Lompat ke isi utama
Widodo sedang mengenakan sarung dan mempersiapkan dagangan martabaknya

Suka Duka Widodo Mencari Nafkah Semasa Pandemi

Solider.id,Yogyakarta – di salah satu sudut gang sempit  Jalan Magelang Yogyakarta. Pagi-pagi itu terlihat seorang pria paruh baya dengan kruknya tampak sedang menyiapkan dagangannya di teras rumah. Ketika hari menjelang siang, anak-anak kecil yang biasa bermain di gang tersebut, mulai menghampiri si pria itu untuk membeli dagangannya. Pria tersebut bernama Widodo (41).

 

Widodo  adalah seorang ayah dari satu orang anak berumur 5 tahun. Kini Widodo bekerja sebagai penjual martabak mini. Sang istri dan anaknya tinggal dan menetap di Sragen, sedangkan Widodo harus berjuang di Jogja untuk menghidupi keluarganya.

 

Baca Juga:  Arifin: Kreatif dan Inovatif jadi Modal Bertahan saat Pandemi

 

Saat ditemui solider.id di warungnya, Senin (1/3), Widodo mengaku sejak lahir merupakan seorang difabel daksa. Awal tahun 2016, ia mulai bekerja sebagai penjual martabak mini di Kota Solo selama setahun setengah. Lalu memutuskan untuk pergi ke Jogja di tahun 2017 untuk bekerja di Warung Sop Ayam Pak Min Klaten, Jalan Wonosari. Di warung tersebut, ia bekerja sebagai tukang masak. Namun kini  kontraknya sudah habis.

 

“Saya sangat bersyukur waktu itu mendapat pekerjaan. Walaupun gajinya hanya Rp50.000,- per hari. Namun sudah cukup untuk menghidupi saya dan keluarga,” tuturnya.

 

Lebih lanjut, Widodo menceritakaan bahwa saat pandemi melanda Indonesia pada pertengahan maret tahun lalu, warung tempatnya bekerja tadi mengalami kemerosotan omzet yang signifikan. Alhasil, ia harus rela untuk diberhentikan dari pekerjaannya.

 

Dua bulan lamanya pasca diberhentikan, selama itu pula Widodo tak memiliki pemasukan sama sekali. Bingung dan sedih dirasakannya. Apalagi dengan statusnya sebagai tulang punggung keluarga, ia justru tak mampu berbuat banyak.

 

Setelah diterpa kondisi demikian, kemalangan masih menimpa Widodo tatkala dirinya mencoba menuntut haknya akan bantuan sosial covid-19 di daerah tempat tinggalnya. Ia ditolak lantaran dirinya adalah seorang perantau. Akibat hal tersebut, ia mengaku tidak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah, bahkan hingga saat ini.

 

Widodo merasa dilema kala itu. Ia ingin pulang untuk berjumpa dengan keluarga di kampung halamannya, tetapi tidak bisa lantaran uang yang tidak mencukupi. Entah itu uang untuk perjalanan pulang ataupun keperluan keluarganya.

 

Baca Juga: Tantangan Difabel Netra Lulus Ditengah Pandemi

 

Harapan muncul ketika Widodo mendapat informasi dari salah seorang teman mengajinya mengenai dana bantuan dari karyawan SGM (perusahaan susu formula). Ia langsung saja mengajukan permohonan untuk membangun sebuah usaha. Beruntung, permohonan itu disetujui sehingga cukup membuat dirinya bernafas lega.

 

Masalah baru muncul manakala Widodo harus mencari tempat untuk dirinya berjualan. Hal itu disebabkan dana yang diterimanya dari SGM hanya mencukupi untuk modal membeli alat dan bahan saja, tidak ada sisa untuk menyewa warung atau toko.

 

Akan tetapi, keberuntungan kembali menghampiri Widodo. “Saya harus bersyukur lagi mas karena saya mendapat pinjaman rumah secara cuma-cuma dari ustad saya saat ngaji di Sagan. Memang rumahnya sudah tua dan lama tidak ditinggali. Namun sudah menjadi kewajiban saya untuk membersihkannya dan merawatnya, hingga kini telah menjadi tempat saya untuk berjualan martabak mini,” terangnya dengan nada bahagia.

 

Pengalamannya saat berjualan martabak mini di Kota Solo menjadi alasan utamanya membangun usaha tersebut di Jogja. Terlebih dirinya sudah memiliki keterampilan yang cukup untuk membuat martabak mini.

 

Kendati demikian, situasi pandemi tampaknya harus membuat Widodo kembali bersabar. Hal itu manakala omzet penjualan per harinya hanya sekitar Rp70.000,- dengan harga per martabaknya hanya Rp1.500,-. Berbeda jauh saat dirinya masih berjualan di Kota Solo yang omzetnya bisa mencapai Rp200.000 per harinya. Oleh karena itu, ia juga membuka pesanan martabak mini dan usaha cathering kecil-kecilan, seperti snack ataupun nasi kotak untuk menambah pendapatannya.

 

Kendala lain harus dihadapi Widodo adalah terkait kondisi fisiknya. Ia sudah tidak mampu berjalan jauh lagi. Beberapa ratus meter saja dirinya berjalan pasti sudah merasa kelelahan. Akibatnya, ia tak mampu lagi kalau harus membeli bahan baku di pasar. Hal itu karena akses parkir menuju kios bahannya relatif jauh. Akhirnya, ia memilih untuk membeli bahan baku martabak mini di toko modern yang cenderung lebih mahal jika dibandingkan di pasar, tetapi aksesnya lebih dekat.

 

Selain karena jarak, Widodo memilih hal tersebut karena semua dilakukannya sendiri. Ia tidak memiliki karyawan karena memang tidak memilki biaya untuk membayarnya. Dari membeli bahan, memasak, hingga menjual semua dirinya lakukan sendiri. Tenaganya sudah tidak mencukupi jika harus bersusah payah membeli bahan di pasar.

 

Walaupun tidak seberapa, secara rutin Widodo menyisihkan keuntungan yang diperolehnya untuk dikirimkan ke istri dan anaknya.  Hal itu  bentuk tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Beruntung keluarganya dapat mengerti dan memahami keadaannya tersebut.

 

“Saya hanya mampu berharap dan berdoa agar situasi dapat kembali normal. Dengan demikian, saya dapat segera pulang ke Sragen untuk melepas rindu dengan istri dan anak,” tutupnya.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.