumat (16/7).

 

Lalu bagaimana perasaan orangtua ketika tahu anaknya lahir dengan kondisi difabel? Tentu ada perasaan yang tidak siap. Seperti yang dituturkan oleh orangtua dari anak difabel, Anwar Istanto, bahwa penting untuk memberikan stimulasi dan intervensi sejak dini untuk mengurangi disabilitas lebih lanjut di dua minggu pertama kelahiran sesuai kasus. Ia menceritakan pengalamannya menghadapi sang anak. Ketika sudah agak besar si anak ketahuan mengalami gangguan motorik lalu saat usia masuk sekolah ia mencari sekolah yang bisa mengakomodir anaknya.

 

Sigit menambahkan, memiliki anak berkebutuhan khusus memang perlu energi yang lebih, maka orangtua lambat laun akan memiliki kemampuan untuk memahami kelebihan dan kekurangan. Banyak pasangan kehilangan energi ketika melihat kekurangan anaknya dan kurang yakin untuk melihat sisi kelebihan si anak. Sebagai orangtua perlu untuk selalu memperhatikan setiap detail perkembangan anak. Ibarat tanaman yang setiap hari disirami dan kita siangi rumputnya, tanaman itu bukan hanya dilihat dan ditengok tetapi dengan merawatnya, akan beda hasilnya. Sedangkan yang dirawat akan berkembang lebih baik dan akan memberi rasa terima kasih pada kita yang pernah merawatnya. Sebab cinta dan kasih sayang tak bersyarat yang diberikan oleh orangtua pasti tidak bertepuk sebelah tangan.

 

Ada lima tahap yang harus dilalui oleh orangtua anak difabel yakni tahap kesedihan, menyangkal,  marah, posisi tawar/menawar, depresi dan menerima. Lalu bagaimana dampak penolakan orangtua bagi anak? Penolakan itu sendiri adalah tidak memberikan perhatian yang tulus terkait kebutuhan pokok dan perhatian khusus, dan belum siap menerima. Dampak negatif bagi anak tanpa penerimaan antara lain krisis kepercayaan diri, kurang adanya emotional bonding/ikatan emosi antara anak dan orangtua, meningkatnya risiko gangguan mental dan perilaku dan berisiko terjebak dalam hubungan abusif. Lalu apa yang harus dilakukan agar kita siap? dengan berprasangka baik, menerima apa yang Tuhan berikan dan dapatkan dari Tuhan dengan tidak menghakimi diri sendiri dan menerima kenyataan. Kedua adalah memahami penolakan dengan cara menenangkan jiwa dan pikiran, lalu mengevaluasi apa yang sebenarnya sedang terjadi.

 

Beberapa tips juga diberikan antara lain dengan mencari pengetahuan dan solusi dengan menggali dan respon kebutuhan diri dan keluarga atas apa yang kira-kira diperlukan untuk mendukung proses pengasuhan anak, menambah ilmu dan pikiran untuk mencari biaya pengasuhan, waktu yang mencukupi, pembimbingan, dan model perawatan terbaik. Dengan memperkuat dukungan keluarga pastikan adanya keharmonisan setiap keluarga sehingga bahu-membahu sesuai peran yang jelas sesuai kemampuan, walau figur kedekatan yang baik adalah orangtuanya sendiri, namun dukungan keluarga penting. Butuh juga penguatan sosial, yakni komunitas atau sekolah. Adanya dukungan tambahan seperti dukungan sosial di luar keluarga, sangat penting apalagi jika bertemu dengan ragam difabilitas yang sama bertujuan saling memotivasi dan menguatkan dan saling berbagi ilmu dalam mengasuh.

 

Beberapa ciri-ciri orangtua yang sudah mengalami penerimaan diri adalah tidak malu memperkenalkan, tidak malu mengajak anak ke mana saja, mau memberikan perhatian dan waktunya tanpa perhitungan, mau berkorban secara finansial dan non finansial untuk anaknya tanpa pamrih, anak mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang baik, mampu memberikan kasih sayang yang adil dan ikhlas kepada semua anaknya tanpa membeda bedakan.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.