Lompat ke isi utama

Hambatan Komunikasi Tuli saat Pandemi dan berbagai Cara Mengatasinya

Solider.id - Pandemi Covid – 19 memang memaksa semua orang untuk berubah dan menyesuaikan diri. Perubahan yang sangat cepat membuat setiap orang terkadang tak bisa menyesuaikan diri. Hal ini berdampak serius bagi kelompok tertentu, termasuk bagi difabel yang memiliki kerentanan terpapar virus dan bagi masyarakat pada umumnya. Pada saat masa pandemi Covid – 19, setiap orang dihimbau untuk menjaga jarak, sering mencuci tangan dan mengenakan masker. Mengenakan masker di area publik sangat menyulitkan masyarakat Tuli untuk berkomunikasi. Hal ini karena mereka tidak dapat membaca gerak bibir dan melihat wajah orang lain pada saat berkomunikasi dan kebetulan yang bersangkutan mengenakan masker. Beberapa kelompok dan komunitas di berbagai daerah mencptakan berbagai inovasi untuk mengatasi hambatan yang dialami oleh kawan-kawan tersebut. Hal ini karena tuntutan pentingnya menjaga protocol kesehatan namun tetap memberikan rasa nyaman bagi Tuli saat berkomunikasi.

Salah satu cara yang selama ini lazim digunakan adalah melakukan modifikai terhadap masker konvensiaonal yang selama ini digunakan masyarakat. Beberapa penjahit dan pegiat lazim memproduksi masker transparan dengan membuat bagian depan masker yang menutupi bagian wajah dan mulut menjadi transparan. Hal ini guna mempermudah kawan Tuli untuk melihat gerak bibir dan melihat ekspresi wajah lawan bicaranya. Inovasi yang telah dilakukan oleh berbagai pihak tersebut ternyata belum optimal membantu aksesibilitas kawan Tuli dalam berkomunikasi. “Terkadang tidak nyaman dan bahkan membuat pengap” kata beberapa kawan komunitas Tuli. Sementara itu, menurut Dwi, salah satu penjahit Tuli mengungkapkan bahwa membuat masker transparan rasanya lebih menantang. “daripada membuat topeng konvensional,harus mengecek ulangi pada bagian transparan itu sejajar dengan tepat disesuaikan dengan mulut pemakainya sertakan  Tutorialnya telah dishare kepada organisasi Gerkatin.”

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 5% populasi dunia mengalami ketulian. Budaya Tuli terbiasa dengan membaca bibir lawan bicara dan melihat ekspresi wajah sangat penting bagi mereka. Kawan Tuli membutuhkan komunikasi visual, seperti membaca bibir atau menggunakan bahasa isyarat umumnya. Marie-Florence Devalet, Direktur Federasi Tuli  Berbahasa Prancis Belgia, mengatakan setiap orang yang berkomunikasi dengan individu tuli di sektor swasta dan publik harus mengenakan topeng transparan. Ini termasuk staf yang bekerja di kantor, di angkutan umum atau di rumah sakit agar tidak terganggu dalam pelayanan dan aktivitasnya (https://www.un.org/fr/node/73626). Meskipun seperti ini, sebenarnya bahwa masker x`dan penutup wajah non-medis memang mengurangi penularan virus dari batuk dan bersin, sikap pembuat kebijakan dan publik masih belum sadar tentang kebutuhannya terhadap komunitas Tuli terpukul.

Terdapat cara lain untuk mengaatasi hambatan komunikasi bagi kawan-kawan Tuli. Penggunaan aplikasi berbasis teknologi android menjadi salah satu alternatifnya. Hingga kini, Aplikasi Transkripsi Instan Google, masih diandalkan untuk mengartikan ucapan lawan bicara menjadi teks pada layar handphone  dari balik  maskernya. Tanda dan gambar yang jelas juga dapat membantu komunikasi digital kartu flash komunikasi, dapat membantu dalam beberapa kasus yang dihadapi Tuli misalnya pelayanan publik dan komunikasi privasi. Catatan tertulis, bagaimanapun, tidak selalu menjadi sarana komunikasi yang efektif bagi mereka yang bahasa pertamanya adalah Bahasa Isyarat, karena struktur tata bahasanya sangat berbeda. 

Berdasarkan informasi yang ditulis oleh situs www.dhs.wisconsin.gov  dengan judul “Interacting with Individuals who are Deaf”  berhubungan dengan situasi COVID19,

Tips berinteraksi dengan Individu yang Tuli di lingkungan rumah sakit atau puskesmas. Dalam operasi terkait COVID-19, akses ke produk, perangkat, layanan, dan pertimbangan lingkungan adalah kebutuhan dasar bagi individu Tuli. Dalam Undang-Undang Penyandang Disabilitas, individu yang Tuli harus diberikan akses ke penterjemah bahasa isyarat virtual atau tatap muka yang efektif dan tepat dan komunikasi bahasa tekstual. Metode komunikasi tersebut dapat digunakan  jika layanan tertentu tidak dapat diakses atau ditunda selama operasi terkait COVID-19.  Perlu mempersiapkan penerjemah bahasa isyarat langsung atau penggunaan Aplikasi ucapan ke teks Keterangan atau akses komunikasi terjemahan. Berkomunikasi dengan orang yang menggunakan bahasa isyarat, berkomunikasi dengan orang yang tidak menggunakan bahasa isyarat Saat bekerja dengan penerjemah, berbicara langsung dengan orang yang Tuli.  Pastikan orang yang Tuli memiliki garis penglihatan yang jelas kepada penerjemah.  Gunakan gerakan, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh untuk membantu komunikasi.  Jika komunikasi sulit, cobalah menuliskan beberapa kata dan frasa yang jelas  pada sebuah kertas yang disiapkan oleh individu Tuli demi meminimalirsir penularannya. Jika mereka tidak memahami Anda, ketik dan izinkan orang tersebut untuk melihat layar pada komputer dan alat bantu misalnya tablet dan lain-lain. Komunikasi tertulis (di atas kertas atau papan tulis) Video remote interpreting (VRI) Pembacaan bibir (dengan masker wajah transparan) sebagai kebutuhan dasar yang sangat diperlukan bagi mereka, agar kenyamanan dan kesetaraan dalam mengakses komunikasi lancar.

Sebaiknya pilih lingkungan yang tenang jika memungkinkan karena individu Tuli punya perasaan dan emosi perlu tenang tidak dapat berada di ruang keramaian, demi mendapat informasi yang jelas dan dipaparkan oleh tim tersebut.  Pastikan Anda memiliki perhatian individu sebelum berbicara.  Jangan menutupi mulut Anda saat berbicara, tunjukkan bahasa tulis jika Anda belum bisa berbahasa isyarat.  Lihat langsung pada individu yang Anda ajak bicara dan pertahankan kontak mata secara professional dan ekspresi biasa. Perlu diingat, Jangan berteriak di depan seorang Tuli, karena suara Anda tidak akan didengar, tidak peduli seberapa keras Anda berbicara, maka Tuli tidak paham.  Bersabarlah dan luangkan waktu untuk berkomunikasi menghadapinya. 

Kurangnya dukungan dan kesadaran telah menjadi salah satu tantangan terberat  selama pandemi. Hal itu membuat orang dengar dan individu  Tuli merasa terisolasi dan diabaikan. Membaca artikel tentang pentingnya masker, tanpa mempertimbangkan dampaknya pada komunitas Tuli, menyimpulkan bahwa pembuat kebijakan dan akademisi telah melupakan pentingnya penilaian dampak kesetaraan di bidang komunikasi dan pelayanan publik karena sebagian yang sudah menjalani sesuai kebijakannya sedangkan yang lain masih belum menjalankan. Mungkin belum teredukasinya. []

 

Peulis : Dina Amalia Fahima

Editor : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.