Lompat ke isi utama
webinar evaluasi vaksinasi difabel DIY

Evaluasi Vaksinasi bagi Difabel, Sejumlah Kendala dan Akses Perlu Diperbaiki

Solider.id,Yogyakarta –kegiatan vaksinasi massal yang digelar di GOR UNY oleh Dinas Kesehatan DIY yang bekerjasama dengan Grab Indonesia pada 14-17 juni lalu digelar secara inklusif. Hal itu karena difabel juga dijadikan target prioritas dalam vaksinasi tersebut. Dengan rincian pelaksanaan dua hari pertama untuk nondifabel dan dua hari terakhir untuk difabel. 

 

Melansir keterangan Drg. Yuli Kusumastuti I. Putri, M.Kes., selaku Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes DIY, pada Webinar “Vaksin untuk Disabilitas: Menyediakan Akses Inklusif untuk Semua” yang dilaksanakan jumat (2/7), mengungkapkan ada sejumlah hal yang dilakukan agar pelaksanaan vaksin bisa berjalan lancar. Hal itu seperti penyederhaan meja vaksinasi untuk meminimalkan kerumumanan yang sering terjadi di area pendaftaran. Pihak penyelenggara juga menyediakan kursi roda, waktu layanan yang lebih lama, serta pendamping khusus difabel.

“Kita juga menyediakan parkir khusus difabel yang mudah dijangkau dan aksesnya tidak begitu jauh dari pintu masuk. GOR UNY yang memiliki banyak pintu masuk, cukup memudahkan kami mengatur akses masuk tersebut. Kami juga turut menggandeng beberapa pihak seperti Difagana, PPDI (Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia), dan OPD (Organisasi Penyandang Disabilitas) untuk turut membantu dalam penyebaran informasi vaksinasi ini,” jabarnya.

 

Kendati demikian, Yuli mengakui masih terdapat beberapa catatan perbaikan dari kegiatan vaksinasi Juni lalu. Hal itu seperti tempat yang kurang begitu luas karena harus dibagi menjadi dua area dengan ukuran yang sama besar untuk difabel dan nondifabel. Alhasil, tempat vaksinasi untuk difabel relatif sempit, terutama bagi mereka pengguna kursi roda sehingga sempat terjadi sedikit kerumunan.

 

Baca Juga:

Vaksinasi Massal bagi Difabel Digelar Dinkes DIY dan Grab

 

Tak hanya itu, Yuli juga menuturkan bahwa tidak adanya identifikasi awal mengenai jenis difabel turut menyulitkan pihaknya dalam memberikan layanan sesuai kebutuhan. Salah satu akibatnya yang telah terjadi adalah tidak adanya relawan yang bisa berbahasa isyarat.

“Waktu itu cukup kesulitan dan sempat menghambat proses vaksinasi karena tidak ada relawan yang bisa berbahasa isyarat. Namun beruntung kami berhasil mendatangkan JBI, walaupun hanya dua orang saja,” terangnya.

 

Menyambung penuturan Yuli, Nuning Suryatiningsih, Ketua Yayasan Ciqal, turut menyampaikan sejumlah kritikannya terhadap pelaksanaan vaksinasi untuk difabel itu. Ia menyebut kurang adanya akses informasi yang mudah dipahami bagi beberapa ragam difabel. Ia menilai seharusnya ada penerapan berbagai macam metode agar informasi itu dapat diterima dengan baik oleh seluruh ragam difabel.

 

Tak lupa, Nuning juga menggarisbawahi pentingnya penyesuaian terhadap layanan fisik dan nonfisik. Layanan fisik merujuk pada ketersediaan akses yang mudah serta ruang tempat yang cukup untuk mengakomodasi pergerakkan pengguna kursi roda. Sedangkan layanan nonfisik merujuk pada tenaga kehesatan dan relawan pendamping yang memahami kebutuhan setiap ragam difabel.

“Maka dari itu, penting bagi tenaga kesehatan dan relawan pendamping untuk diberikan pengetahuan dasar dan edukasi mengenai etika berinteraksi dengan difabel. Mengingat difabel memiliki ragam dan karakter yang berbeda-beda sehingga pastinya setiap difabel memerlukan cara penanganan dan pencegahan yang berbeda pula,” ucapnya.

 

Nuning menyoroti beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam rangka percepatan vaksinasi untuk difabel. Pertama, belum semua difabel tergabung dalam organisasi difabel seperti PPDI, Pertuni, ITMI, dan Gerkatin. Kedua, letak geografis tempat tinggal difabel yang sulit dijangkau semisal di pedesaan.

 

Oleh karena itu, ia mengandaikan alangkah baiknya jika ada layanan transportasi antar jemput yang disediakan oleh pihak penyelenggara vaksinasi. Hal itu terutama bagi difabel berat yang sekiranya memerlukan bantuan orang lain dan jarak tempat tinggalnya relatif jauh ke fasilitas pelayanan vaksinasi.

 

Terakhir, Nuning ingin menyampaikan harapannya agar kedepan ada pengarusutamaan difabel dalam program vaksinasi. “Tak hanya sebagai objek, melainkan bisa bermain sebagai subjek penyelenggara. Hal itu agar makin banyak difabel yang tak takut untuk divaksin sehingga penyelenggaraan vaksinasi dapat berjalan inklusif,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.