Lompat ke isi utama
Ilustrasi perempuan berkulit putih (Dibuat dari sumber: freepik)

Persekusi dan Diskriminasi Terhadap Orang dengan Albinisme

Solider.id,- Kondisi langka, tidak menular dan diwariskan secara genetik kepada orang-orang, baik laki-laki dan perempuan dengan albinisme, menimbulkan stigma negatif, persekusi dan diskriminasi.

 

Stigma negatif yang melekat, tumbuh turun temurun beserta mitos-mitos yang menyertainya. Negara dengan jumlah populasi albino terbanyak ada di benua Afrika, masih mempercayai keberadaaan orang albino sebagai salah satu fenomena “mistis” yang berhubungan dengan African Great Lakes. Tubuh orang albino dipercayai mengandung sihir, menambah pengucilan dan eksklusi sosial.

 

Sejak seorang ibu dengan albinisme mengandung, ia sudah menerima diskriminasi dan stigma dari masyarakat sekitarnya. Alih-alih membuat lingkungannya lebih menerima dan ikut mengakomodasi aksesibilitas orang albino, justru diskriminasi tersebut masih terus diterima karena anak yang dikandungnya.

 

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Orang Dengan Albinisme

 

Di kawasan Afrika Timur bahkan terjadi penyerangan dan pembunuhan bayi atau infanticide. Mitosnya, tubuh anak albino dianggap sebagai kutukan dari dewa dan bagian tubuhnya memiliki kekuatan magis yang dapat membawa keberuntungan. Beragam kasus penghilangan organ tubuh dan penyerangan, anak-anak yang paling banyak menjadi korban. Menurut laporan dari Human Rights Council UN Assembly, 10 January 2017, terdapat lebih dari 600 kasus penyerangan terhadap orang albino yang terjadi di 26 Negara.

 

Mitos albbinisme juga ada di Indonesia, di sebuah desa bernama Ciburuy, Jawa Barat. Orang dengan albino disebut sebagai “Walanda Sunda” atau orang sunda berkulit putih. Seorang warga di desa itu mengisahkan bahwa ratusan tahun lalu, seorang pria berkulit putih datang ke desa. Si Pria berklulit putih itu menyentuh seorang perempuan yang tengah hamil. Ketika perempuan itu melahirkan, anaknya berambut pirang dan berkulit putih. Sejak saat itu, lahirlah anak-anak berkulit putih di desa Ciburuy. Sampai saat ini, mitos tersebut masih bercokol bagi orang-orang di desa Ciburuy dengan menanggung stigma dan diskriminasi dari lingkungan sosialnya.

 

Tantangan menghadapi persekusi dan diskriminasi masih terjadi seiring dengan anak itu tumbuh dewasa. Kurangnya melanin oleh orang albino mengakibatkan kerentanan kesehatan, khususnya rentan terkena kanker kulit. Namun begitu, hal tersebut tetap bisa dicegah dengan mengakomodasi kebutuhan cek kesehatan, tabir surya, penggunaan kacamata hitam dan pakaian pelindung dari sinar matahari.  Beberapa negara dengan populasi besar orang albino seperti Tanzania dan Burundi, menyediakan tabir surya yang cocok dipakai oleh orang albino. Negara, dalam hal ini pemerintah negara tersebut, bekerja sama dengan Lembaga nonpemerintah dan swasta untuk memproduksi dan mendistribusikan produk tabir surya dan pakaian pelindung matahari.

 

Gangguan penglihatan low vision yang dialami oleh orang albino otomatis juga memengaruhi akses mereka terhadap teks-teks. Akses Pendidikan jadi salah satu hak dasar orang dengan albino untuk mempunyai kesempatan yang sama. Di negara-negara dengan banyak populasi albino, menciptakan ruang bagi anak albino yang aman jadi concern tersendiri. Tidak hanya tentang persekusi dan ejekan teman-teman sekolah (dan bahkan guru), tapi ancaman penyerangan terhadap anggota tubuh orang albino jadi perhatian.

 

Baca juga: World Sight Day 2020 Mengenal Moderate and Severe Visual Impairment

 

Di Afrika, keluarga memilih menyekolahkan anak yang bukan albino, daripada anak dengan albino, karena mitos kerentanan yang dihadapi lebih besar. Padahal, berbedanya kondisi kulit dan penglihatan yang dialami oleh albino tidak berpengaruh terhadap kemampuan kognitifnya.

 

Menurut salah satu organisasi nonpemerintah internasional yang ada di Tanzania, Standing voice, di Tanzania, hanya setengah dari anak-anak dengan albino yang menyelesaikan sekolah dasar dan hanya 10% yang mengakses sekolah menengah. Tingkat Pendidikan yang masih rendah ini otomatis membawa kepada kesenjangan hak hidup yang lebih besar seperti standar hidup yang tidak layak, minimnya akses terhadap kesempatan kerja dan kemiskinan struktural yang terus berlanjut.[]

 

 

Penulis: Brita Putri Utami

Editor: Robandi

 

Sumber:

JUJU CHANG and VICTORIA THOMPSON, 28 December 2017, 21:36 Tanzanian children with albinism, hunted for their body parts, receive prosthetic limbs and a new lease on life - ABC News (go.com) diakses pada 25 Juni 2021

2017 Report - Witchcraft and the human rights of persons with albinism -  A/HRC/34/59 https://daccess-ods.un.org/TMP/3163152.33707428.html

Ross Velton, The ‘silent killer’ of Africa’s albinos, 25th April 2017 , BBC, https://www.bbc.com/future/article/20170425-the-silent-killer-of-africa… diakses pada 20 Juni 2021

Charlotte Baker, Children with albinism find it hard to navigate school. Teachers can help

November 21, 2018 8.51pm WIB

https://theconversation.com/children-with-albinism-find-it-hard-to-navigate-school-teachers-can-help-107108  diakses pada 22 Juni 2021

Standing Voice (www. standingvoice.com/albinism)

https://www.abc.net.au/indonesian/2018-04-23/kisah-walanda-sunda-di-kampung-albino-ciburuy/9687134 diakses pada 26 Juni 2021

The subscriber's email address.