Lompat ke isi utama
UMKM Difabel

Agar Difabel Pelaku UMKM Bertahan dari Dampak Pandemi

Tak hanya bisa bisa mengakses kredit bunga murah seperti KUR dan Kupedes, perbankan juga berkomitmen membuka pintu bagi difabel pelaku UMKM agar terjaring dalam program tanggung jawab sosial perusahaan mereka.

 

Solider.id, Yogyakarta- Meski kondisi perekonomian terpuruk akibat gempuran pandemi Covid 19 setahun terakhir, namun, para difabel pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) bisa sedikit bernafas lega. Pasalnya, lembaga keuangan, dalam hal ini bank, punya komitmen untuk tetap mendukung mereka. 

 

Bagi para difabel di Yogyakarta, layanan perbankan disediakan oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). 

 

“BRI telah membiayai para pelaku UMKM di Yogyakarta termasuk di dalamnya adalah pelaku UMKM difabel yang telah dibiayai dengan skema kredit usaha rakyat (KUR) mikro maupun kredit usaha pedesaan (Kupedes),” tutur Sekretaris Perusahaan Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto kepada Solider, Senin (19/4). 

 

Menurut Aestika, saat ini dari 60 juta nasabah BRI, 18 juta di antaranya adalah UMKM termasuk pelaku UMKM Difabel. Angka ini diproyeksikan akan terus naik seiring dengan pemulihan ekonomi. Untuk itu BRI berkomitmen untuk terus memberikan dukungan. 

 

Komitmen BRI mendukung pelaku UMKM difabel diimplementasikan dengan berbagai cara. Di antaranya pendampingan oleh tenaga marketing sekaligus berperan sebagai financial advisor. Selain itu, BRI juga merancang program pelatihan bekerja sama dengan Rumah BUMN bagi debitur difabel, untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan. 

 

Hal itu bertujuan agar para difabel bisa mengembangkan usaha dengan standarisasi mutu produk, modernisasi proses bisnis dan memperluas potensi penjualan melalui digitalisasi pemasaran.

Lantas, bagaimana jika ada masalah UMKM difabel yang terjerat kredit macet? Jika hal itu terjadi, Aestika menyatakan pihak BRI akan memberikan opsi restrukturisasi kredit bagi debitur yang usahanya terdampak pandemi, yang menurut penilaian dan analisa bank masih mempunyai prospek usaha. 

 

“Selain itu juga akan dilihat apakah mereka mempunyai iktikad/karakter yang yang baik sehingga debitur mempunyai kesempatan untuk mempertahankan dan menata kembali usahanya,” dia mengungkapkan. 

 

Aestika menegaskan BRI akan berperan dalam upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional. Sebagai bank yang berfokus pada pemberdayaan UMKM, BRI secara konsisten melakukan upaya penyelamatan dan membangkitkan pelaku UMKM termasuk masyarakat difabel akibat dampak dari pandemi Covid-19. 

 

“Secara total, BRI telah berhasil menyalurkan subsidi bunga kredit bagi debitur UMKM senilai Rp5,46 triliun. Jumlah ini setara 76,6 persen dari realisasi penyaluran subsidi bunga kredit bagi UMKM secara nasional yang berjumlah Rp7,12 triliun,” ujar Aestika.   

 

Sementara itu, tentang restrukturisasi kredit yang diberikan BRI kepada para debitur terdampak Covid-19 mencapai Rp218,6 triliun, dengan total peminjam terdampak sebanyak 2,8 juta. 

 

Perhatian BRI bagi UMKM agar segera bangkit dari dampak pandemi, menurut Aestika, juga tercermin dari penyaluran Program Skim bunga rendah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro dan Super Mikro yang secara total telah mencapai Rp125,44 triliun. 

 

 

 

Tanggung jawab sosial 

 

Aestika menjelaskan BRI berkomitmen untuk terus mengedepankan pelayanan kepada masyarakat tidak hanya ditunjukkan melalui aktivitas bisnis perbankan, tetapi juga melalui pelaksanaan tanggung jawab sosial kemasyarakatan. 

 

Tanggung jawab sosial BRI diwujudkan dalam bentuk program bina lingkungan yang pelaksanaannya di bawah payung Program BRI Peduli. Program ini mengacu pada konsep 3P (pro people, pro planet, pro profit), yang merupakan pilar utama dalam membangun bisnis berkelanjutan. 

 

BRI mengimplementasikan ketiga konsep tersebut ke dalam 7 (tujuh) sektor bantuan BRI Peduli. Yakni pertama, Indonesia Peduli, fokus pada sektor bantuan bencana alam dan bencana non alam, termasuk yang disebabkan oleh wabah. 

Kedua, Indonesia Cerdas merupakan sektor bantuan pendidikan, dapat berupa pelatihan, prasarana dan dan sarana pendidikan. Ketiga, Indonesia Sehat yang berfokus pada sektor peningkatan kesehatan.

Keempat, Indonesia Membangun, sektor bantuan pengembangan prasarana dan/atau sarana umum. Kelima, Indonesia Takwa, sektor bantuan sarana ibadah. Keenam, Indonesia Lestari, sektor bantuan pelestarian alam, serta ketujuh, Indonesia Sejahtera, sektor bantuan sosial kemasyarakatan untuk pengentasan kemiskinan. 

 

“Semua program tersebut dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, selama masih dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masyarakat bisa mengajukan program Bina Lingkungan kepada BRI, dengan ketentuan yang berlaku, termasuk bagi warga masyarakat difabel,” Aestika memaparkan.  

 

Di lain pihak, Richele Maramis, Head of Corporate Affairs PT Bank Permata Tbk (Permata Bank), mengatakan, saat ini pihaknya belum memiliki nasabah UMKM difabel, termasuk di Yogyakarta. Akan tetapi, komitmen PermataBank untuk penyandang disabilitas disampaikan melalui program Permata Hati CSR (Corporate Social Responsibility). 

 

”Kami memiliki program Permata BRAVE (Because EveRyone is Able and Creative) yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas dan difokuskan untuk meningkatkan literasi keuangan mereka agar dapat bijak mengelola uang dan mandiri finansial, “ujar Richele ketika dihubungi melalui aplikasi percakapan media sosial WhatsApp, Jumat (16/4). 

Dia menambahkan pihaknya juga berfokus dalam memberikan layanan bagi penyandang disabilitas sesuai ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan atau POJK No.1 tahun 2013 tentang perlindungan konsumen sektor jasa keuangan, yang ditujukan untuk memberikan kemudahan bagi penyandang disabilitas dalam pelayanan dan kriteria perbankan.[] 

 

 

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.