Lompat ke isi utama
Ogast dan istri saat jalani isolasi mandiri

Pengalaman Difabel Dampingi Keluarga Isoman Covid-19 Tanpa Terpapar

Solider.id – Pandemi Covid – 19 yang terus berkepanjangan membuat banyak warga yang terpapar Covid – 19. Fenomena ini membuat beberapa fasilitas kesehatan kualahan menghadapi lonjakan pasien Covid – 19. Banyaknya kasus konfirmasi positif Covid – 19 tak jarang menimpa masyarakat difabel. Pihak difabel  bahkan tak jarang harus berdampingan dengan pasien positif Covid – 19 jika yang bersangkutan melakukan isolasi mandiri di rumah. Mereka justru  berhasil hidup berdampingan tanpa terpapar. Padahal, mereka selama ini dianggap rentan terkena paparan virus yang sudah mematikan jutaan manusial ini.

Pandemi covid - 19 belum teratasi. Dalam hitungan hari jumlah korban terpapar hingga yang meninggal dunia semakin tinggi. Isolasi mandiri atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘isoman’ untuk saat ini justru banyak dilakukan. Hal ini karena di banyak rumah sakit sudah tidak lagi tertangani, kemampuan daya tampung ruangan yang melebihi kapasitas menjadi penyebabnya.

 

Mereka yang terpapar dan harus menjalani isoman, terpaksa melakukan karantina di rumah secara pribadi. Ada yang bertahan dan berhasil sembuh, ada yang meninggal dunia, ada juga yang menularkan kepada anggota keluarga.

 

Bagaimana difabel bebas dari covid-19 saat dampingi keluarga isolasi mandiri?

Beberapa difabel ini tidak terpapar covid-19, ketika mereka harus hidup berdampingan dengan anggota keluarga yang di vonis positif dan menjalani isolasi mandiri di rumah.  

 

Pengalaman pertama disampaikan oleh Ogest Yogaswara asal Kota Bandung, difabel Fisik pengguna kursi roda akibat penyakit Guillain Barre Syndrome (GBS). Istri dan tantenya dinyatakan positif terpapar covid-19. Mereka boleh dikatakan personal asisten atau pendamping Ogest dan selalu temani aktivitasnya di rumah maupun saat diluar.

“Sejak awal pandemi 2020 lalu, kami bertiga sering kali berbincang. Bagaimana bila salah satu dari kami terpapar covid? Otomatis kami akan isolasi mandiri barengan di rumah. Bila saya yang negatif, siapa yang akan mengurus saya? Bila saya yang terpapar, apakah akan kuat bertahan mengingat kondisi tubuh saat ini Decubitus (Luka tekan) sudah stadium 4. Dengan kondisi tersebut, boleh jadi virus mudah masuk dalam tubuh saya, selain sering berasa lemas hingga drop, saya tiba-tiba juga sering merasakan sesak nafas, dan mudah diare sejak pengangkatan kantung empedu dua tahun silam.” paparnya.

 

Secara pribadi Ogast pun mengakui, ia tidak bisa selamanya patuhi protokol kesehatan di masa pandemi. Bukan tidak mau apalagi tidak patuh pada aturan yang diberlakukan pemerintah, tapi kondisi dirinya tidak memungkinkan untuk itu.

“Kadang sulit patuhi prokes pandemi. Untuk difabel berat seperti kondisi saya yang memiliki gangguan pada napas menggunakan masker hitungan menit saja rasanya sangat sesak, mencuci tangan pun harus dibantu sebab kesulitan dalam gerak,” tambahnya.

 

Istri dan tante Ogest positif terpapar setelah alami gejala covid-19. Menjaga jarak, menghindari kontak fisik atau memakai masker dengan durasi lama pun tidak mungkin dilakoni Ogest. Justru sebaliknya, saat hendak membantu aktivitas Ogest, merekalah yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

 

Jas hujan digunakan sebagai APD yang mudah dan terjangkau, selain masker dan sarung tangan, hingga mereka tetap bisa mengurus Ogest. Kendati demikian, rasa khawatir tetap ada. Apakah ini sama dengan memberi peluang atau mengantarkan virus covid mudah masuk pada tubuhnya?

 

Selama dua pekan berdampingan dengan istri dan tante yang sedang isolasi mandiri, pertanyaan tadi terus menghantui. Terlebih dua saudaranya yang memiliki riwayat sakit bawaan pun sudah menjadi korban meninggal akibat terpapar.

“Berserah diri, berdoa, di dukung dengan pola pikir yang positif dan keyakinan kalau saya harus bisa lewati ini semua dengan baik-baik saja ternyata jadi satu kekuatan mental selain berupaya dengan aturan prokes. Ajaib, setelah lewati dua pekan, hasil swab istri dan tante saya dinyatakan negatif tanpa menularkan covid-19 kepada saya,” sambung Ogest.

 

Kepada semua masyarakat Ogest juga berpesan untuk tetap berdoa, berikhtiar dengan patuhi protokol kesehatan, lalu berserah diri kepada Allah Tuhan semesta alam dan yakinkan takdir Tuhan adalah yang terbaik untuk hamba-Nya. Hindari kepanikan saat berdampingan dengan anggota keluarga yang terpapar.

 

Kisah lain juga dibagikan oleh Asep Saepudin asal Kabupaten Sumedang, difabel Fisik pengguna kruk yang juga berdampingan dengan istri saat isolasi mandiri di rumah. Selama isolasi mandiri, yang terpapar covid-19 hanya bisa makan bubur tanpa campuran atau toping apapun, ini yang kemudian sering menimbulkan rasa mual hingga muntah. Padahal, mereka bisa dibantu asupan kurna, madu, vitamin C, selain obat dokter atau obat herbal yang tepat. Tentu tetap menjaga protokol kesehatan gunakan masker dan handsanitiizer.

“Awalnya istri melakukan tes swab dengan hasil positif covid-19. Saya harus mendampingi isolasi mandirinya dengan perasaan was-was. Saya gunakan APD lengkap, ternyata istri malah terganggu berpikirnya dan semakin drop, terlebih setiap mendengar bunyi sirine ambulance atau mendengar kabar kematian yang diumumkan, kondisinya bertambah buruk lagi. Lalu saya putuskan untuk tetap dampingi istri tanpa gunakan APD lagi, hanya masker berangkap dan handsanitiizer,” terangnya.

 

Secara pribadi Asep juga memberikan saran untuk masyarakat luas, dari pengalamannya berdampingan dengan keluarga karena terpapar, yang dibutuhkan selama isolasi mandiri adalah obat untuk pemulihan mereka yang sedang berjuang dari paparan covid-19, selain asupan makanan yang baik. Dan yang terpenting lainnya adalah menjaga stigma bagi pendampingnya, agar mindset mereka yang terpapar tidak paranoid, sebab malah dapat memperburuk kondisinya.

 

Cerita berdampingan dengan keluarga yang menjalani isolasi mandiri juga disampaikan oleh Mahmud, difabel Cerebral Palsy (CP) ringan.

“Sekitar bulan Ramadhan kemarin, keluarga kami terpapar covid-19. Dari empat orang hanya saya yang negatif dari paparan. Istri dan dua anak saya dinyatakan positif, dan semua isolasi mandiri di rumah. Saya sempat terpikir untuk mengungsi ke rumah di Majalaya atau Rancaekek agar tidak tertular. Namun, saya berpikir panjang lagi, Kalau ada apa-apa dengan istri dan anak akan repot lagi. Akhirnya saya putuskan untuk hidup berdampingan dengan mereka, kalau pun saya terpapar dan harus ditakdirkan pada kematian akibat covid-19 semoga menjadi shahid. Kami terus jalani aturan protokol kesehatan walau di dalam rumah, selain mengkonsumsi vitamin dan obat juga herbal bawang merah. Doa menjadi pegangan yang paling kuat, dan mereka semua dinyatakan sembuh dari terpapar tanpa menularkannya kepada saya,” paparnya.

 

Para difabel yang memilih untuk tetap berdampingan dengan anggota keluarga mereka yang terpapar covid-19 ini bisa terbebas dari penularan. Padahal, mereka yang terpapar adalah anggota keluarga yang nondifabel. Selain, tetap patuhi protokol kesehatan, melakukan yang disarankan dokter, mereka juga menjaga pola pikir agar selalu optimis, tenang, yakin pada kesembuhan, dan positif thinking. Selain berdoa, menghindari pemberitaan covid-19 selama isolasi mandiri juga dapat membantu  penguatan mental mereka.

Bentuk cinta dan kasih sayang yang ditunjukan oleh para difabel ini terhadap keluarganya patut diacungi jempol. Mereka memutuskan untuk tetap hidup berdampingan dengan keluarga selama menjalani masa isolasi mandiri. Mengutip ungkapan Menteri Kesehatan RI, paparan covid-19 bukan terjadi karena keadaan fisik atau kedifabelan yang dimiliki seseorang. Paparan tersebut hanya dapat berpotensi menyerang terhadap mereka yang lemah dalam imunitas tubuhnya dan abai terhadap protokol kesehatan yang diwajibkan.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.