Lompat ke isi utama
Drh Didik Yudianto (kanan, berkaus putih)

Drh Didik Mengabdi Dari Pelosok Desa

Solider.id, Madiun – Kecintaan Didik Yudianto pada dunia pertanian dan peternakan membuatnya kembali dan mengabdi di kampung halamannya. Dokter hewan ini sukses mempimpin kelompok Difabel di Desa Sidomulyo, Dukuh Kedung Gong, Kecamatan Wanaasri, Kabupaten Madiun.

Di bawah program Australian Alumni Grant Scheme (AGS), Didik dan kelompok Difabel di desa itu sukses mengelola limbah pertanian dan peternakan untuk mengembangkan usaha ternak kambing dan pembuatan pupuk. Kini, di kelompok tersebut sudah tergabung 41 Difabel yang berasal bukan hanya dari wilayah kecamatan Wanaasri saja, tapi sudah meluas ke beberapa kecamatan lain di Kabupaten Madiun.

Beasiswa Ke Luar Negeri

Difabel low vision ini mengaku ketertarikannya pada dunia pertanian dan peternakan berangkat dari latar belakangnya yang lahir dan besar di pedesaan. Hal inilah yang kemudian membawanya memilih bersekolah di Sekolah Pertanian Pembangunan/Sekolah Peternakan Atas (SPP/SNAKMA). Kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Bali dan meraih gelar dokter hewan.

Tidak sampai di situ, Didik kemudian mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation untuk melanjutkan pendidikan. Dia mengantongi gelar Master of Public Health dari John A. Burn School of Medicine Universitas Hawai At Manoa. Dia juga sempat melanjutkan pendidikan di Departemen Tropical Medicine, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, namun tidak sampai selesai.

Sempat aktif bekerja di organisasi masyarakat sipil, Didik juga kemudian berkesempatan terbang ke Australia selama beberapa minggu. Di sana dia bersama rekan-rekan pegiat Difabel mengikuti kursus singkat Australia Award Scholarship (AAS) yang dilaksanakan di Universitas Sydney.

Memberdayakan Difabel Di Desa

Memiliki ijazah dari sejumlah universitas terkemuka tidak membuatnya canggung turun ke desa. Dia menyatakan bahwa saat ini pegiat Difabel lebih banyak terkonsentrasi di wilayah perkotaan sehingga daerah seperti kampung halamannya luput dari perhatian.

“Tantangan terberatnya adalah menghadapi stigma masyarakat bahwa Difabel tidak bisa diberdayakan. Selain itu juga aksesibilitas di desa juga masih sangat minim,” jelasnya.

Solusi dalam menghadapi tantangan tersebut diakuainya dengan menerapkan metode pendekatan personal. Sebagai dokter hewan, dia banyak berinteraksi dengan warga yang mayoritas adalah peternak. Dari memberikan konsultasi gratis, kemudian dia mulai memperkenalkan teknologi dalam bertani dan beternak. Selanjutnya melalui program yang diampu, dia membentuk kelompok Difabel dan melakukan langkah-langkah pemberdayaan.

Dengan mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya Didik dan teman-teman sukses membangun sistem pembuatan pakan ternak olahan. Selain membuat pakan ternak olahan, dia juga mengajarkan anggota kelompok untuk membuat pupuk kompos. Ke depannya, dia berencana untuk mengembangkan instalasi biogas dengan memanfaatkan limbah peternakan. Harapannya dengan adanya instalasi biogas ini, masyarakat bisa mendapatkan energi dengan murah.

Setelah kurang lebih tujuh bulan pelaksanaan program, hasilnya adalah Difabel memiliki peningkatan pendapatan. Hal ini mendorong perubahan pola pikir masyarakat dalam memandang Difabel, sehingga lambat laun stigma mulai terkikis.

Dalam melaksanakan program pemberdayaan ini, Didik juga menggandeng sejumlah pihak terkait seperti pemerintah daerah, pelaku usaha serta masyarakat secara luas. Saat ini, masyarakat sudah mulai berfikir untuk memprioritaskan membeli ternak dari Difabel.

Membangun Desa Dengan Konsep Kearifan Lokal

Usaha gigih yang dilakukannya ini merupakan salah satu perwujudan mimpi untuk membangun desa tanpa meninggalkan konsep kearifan lokalnya. Dia melihat bahwa selama ini di desanya masih banyak potensi yang masih belum tergarap dengan baik, sehingga dengan pendekatan yang sesuai dan penggunaan teknologi yang tepat pembangunan bisa dimulai dari situ.

“Pada prinsipnya, saya lebih fokus untuk melakukan hal yang berguna untuk diri saya sendiri dan orang lain. Saya juga ingin membuktikan bahwa Difabel bukan beban pembangunan, tetapi asset pembangunan,” tambahnya.

Sementara itu, Tri Wahyu menilai positif apa yang telah dilakukan oleh Didik Yudianto. Dihubungi melalui nomor whatsapp pada Rabu (24/2) pegiat hak-asasi manusia yang aktif di Yogyakarta ini menilai Didik adalah pegiat Difabel yang sudah internasional dari sisi pendidikan, tetapi di sisi lain perjuangannya membumi. Menurut pria yang akrab disapa Mas Wahyu ini, kunci sukses dari teman akrab yang sudah dikenalnya ketika aktif di organisasi Difabel ini adalah mampu menggabungkan nilai-nilai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan Undang-Undang Desa dalam rangka memberdayakan Difabel.

“Harapan saya agar Mas Didik terus berkomitmen merangkul Difabel, termasuk Difabel muda agar perjuangan terus lestari. Jadi semakin banyak pejuang Difabel di desa yang mau bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mewujudkan Indonesia inklusif mulai dari desa,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Ida Putri

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.