Lompat ke isi utama

Pengalaman Orang Tua Besarkan Anak Difabel

Solider.id - Sabtu 27 Februari, Atamerica menyelenggarakan diskusi yang berjudul “Inklusion 101: Love Beyond Limitation.” Diskusi ini menghadirkan orangtua dari beberapa anak difabel untuk menceritakan pengalamannya dalam membesarkan anak-anak difabel. kegiatan ini menghadirkan Reni Indrawati orangtua anak cerebral palsy, Primaningrum orangtua anak difabel netra, dan Susanti Mayangsari orangtua anak Tuli sebagai pembicara, serta di moderator oleh Irvandias Sanjaya co-founder Semua Tidak Berjarak.

 

Reni Indrawati menceritakan bahwa ketika menjadi orangtua anak difabel, dirinya juga tidak terbebas dari peran untuk mengedukasi publik mengenai anak difabel. ia harus menjelaskan mengenai kondisi anaknya yang merupakan difabel cerebral palsy. Ia memberitahukan kepada orang-orang disekitarnya bahwa cerebral palsy yang dialami oleh anaknya disebabkan karena virus, dan setiap orang pun memiliki risiko untuk menjadi difabel. “tentu berbeda caranya ketika menjelaskan kepada kalangan yang berpendidikan dan yang tidak.” Jelas Reni 27/02/2021.

 

Baca Juga: Teliti Penerimaan Orangtua Difabel, M. Anshari Raih Gelar Doktor

 

Hal yang sama juga ia lakukan ketika dirinya mendampingi putranya yang belajar di  sekolah inklusi setiap harinya. Terkadang ia perlu menjelaskan kepada teman-teman sebaya anaknya, mengapa sang anak harus didampingi setiap hari. Ia mengungkapkan juga bahwa anaknya cukup beruntung karena dapat mengakses pendidikan secara inklusif, sehingga dapat mengenal kondisi masyarakat yang heterogen.

 

Hal senada juga disampaikan oleh Susanti Mayangsari yang memiliki anak Tuli. Baginya, hal ini justru menjadi kesempatan bagi dirinya untuk mengedukasi publik mengenai difabel. “saya jelaskan kepada orang-orang bahwa kondisi anaknya disebabkan karena terinfeksi virus ketika proses kelahiran, bukan karena kutukan.” Ungkap ibu yang memiliki anak Tuli berusia 5 tahun ini.

 

Susanti melanjutkan, bahwa perkembangan anak difabel yang cenderung malu untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, biasanya disebabkan karena orangtuanya lebih sering menyembunyikan anaknya dirumah. “kalua anak saya, akan saya bawa kemana-mana, agar mengenal masyarakat yang heterogen.” Tambah Susanti.

 

Susanti sendiri cukup senang dengan pertumbuhan putrinya saat ini. Hal itu karena, putrinya dapat berinteraksi dengan baik dengan orang lain. Sebagai contoh, ketika ia membawa anaknya menjalani terapi, putrinya dapat bermain dengan anak-anak lain yang nondifabel. “anak-anak yang lain tahu, ketika ingin mengajak berkomunikasi Selina harus disentuh, bukan berteriak.” Ungkapnya kemudian.

 

Rencananya dalam waktu dekat ia perlu melakukan assessment psikologis bagi anaknya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui anaknya untuk belajar di sekolah inklusif.

           

Sedangkan Primaningrum yang mempunyai anak difabel netra, mengakui bahwa dirinya tak terlalu menemui hambatan berarti. Sejak kecil, putrinya yang kini menginjak masa remaja telah dapat belajar di sekolah inklusi. “kebijakan pemerintah DKI Jakarta yang mengatakan tidak boleh ada penolakan terhadap anak difabel disetiap sekolah membantu sekali.” Ucap Primaningrum.

 

Putrinya dapat mengikuti pembelajaran disekolah dengan lancer. Ini karena adanya kemajuan teknologi, yang memungkinkan putrinya menggunakan perangkat teknologi seperti laptop dan smartphone dengan dukungan aplikasi pembaca layar.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.