Lompat ke isi utama
beberapa peserta yang tampak dalam diskusi kembali bekerja bagi difabel netra

Program Kembali Bekerja: Harapan Difabel Netra Kembali Bekerja

Solider.id,Yogyakarta - Yayasan Mitra Netra menggelar bincang daring bertema “Progran Kembali Bekerja Untuk Sahabat Tuna Netra”, kamis (25/2) lalu. Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Rini Kustiani selaku Redaktur Utama Tempo Media, Cheta Nilawaty selaku jurnalis difabel netra di Tempo Media, serta Isnavodiar Jatmiko, selaku Deputi Direktur Pelayanan dan Pengembangan Kanal BP Jamsostek.

Program Kembali Kerja (Return to Work) sendiri merupakan program yang diinisiasi oleh Yayasan Mitra Netra dalam rangka mengakomodasi orang yang menjadi seorang difabel saat dirinya bekerja. Hal itu sesuai dengan hak-hak pekerjaan bagi seorang difabel yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016.

Program Kembali Kerja penting karena tidak menutup kemungkinan seorang pekerja akan menjadi seorang difabel netra, entah karena penyakit ataupun kecelakaan. Program ini biasanya diawali dengan melalukan assessment, layanan konseling, dan dilanjutkan dengan berbagai macam pelatihan.

Salah satu contohnya seperti pengalaman Cheta saat mengikuti Program Kembali Bekerja dulu. Dirinya mengaku telah 13 tahun menekuni profesi sebagai seorang jurnalis. Adapun momen saat dirinya menjadi difabel netra yaitu pada tahun 2016 di usia 34 tahun, pasca operasi ablasio retina. Saat itu ia berpikir bahwa dirinya sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk melanjutkan karir jurnalistiknya dikarenakan kondisi difabel yang dialami.

Cheta bersyukur pihak Tempo merespon baik kala itu dengan memberikan kesempatan untuk melakukan adaptasi terhadap kondisi barunya. Beruntungnya lagi, ia juga mendapatkan informasi dari salah seorang kerabatnya mengenai keberadaan Yayasan Mitra Netra yang dapat memberikan pendampingan serta pelatihan bagi difabel netra baru. Ia lantas mencari informasi lebih lanjut mengenai Yayasan Mitra Netra melalui internet.

Tepatnya pada bulan oktober tahun 2016, Cheta mulai menempuh pelatihan di Yayasan Mitra Netra. Awalnya, ia banyak menemui kendala saat menempuh pelatihan mengoperasikan gadget. “Saya masih belum begitu familiar dengan aplikasi pembaca layar, baik pada komputer maupun gawai, sehingga mengharuskan saya untuk terus berupaya menyesuaikan diri sekitar dua bulan. Untungnya, saya sudah punya modal yang cukup untuk mengetik dengan aplikasi word. Hal itu sangat membantu saya dalam pelatihan itu,” tuturnya.

Cheta menilai bahwa pelatihan yang diberikan oleh Yayasan Mitra Netra tidak hanya sebatas hardskill saja. Namun pelatihan lain untuk membentuk kemandirian seorang difabel netra juga diberikan. Seperti cara menggunakan white cane untuk berjalan, bagaimana mengenali medan di lokasi baru, dan sebagainya.

Hal lain yang membuat Cheta bersyukur adalah dukungan moral yang diberikan oleh rekan-rekannya di Tempo. Termasuk para Redaktur Tempo juga turut mendukung kiprah Cheta di dunia jurnalistik, tanpa membebani sesuatu di luar kemampuannya. “Tempo memberikan kelonggaran waktu kepada saya selama masa pelatihan di Yayasan Mitra Netra,” ungkapnya.

Cheta menggarisbawahi poin penting bahwa ekosistem tempat kerja si difabel dan lembaga pendampingan seperti Yayasan Mitra Netra, memiliki peran yang sama. Hal itu yakni dalam mendukung si difabel agar dapat menyesuaikan diri terhadap kondisinya. Dukungan tersebutlah yang pada akhirnya membuat si difabel kembali memiliki kompetensi di tempat kerjanya dan membuatnya bisa kembali bekerja.

Rini Kustiani, Redaktur Utama Tempo Media, membenarkan apa yang disampaikan oleh Cheta. Ia menjelaskan bahwa pada prinsipnya Tempo menilai setiap karyawannya sebagai sebuah aset yang senantiasa perlu dijaga. Maka dari itu, saat mengetahui kondisi Cheta waktu itu, Tempo memutuskan memberikannya waktu untuk beradaptasi dan berdamai dengan kondisinya saat itu.

“Adanya kasus yang dialami oleh Cheta, sedikit banyak membuat Tempo belajar bagaimana memberikan keputusan yang lebih afirmatif. Sebab kondisi semacam itu tidak menutup kemungkinan juga bisa terjadi pada karyawan lain,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.