Lompat ke isi utama
pemberdayaan difabel di Porworejo

DPO Butuh Puworejo Berlatih Mandiri melalui Budidaya Aquaponik

Solider.id, Yogyakarta -Di era  sekarang pemanfaatan pekarangan guna berbudidaya tanaman, tidak mensyaratkan kepemilikan lahan atau pekarangan yang luas. Pemanfaatan pekarangan, erat kaitannya dengan usaha mencapai ketahanan pangan warga, dimulai dari skala paling kecil, yaitu rumah tangga. System aquaponik, adalah cara mensiasati pemanfaatan lahan sempit pekarangan.

 

Yakni, sebuah alternatif menanam tanaman dan memelihara ikan dalam satu wadah. Simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) terjadi pada sistem aquaponik ini. Tanaman akan memanfaatkan unsur hara yang berasal dari kotoran ikan, yang apabila dibiarkan di dalam kolam akan menjadi racun bagi ikan. Selanjutnya, tanaman akan berfungsi sebagai filter yang akan mengurai zat racun tersebut menjadi zat yang tidak berbahaya bagi ikan. Dengan demikian suplai oksigen pada air, dapat digunakan untuk memelihara ikan.

 

Tiga organisasi difabel Kabupaten Purworejo telah mengaplikasikan sistem tersebut. Bertempat di pekarangan Amat Slamet, Ketua organisasi difabel Butuh, lahan sempit miliknya disulap menjadi lahan bernilai ekonomi. Minimal dapat mengurangi anggaran belanja rumah tangga para anggota organisasi tersebut.

 

Pusat Rehabilitasi Yakkum (PRY), dengan program agrilabnya bekerja sama dengan pelaku budidaya aquaponik setempat, telah berhasil menstimulasi anggota DPO Butuh, DPO Kutoarjo dan DPO Grabag. Sebuah prototipe dibangun dan dikembangkan dalam upaya memberikan pengetahuan bagaimana berbudidaya tanam aquaponik. “Keberhasilan sistem aquaponik ini, pada masa mendatang akan dapat memenuhi tercapainya ketahanan pangan anggota organisasi,” Ujar Rita, Ketua Agrilab Program Yakkum.

 

Teknik budidaya

Januari 2021 budidaya auquaponik dimulai. Slamet dan  anggota tiga DPO, menyiapkan kolam berukuran 2 x 3 meter, diisi ikan nila. Di atasnya dipasang paralon, didesain dengan lubang-lubang tanam pada bagian atas.  Paralon akan dialiri air setiap saat, sehingga tanaman selalu segar dan tidak layu. Ujung paralon dipasang selang, sebagai media mengalirkan air ke kolam ikan. Berbagai jenis tanaman sayur ditanam pada lubang paralon. Diantaranya: kangkung, sawi hijau, cabe, tomat, terung. Ada juga tanaman mint pada sistem aquaponik yang dikembangkan di Desa Lubang Lor, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purwojejo ini.

 

Simpel, tekstur lembut

Kotoran ikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Dengan sendirinya produk yang dihasilkan merupakan produk organik. Karena hanya menggunakan pupuk dari kotoran ikan yang telah melalui proses biologis. Produk atau hasil panen organik, tentu saja lebih sehat jika dikonsumsi.

 

Selain hanya membutuhkan lahan sempit, budidaya sistem aquaponik cocok dikembangkan di daerah-daerah kering dengan ketersediaan air minim. Alat dengan sistem pompa sedot dan alir yang dipasang, tidak menuntut air harus diisi setiap saat. Sirkulasi sedot dan alir itulah yang akan menghidupi ikan dan tanaman sayuran yang ada.

 

Sifatnya yang berkelanjutan, perpaduan tanaman dan ikan ini bisa bertahan 5 sampai 6 bulan. Menurut Daliyanti, salah seorang anggota DPO Kutoarjo, mengungkapkan bahwa pemeliharaan aquaponik sangat mudah. Tidak memerlukan penyiangan, terbebas dari hama tanah dan tidak memerlukan penyiraman.

“Lebih cepat besar pertumbuhannya, lebih higienis, lebih cepat panen, tidak perlu mencuci bagian akar. Tekstur sayuran hasil tanam aquaponik juga lebih lembut,” terangnya.

 

Dia juga menuturkan bahwa, selain menanam dengan sistem aquaponik juga mencoba menanam di tanah. Sehingga dia memliki catatan perbandingan tanam, antara aquaponik dan tanam di tanah. “Kalau ditanam di tanah paling cepat satu bulan baru bisa panen. Sedang dengan sistem aquaponik cukup 20 hari sudah bisa dipanen. Di tanah pertumbuhannya lebih lambat. Tapi dengan aquaponik bisa lebih cepat produksi,” jelas Daliyanti.

 

Menurut perempuan paruhbaya itu, dengan aquaponik menanam jadi lebih mudah. Sedang jika menanam di tanah dia harus mencangkul terlebih dahulu, memupuk, juga harus menjaga dari serbuan ayam-ayam.

 

Berdaya dan mandiri

Sebagai seorang difabel, Daliyanti tidak ingin merepotkan orang lain. Dia ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Di masyarakat, kata dia, difabel masih sering diabaikan. Karenanya, dia ingin berusaha sendiri, ingin mandiri.

“Jika kita tidak mandiri. Siapa yang mau tahu diri kita? Jika tidak diri kita sendiri yang membantu mengatasi setiap kebutuhan kita, siapa lagi? Kita harus bela diri sendiri, jika tidak siapa yang akan membela kita? Perut ini butuh pembelaan. Maka kita harus belajar banyak, agar bisa mendiri dan tidak diremehkan,” perempuan berhijab itu menyemangati diri dan kawan-kawannya.

 

Baginya, teknik tanam aquaponik ini sangat memungkinkan bagi dirinya dan difabel lain bisa mandiri. Soal modal akan ringan jika  antar anggota bisa saling bantu. Semacam arisan. Sebulan sekali mengiur, dan yang namanya keluar, dialah yang akan dibuatkan model tanam aquaponik.

 

Minimal dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Syukur-syukur hasil panen bisa dijual, jadi bisa punya uang tabungan. Lebih menarik lagi karena aquaponik bisa dikembangkan oleh siapa saja. Sepanjang punya waktu, punya niat pasti bisa. Apalagi bibit tanaman juga terjangkau harganya. Demikian bincang-bincang dengan Daliyanti.

 

Inklusi sosial

Pada saat yang sama, Ketua DPO Butuh Amat Slamet juga menuturkan bahwa budidaya aquaponik perlu ditambahkan atap. Sebab, saat hujan deras mengguyur, maka nutrisi tambahan akan hilang. Hilangnya nutrisi berakibat tanaman tidak tumbuh subur sebagaimana saat belum turun hujan.

 

Atap plastik trasparan, adalah inisiatif yang akan ditambahkannya. “Agar sinar matahari tetap bisa sampai pada tanaman dan kolam, maka atap plastik transparan perlu ditambahkan. Hal ini untuk menghindarkan hilangnya nutrisi tambahan yang dimasukkan ke air kolam. Atap dipasang melengkung, sehingga air akan langsung turun, tidak membebani atap,” paparan Slamet.

 

Menurut dia, sistem aquaponik itu cukup menarik perhatian warga sekitar. Banyak warga yang berkunjung dan ingin tahu apa dan bagaimana berbudidaya aquaponik. Bahkan banyak pula yang tertarik ingin berbudidaya tanam aquaponik. Tetapi sebagaian masih menahan keinginannya, mengingat modal yang dibutuhkan cukup besar.  

“Kami malah jadi sumber belajar bagi warga. Ini menyenangkan, karena dengan sendirinya inklusi sosial terbangun dengan adanya budidaya tanam sistem aquaponik,” terang Slamet, Maret 2021.[]

 

 Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor       : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.