Lompat ke isi utama
diskusi difabel psikososial

Terapi Bagi Difabel Psikososial untuk Menghilangkan Disabilitasnya

Solider.id, Surakarta – Organisasi kesehatan dunia WHO pada 2014  mencatat bahwa angka insidensi (kasus baru) dunia adalah 3 dari 10.000 orang mengalami kasus baru ihwal kesehatan mental mereka per tahun, angka prevalensi (kejadian) dunia adalah 7 per 1000 populasi dewasa terutama pada usia 15-35 tahun.  Sementara Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan angka prevalesi psikosis skizofrenia nasional adalah 7 per mil penduduk, sedang D.I.Yogyakarta 10 per mil. Gangguan jiwa skizofrenia secara dampak adalah suatu penyakit dengan difabilitas tertinggi di dunia. Ketika seseorang menyandang skizofrenia, maka ia tidak mampu berkontribusi, produktivitas menurun, sering kambuh seiring masih buruknya luaran jangka panjang dan adanya pergeseran terapi yakni pulih sehingga tidak ada disabilitasnya. Demikian dikatakan oleh Wikan Ardiningrum psikiater, pada talkshow Selaras Nyawiji yang diikuti oleh caregiver dan penyintas pada Minggu (11/7).

 

Skizofrenia adalah penyakit otak yang tidak diketahui penyebabnya. Ada pengaruh genetik, lingkungan, perkembangan neuron, neuroanatomi, neuroimunologi, neurokimia, neurofungsional dan perkembangan neuron. Jadi menurut Wikan, menyebut Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) atau difabel psikososial dengan sebutan gila adalah melakukan stigma dan diskriminasi. Lalu jika ada anggapan bahwa difabel psikososial tahan terhadap penyakit itu juga keliru. Sebab mereka yang berada dan tinggal di jalan tidak boleh dikatakan sehat, karena kita tidak memeriksanya. Oleh sebab higienitas mereka buruk, banyak yang terkena cacingan.

 

Ada juga insight yakni daya tilik diri. Difabel psikososial yang belum pulih tidak memiliki insight. Ada terapi yang dilakukan oleh pemuka agama, ini memang diperlukan sebab gangguan jiwa itu multifaktor termasuk spiritualitas yang kurang. Tetapi tidak serta merta hanya menjalani terapi tersebut, sebab ada faktor lain yang harus diobati. Selain terapi spiritual, ada terapi biologi, psikologis dan sosial.

 

Baca Juga: Difabel Mental Psikososial Banyak Dirugikan Sebagai Konsumen

 

Dimensi gejala skizofrenia ada lima macam yakni gejala positif dan negatif. Waham positif antara lain: waham, halusinasi, pembicaraan disorganisasi, dan perilaku disorganisasi. Sedangkan waham negatif antara lain: alogia yakni sedikit saja bicara dan jarang memulai percakapan dan isi pembicaraan sedikit bermakna, afek tumpul/datar adalah emosi yang tidak sesuai dengan situasi atau tampak tidak mempunyai emosi, asosialisasi, anhedonia yakni kehilangan minat terhadap kegiatan dahulu yang disenanginya atau disukainya, avolisi yakni minat yang rendah untuk beraktivitas.

 

Lalu ada gejala kognitif yakni berupa gangguan memori kerja, pembelajaran dan memori verbal, memori pembelajaran dan memori visual, gangguan atensi dan kewaspadaan, kognisi sosial, serta gejala afektif antara lain : mood depresi, cemas, tegang, khawatir bersalah, dan gejala agresif yakni menyerang, kasar secara verbal, kekerasan terhadap orang lain maupun diri sendiri, impulsivitas, bermusuhan, dan kekerasan seksual.

 

Ada terapi farmakologi dan rehabilitasi bagi difabel psikososial, dan apakah mereka konsisten dengan suatu obat atau tidak, perlu untuk dikonfirmasikan kepada tenaga kesehatan secara objektif. Dengan terapi yang dilakukan, mereka bisa recovery pulih 60-70%. Pulih itu berarti dia bebas dari gejala dan bisa berfungsi seperti semula sehingga tidak mengalami disabilitas. Apakah harus minum obat terus? Sangat tergantung pada kondisi masing-masing.[]

 

Reporter:   Puji Astuti

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.