Lompat ke isi utama
Fahmi, saat melakukakn isolasi mandiri di RSA UGM

Layanan Penanganan Covid-19 di UGM: Begini Tanggapan Mahasiswa Difabel

Solider.id,Yogyakarta - Peningkatan kasus Covid-19 akhir-akhir ini yang dapat menular ke siapa saja membuat  Universitas Gadjah Mada (UGM) proaktif dan bergerak cepat. Hal itu dibuktikan dengan komitmen UGM dalam memberikan layanan yang inklusif dalam rangka penanganan Covid-19. Melalui Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 UGM, mereka memberikan layanan tracing dan testing bagi sivitasnya yang terpapar atau sedang mengalami gejala Covid-19.

 

Salah satu penerima layanan tersebut adalah Giri Trisno Putra S, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis angkatan 2018 yang merupakan seorang difabel netra. Saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Senin (12/7), Giri mengungkapkan jika tim Satgas Covid-19 UGM mendatangi kediamannya pada Senin (5/7) lalu untuk melakukan tes antigen.

 

Kondisi Giri tersebut menyusul adiknya yang terlebih dahulu dinyatakan terpapar Covid-19. Selain itu, ia sendiri juga mengalami kesulitan apabila harus pergi ke fasilitas kesehatan terdekat tanpa adanya bantuan dari pendamping.

 

Lebih lanjut, Giri mengaku setelah melakukan tes antigen tersebut dirinya dinyatakan positif Covid-19. Merespon hal tersebut, pihak Satgas segera memberikan sejumlah obat-obatan yang harus rutin dikonsumsi. Tak hanya untuk Giri, namun juga adiknya. Selain itu, Pihak Satgas turut mengimbau kepada Giri untuk melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Hingga saat dihubungi melalui sambungan telepon, ia menjelaskan bahwa saat ini kondisinya sudah sangat membaik dibanding seminggu lalu.

“Saya pribadi sangat berterimakasih kepada UGM atas layanan yang diberikan sehingga saya tak perlu jauh-jauh keluar. Sebab bagi saya akan sangat sulit untuk keluar karena kondisi adik yang sedang positif dan orang tua juga sedang membatasi interaksi langsung dengan saya,” terangnya.

 

Cerita berbeda datang dari Muhammad Fahmi Husaen, mahasiswa Sekolah Vokasi angkatan 2016, seorang difabel fisik pengguna kursi roda. Pasca terinfeksi Covid-19 pada awal tahun 2021 lalu, dirinya mengaku menderita Pneumonia (peradangan paru-paru). Hal itu membuat Fahmi harus mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM selama 10 hari lamanya.

“Menurut saya layanan yang diberikan selama di RSA sudah cukup baik. Mulai dari bangunan dan beberapa fasilitas rumah sakit yang mudah diakses oleh pengguna kursi roda seperti saya. Hal itu juga diimbangi dengan responsifnya penanganan dari petugas kesehatan. Sama sekali tidak ada diskriminasi terhadap saya,” Jabarnya.

 

Selama di RSA, Fahmi mengaku mendapat dua kali rontgent yaitu pada 25 dan 30 Januari. Berdasarkan hasil keterangan dokter, penyakit Pneumonia yang dideritanya itu tidak menular sehingga Fahmi diputuskan boleh menjalani rawat jalan. Kendati demikian, hal yang membuat Fahmi bersyukur adalah saat dirinya dan keluarga tidak perlu mengeluarkan biaya apapun atas perawatan selama di RSA.

 

Atas hal tersebut, Fahmi menyampaikan rasa terimakasihnya yang begitu besar kepada UGM karena telah sangat responsif dalam mengupayakan layanan yang terbaik bagi mahasiswa difabel. Sebab, bagaimanapun mahasiswa difabel merupakan salah satu kelompok rentan dan perlu mendapat penanganan khusus.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.