Lompat ke isi utama
tanggapan dari Anggiasari saat diskusi sedang beerlangsung

Representasi Difabel Dalam Program Vaksin Covid-19

Solider.id – Program vaksinasi nasional untuk memerangi pandemic Covid-19 di Indonesia telah dimulai sejak awal 2021 ini. Pemerintah mengajak sejumlah influencer ternama sebagai kelompok awal penerima vaksin ini sebagai upaya mengajak masyarakat untuk mau divaksin. Arif Maftuhin, pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga menyatakan bahwa strategi ini tidaklah tepat. Hal ini ditegaskannya dalam Forum Diskusi Denpasar 12 pada Rabu (24/2).

Alih-alih mengandeng influencer yang ternyata tidak efektif. Dia menyatakan akan lebih baik jika pemerintah melakukan kampanye dan edukasi dengan cara yang tepat. Salah satunya bisa dengan menggandeng representasi Difabel untuk mengkampanyekan program ini.

Forum Diskusi Denpasar 12 merupakan diskusi rutin dengan mengangkat tema berbeda. Kegiata merupakan forum diskusi yang diprakarsai oleh Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat. Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Irwansyah, Kepala Litbang Media ini mengambil judul “Covid dan Vaksin: Inklusivitas Difabel”.

Kelompok Invisibel

Arif Maftuhin menyatakan bahwa Difabel merupakan salah satu kelompok yang saat ini keberadaannya belum tampak dalam berbagai program yang dilaksanakan oleh pemerintah. Dalam program vaksin, ada banyak pertanyaan yang kemudian muncul terkait keamanannya ketika disuntikkan pada Difabel. Dan pertanyaan ini belum mendapatkan respon yang semestinya.

Banyak kekhawatiran mengenai keamanan vaksin karena sejak awal pengkajian di masa pandemic hingga penciptaan vaksin Difabel tidak pernah ada. Menurut akademisi yang juga menjabat sebagai Editor in Chief Journal of Disability Studies ini keamanan vaksin bagi Difabel masih belum terjamin karena tidak melibatkan relawan Difabel dalam proses uji coba vaksin ini. Padahal Difabel memiliki posisi yang rentan, yang terjadi ada banyak Difabel yang sudah terinfeksi oleh Covid-19, terutama mereka yang tinggal di panti-panti.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Difabel adalah kelompok yang rentan dalam situasi darurat kesehatan[1]. Hambatan institusi, lingkungan dan perilaku semakin besar, dan hambatan baru yang muncul pada situasi darurat kesehatan semakin membatasi Difabel baik dalam menikmati kehidupan, mendapat layanan kesehatan maupun dalam menjalani kemandirian.

Sejumlah studi juga menunjukkan beberapa jenis Difabilitas, seperti Difabel intelektual, ketika terinfeksi virus ini kondisinya jauh lebih parah. Sementara di sisi lain, ketika harus menjalani perawatan di rumah sakit, sistem layanan kesehatan yang ada belum mampu mengakomodasi kebutuhan Difabel.

Sebagai Standar Meyakinkan Masyarakat

Tidak hanya Difabel saja, banyak orang yang masih ragu-ragu dan mempertanyakan keamanan vaksin Covid-19. Untuk itu, upaya kampanye yang dilakukan oleh pemerintah perlu disertai dengan upaya edukasi untuk meyakinkan masyarakat. Upaya edukasi ini, sekali lagi perlu dilaksanakan dengan mempertimbangkan aksesibilitas informasi sehingga menjangkau kelompok Difabel.

Anggiasari Puji Aryani yang ikut hadir sebagai pembicara dalam Forum Diskusi Denpasar 12 menyatakan bahwa representasi Difabel dalam program vaksin bukan hanya berguna untuk meyakinkan Difabel saja. Lebih jauh dia menjelaskan bahwa imbas dari efektivitas vaksin bagi kelompok rentan seperti Difabel akan mampu meyakinkan masyarakat.

“Melibatkan representasi Difabel ini menjadi kampanye yang lebih efektif, masyarakat akan lebih percaya jika vaksin ini saja aman untuk Difabel, logikanya vaksin ini juga aman untuk masyarakat,” papar pegiat Difabel yang saat ini juga menjadi Staf Ahli Wakil Ketua MPR RI ini.

Lebih jauh dia menyatakan bahwa representasi Difabel merupakan sebuah langkah strategis yang perlu diambil oleh pemerintah dalam mengikis stigma. Ini bisa menjadi bukti bahwa Pemerintah Indonesia serius dalam menempatkan Difabel dalam pembangunan, sesuai dengan amanat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).[]

 

Reporter: Ida Putri

Editor     : Ajiwan Arief

 

[1] Disarikan dari Recommendations on Accessing Covid-19 Vaccinations yang dikeluarkan oleh International Disability Alliance (IDA)

The subscriber's email address.