Lompat ke isi utama
salah satu tampilan dalam kelas online persigama secara online

REPSIGAMA UGM Gelar Kelas Inklusivitas

Solider.id,Yogyakarta -REPSIGAMA (Relawan Psikologi Gadjah Mada) menyelenggarakan kegiatan DOCTORS (Do Care to Others) berupa webinar berjudul “Gateway Towards a More Inclusive Society” pada Sabtu (20/2) siang. Webinar ini menghadirkan beberapa narasumber di antaranya Marlita Putri Ekasari, S.Farm., Apt., M.P.H., (Dosen Fakultas Farmasi UGM dan Pembina UKM Peduli Difabel UGM), Slamet (mahasiswa difabel netra UB), serta Giri Trisno Putra (mahasiswa difabel netra UGM).

REPSIGAMA sendiri adalah Badan Kegiatan Mahasiswa (BKM) di internal Fakultas Psikologi yang bergerak pada bidang kerelawanan psikologi. Sedangkan DOCTORS merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakan secara rutin oleh REPSIGAMA sebagai bentuk perwujudan dari rasa kepedulian kepada sesama manusia.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pembekalan terhadap relawan psikologi UGM agar memiliki kapasitas dalam memberikan pelayanan psikologi yang lebih inklusif. Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai isu difabel agar menjadi tergerak untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif.

Giri mengawali webinar ini dengan menjelaskan bahwa  kata “inklusif” adalah kondisi ketika kita bisa menerima segala macam bentuk keberagaman dengan disadari atas kesetaraan. Dalam hal ini, difabel merupakan salah satu bagian dalam keberagaman itu sendiri yang mana perlu kita terima.

Giri menggarisbawahi tiga poin penting dalam mendukung inklusifitas. Pertama, nilai atau bisa diintepretasikan sebagai sebuah keadaan ketika kita dapat menerima difabel dalam ranah bermasyarakat yang tentunya baik dan disepakati oleh siapa saja. Kedua, profesionalitas, artinya dapat mengelola keberagaman sehingga menimbulkan keadaan inklusif bagi siapa saja. Ketiga, integrasi sosial, berarti dapat menerima difabel sebagai bagian masyarakat untuk mencapai tujuan secara bersama-sama.

Sementara itu, Marlita menyampaikan bagaimana cara berkomunikasi dengan difabel. Ia menyebutkan bahwa ada tiga lingkungan komunikasi yaitu personal, komunitas, dan global. Selain itu, terdapat pula etika yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi dengan difabel seperti sopan, sabar, to the point, relaks, dan menanyakan terlebih dahulu terkait media komunikasi yang ingin digunakan.

“Jangan pura-pura paham ketika berkomunikasi dengan difabel. Cobalah menggunakan kalimat yang berbeda dari sebelumnya untuk menerangkan apa yang ingin anda utarakan. Serta jangan lupa untuk selalu menanyakan apa yang perlu ditolong sebelum anda membantunya. Sebab bisa jadi difabel itu tidak memerlukan bantuan anda sehingga akan lebih beretika jika anda meminta izin terlebih dahulu,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.