Lompat ke isi utama
ilustrasi tulisan monokrom bertuliskan 'disability intersectionality

Hambatan dalam Interseksionalitas Orang Muda Difabel

Solider.id - Bonus demografi menjadi salah satu dari beragam tantangan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini. Seberapa baik negara mengelola transisi orang muda ke masa dewasa akan menjadi penentu penting jenis masa depan yang dapat dinikmati semua warga negara dan juga sebagai cerminan kuat tentang seberapa serius negara menjalankan komitmennya dalam Agenda SDGs 2030 agar jargon no one leave behind benar-benar terwujud.

 

Siapa yang bisa dikategorikan sebagai orang muda? Pertanyaan ini bisa jadi dijawab secara subyektif. UNFPA (United Nations Population Fund)  mengategorikan youth atau anak muda di range  (kisaran) usia antara 15-24 tahun. Di Indonesia, batasan usia yang disebut pemuda dalam UU Kepemudaan yakni 16-30 tahun, namun di sisi lain usia dibawah 18 tahun digolongkan sebagai anak menurut UU Perlindungan Anak. Tak jarang pula kita mendengar organisasi kepemudaan menyatakan batasan usia pemuda adalah 40 tahun. Kerancuan dasar hukum ini menjadi hambatan awal ketika orang muda ingin menyuarakan hak-haknya dimana ia kerap kali dianggap masih anak-anak yang tak bisa mengambil keputusan sendiri, pun distigma berada di usia labil karena pubertas yang sedang dialami.

 

Di masa transisi ini, orang muda baik difabel atau nondifabel kerap menghadapi tantangan yang bervariasi. Contohnya, ketika seorang anak perempuan mencapai usia 10 tahun, ia dianggap siap untuk menikah. Diperkirakan 47.700 anak perempuan berusia 17 tahun atau lebih muda menikah di negara berkembang. Pada saat anak perempuan mencapai usia 19 tahun, 1 dari 3 akan menikah, dan banyak yang akan melahirkan, yang keduanya mungkin bukan karena pilihan mereka sendiri.

 

Bagi orang muda difabel, tantangan ini bahkan bisa lebih signifikan. Sudah banyak data mengungkap bahwa orang muda difabel masih terkungkung dan terisolasi di dalam rumah karena tak diberikan izin orangtua untuk bersosialisasi dengan dunia luar. Penyebabnya seperti dua sisi mata uang, karena orangtua tak ingin anaknya yang difabel mendapatkan kekerasan, di saat bersamaan orangtua kerap merasa malu memiliki anak difabel. Dampaknya, banyak orang muda difabel tak mengenyam pendidikan secara layak dan tentu saja tak memperoleh pekerjaan. Jika pun mendapatkan akses pada pendidikan dan pekerjaan, tantangan selanjutnya adalah soal kesempatan yang setara. Tantangan lainnya, orang muda difabel seringkali tidak dapat memulai keluarga atau membangun kemitraan seksual yang sehat. Gagasan bahwa difabilitas disamakan dengan kelainan atau ketidakmampuan mendasari sikap dan stigma negatif, yang keduanya mengarah pada diskriminasi serta mendorong pengucilan dalam masyarakat. Kesimpulannya, gagasan untuk dapat berpartisipasi penuh dalam pembangunan sosial, ekonomi, politik dan aspek-aspek lainnya masih membutuhkan nafas panjang perjuangan.

 

Ada beberapa hambatan dalam interseksionalitas orang muda difabel, diantaranya, pertama, sikap-sikap negatif. Sikap adalah cerminan bagaimana kita merespon orang lain. Malangnya, yang masih berkembang di masyarakat kita adalah mereka selalu menyertakan penilaian-penilaian negatif untuk dilekatkan pada orang muda difabel atas dasar ketidakmampuan mereka. Prinsip medical model kerap lebih dipakai karena menganggap difabel yang berusia muda masih bisa ‘diperbaiki’ atau ‘disembuhkan’ dibanding difabel yang telah berusia dewasa. Kedua, stigma atas karakteristik orang muda difabel karena dianggap berbeda dari norma-norma sosial yang ada. Contohnya, ketika difabel muda memiliki cara sendiri dalam melakukan sesuatu yang kemudian dilihat sebagai cara tidak lazim di mata masyarakat. Ketiga, minimnya aksesibilitas. Bangunan fisik, transportasi, informasi, komunikasi dan layanan publik lainnya tidak dibangun dengan desain universal. Padahal aksesibilitas adalah prasyarat bagi orang muda difabel untuk hidup mandiri, berpartisipasi secara penuh dalam masyarakat, serta menikmati hak asasi atas dasar kesetaraan dengan orang lain. Keempat, orang muda difabel dianggap tak terlihat. Hal ini dapat dilihat bagaimana perlakuan keluarga hingga negara yang kerap membicarakan hak mereka tapi tanpa melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan atas diri mereka. Terakhir, lagi-lagi soal minimnya data pilah yang valid yang selalu menjadi alasan klise negara untuk tak melakukan pemenuhan hak pada orang muda difabel.   

 

Kemiskinan (baca: pemiskinan) dan difabilitas berkelindan satu sama lain tak bisa dipisahkan dan menciptakan kerentanan. Ditambah diskriminasi yang dialami akan berlipat ketika dilahirkan berjenis kelamin perempuan. Kemiskinan adalah faktor utama yang dihadapi difabel, dan kondisi kedifabilitasan seseorang menjebaknya dalam kemiskinan. Kemiskinan ini tidak hanya soal ekonomi semata, karena mengakses layanan publik bukan hal mudah dan murah. Ini yang membuat orangtua dimiskinkan ketika harus mengeluarkan biaya-biaya ekstra yang tak diakomodir perlindungan sosial yang -katanya- dikover negara.

 

Untuk memastikan bahwa orang muda difabel memiliki akses yang sama ke semua layanan,  maka kebijakan dan program harus inklusif. Penting untuk menjembatani kesenjangan data dan menciptakan kesadaran akan kebutuhan orang muda difabel muda di berbagai sektor dengan melibatkan mereka dari mulai desain hingga implementasi program dan kebijakan. Orang muda difabel dipengaruhi oleh pengalaman mereka saat bertransisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa sehingga penting memahami life-cycle approach atau siklus hidup marginalisasi berbasis kedifabilitasan yang berdampak pada kehidupan difabel di masa mudanya.

 

Berinvestasi pada orang muda sebagai agen perubahan di masa depan sangatlah penting, namun hal tersebut mutlak membutuhkan keterlibatan penuh dan memanfaatkan keterampilan serta kreativitas mereka. Di sisi lain, orang muda juga membutuhkan pengakuan atas hak asasi mereka, tak terkecuali orang muda difabel, agar dapat berpartisipasi dan berkontribusi penuh dalam komunitas dan masyarakat global.

 

Penulis: Alvi

Editor  : Ajiwan Arief  

 

Sumber:

https://www.unfpa.org/sites/default/files/pub-pdf/Final_Global_Study_English_3_Oct.pdf

http://www.smeru.or.id/sites/default/files/events/baseline_tujuan_pemba…

 

The subscriber's email address.