Lompat ke isi utama
ilustrasi gerakan cegah stunting

Stunting dan Gerakan Pencegahannya

Teaser: Data terkini menunjukkan bahwa 1 dari 3 bayi atau sekitar 9 juta balita di Indonesia terdiagnosa stunting. Yakni kondisi yang timbul akibat kekurangan gizi berkepanjangan, yang berpengaruh pada perkembangan fisik dan otak. Jumlah kasus stunting di Indonesia mencapai 29,67%, lebih tinggi dari dari angka standar WHO yaitu 20%. 

Solider.id, Yogyakarta. Stunting. Kata ini sering kali terdengar di iklan layanan masyarakat. Bahkan banyak diperbincangkan masyarakat, khususnya para ibu dengan anak berusia bawah lima tahun (balita).

Menyelamatkan balita dari bahaya stunting, menjadi tanggung jawab bersama, antara keluarga, masyarakat dan negara. Mengapa? Stunting memiliki dampak negatif pada anak. Dampak yang terjadi bisa jangka pendek hingga jangka panjang. Anak akan mengalami gangguan tumbuh kembang pada otak. Anak menjadi mudah lupa, anak mengalami gangguan belajar, berkurang kemampuan bersosialisasi pada anak, serta berkurang kemampuan memecahkan masalah. Adalah jangka pendek yang terjadi akibat stunting.

 

Adapun dampak jangka panjang stunting di antaranya, IQ rendah dan gangguan sistem imun. Anak berperawakan pendek, anak berisiko penyakit diabetes dan kanker meningkat, kematian usia muda, serta produktifitas menurun.

 

Apa itu stunting?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting ialah gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai. Stunting merupakan  kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun). Banyak faktor menjadi penyebab. Di antaranya, kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, sakit pada bayi, serta kurangnya asupan gizi pada bayi. Tetapi, kondisi stunting baru akan terlihat saat balita berusia dua tahun. Tinggi badan balita terlalu pendek atau jauh di bawah rata-rata tumbuh kembang balita sesusianya.

 

Berdasarkan hasil Riskesdas 2018 prevalensi angka stunting sebesar 30 persen. Kemudian hasil survei status gizi balita Indonesia tahun 2019 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 27,67 persen. Ada penurunan prevalensi angka stunting. Tapi angka tersebut masih di atas toleransi WHO, yaitu 10% untuk gizi utuk dan stunting 20%. Data tersebut menunjukkan bahwa 1 dari 3 bayi atau sekitar 9 juta balita di Indonesia terdiagnosa stunting.

 

Gerakan pencegahan

Secara rutin membawa balita ke Posyandu, adalah salah satu cara yang bisa ditempuh. Dengan demikian berat badan balita terkontrol melalui pengukuran tumbuh kembang, balita mendapat makanan tambahan, orang tua dapat melakukan konseling tumbuh kembang balita. Pemerintah Indonesia cukup serius memberikan perhatian terhadap pecegahan stunting ini. Melalui pelaksana tugas pemerintah bidang pengendalian penduduk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana National (BKKN), menetapakan bulan Juni sebagai Gerakan Bulan Pemantauan Tumbuh Kembang Balita. Menghimbau seluruh orang tua menyelamatkan balita dari stunting, dengan membawa balita ke posyandu pada tanggal 1-25 Juni.

 

Gerakan penting lain yang sebaikanya diperhatikan ialah: memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil ialah poin utama. Tindakan ini relatif ampuh dilakukan untuk mencegah stunting pada anak. Karenanya, perempuan yang sedang menjalani proses kehamilan sebaiknya rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter atau bidan.

 

Memberi ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan menjadi poin berikutnya paska bayi lahir. Kandungan gizi mikro dan makro pada ASI, berpotensi mengurangi peluang stunting pada anak. Protein whey dan kolostrum yang terdapat pada ASI mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi yang terbilang rentan.

 

Selanjutnya, memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) sehat, saat bayi memasuki usia 6 bulan. Dengan memastikan makanan-makanan yang dipilih bisa memenuhi gizi mikro dan makro yang sebelumnya selalu berasal dari ASI untuk mencegah stunting.

 

Tak kalah penting, orang tua terus memantau tumbuh kembang anak. Terutama dari tinggi dan berat badan anak. Membawa balita secara berkala ke Posyandu maupun klinik khusus anak, akan lebih mudah bagi orang tua mengetahui gejala awal gangguan dan penanganannya. Serta, selalu jaga kebersihan lingkungan. Balita sangat rentan akan serangan penyakit, terutama jika lingkungan sekitar mereka kotor. Faktor lingkungan secara tidak langsung meningkatkan peluang stunting. Studi yang dilakukan di Harvard Chan School menyebutkan diare adalah faktor ketiga yang menyebabkan gangguan kesehatan tersebut. Sementara salah satu pemicu diare datang dari paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Kesadaran orang tua dengan berbagai cara pencegahan di atas, penting untuk ditegakkan. Sebab, 1000 hari pertama kehidupan anak, penting diperhatikan untuk mencegah terjadinya stunting. 1000 hari pertama kehidupan anak ialah dimulai dari 9 bulan kehamilan atau 270 hari dalam kandungan hingga 2 tahun atau 730 hari setelah lahir.

 

Pada masa tersebut, tiga kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi untuk anak. Yaitu kebutuhan fisis-biomedis (asuh), kebutuhan kasih ayang atau emosi (asih) dan kebutuhan stimulasi (asah).

 

Peran orang tua khususnya ibu sangat diperlukan dalam upaya mencegah stunting. Karena dampak negatif stunting akan sangat mengganggu tumbuh dan kembang anak.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.