Lompat ke isi utama
Arifin yang tak kenal lelah mencari nafkah untuk hidupi keluarganya

Arifin: Kreatif dan Inovatif jadi Modal Bertahan saat Pandemi

Solider.id - Selain melumpuhkan sektor kesehatan, Pandemi Covid-19 juga melumpuhkan sektor ekonomi. Arifin, seorang difabel netra asal Kebumen yang berprofesi sebagai pemijat yang sekarang berdomisili di Yogyakarta, juga merasakan akibatnya.

Dua minggu setelah Covid-19 terdeteksi di Indonesia pada Maret 2020, usaha layanan pijat yang ditekuni Arifin selama ini mengalami penurunan jumlah kedatangan pelanggan secara drastis. Biasanya, ia dapat menerima 25 hingga 50 pelanggan setiap bulannya pada kondisi sebelum pandemi, namun setelahnya nyaris tidak ada pelanggan yang datang berkunjung.

Situasi ini membuat kondisi keuangan keluarganya memburuk. Padahal, ia harus menghidupi istri dan satu anaknya yang masih berusia 6 tahun.

Situasi menjadi lebih buruk ketika ia tidak menerima bantuan sosial dari pemerintah. sebabnya, ia adalah perantau asal luar kota, dimana KTP-nya beralamat di Jawa Tengah. Ia dan keluarganya pun tak mungkin kembali ke kampung halamannya di Kebumen atau kampong halaman istrinya di Boyolali, karena tak memiliki cukup uang untuk melakukan rapid test.

“itu kan seperti kita disuruh mau mati ya silakan.” Ungkap Arifin saat ditemui dirumahnya 19/02/2021.

Saat itu, ia harus berpikir lebih kreatif, karena ia tinggal memiliki uang sejumlah 100 ribu rupiah. Akhirnya, ia memutuskan untuk menggunakan uang 100 ribu rupiah tersebut untuk membeli sapu untuk dijual kembali.

Ia kemudian memutuskan untuk menjadi penjual sapu keliling. ia berkeliling dengan berjalan kaki sembari memanggul sapu yang dijualnya. Arifin harus menempuh jarak cukup jauh untuk menjual sapu dagangannya. Dari rumah kontrakannya yang terletak di sudut bagian selatan kota Yogyakarta, ia menjajakan dagangannya hingga ke kabupaten Sleman yang ada di sebelah utara kota Yogyakarta.

“akhirnya kita tidak bisa taat PSBB, karena kalau kita taat PSBB, ya kita gak makan.” Ungkap Arifin.

Dengan berjualan sapu dengan cara dipanggul, ia dapat menjual 12 hingga 16 buah sapu perharinya. Penjualan sapu yang diinisiasinya kemudian mengalami peningkatan jumlah, saat ia mendapatkan bantuan uang dari sebuah komunitas di Yogyakarta. Bantuan uang yang diterimanya tersebut, ia jadikan modal untuk membuat gerobak untuk menjual sapunya. Hal itu agar dirinya bisa menjual lebih banyak sapu. Bahkan bukan hanya sapu, tetapi sekarang ia juga dapat menjual kemoceng dan keset.

Semenjak berjualan dengan gerobak, ia dapat menjual sampai dengan 30 barang perharinya. Namun, akibat pengetatan PPKM yang kembali diberlakukan pemerintah, jumlah barang yang dijualnya menjadi agak menurun.

Arifin mengajak istri dan anaknya sekaligus untuk berjualan setiap harinya. Beserta keluarganya, ia mendorong gerobaknya untuk melalui beberapa rute di kawasan selatan kota Yogyakarta, seperti surokarsan, Umbulharjo, hingga kawasan Madukismo Bantul.

Hujan deras dan sengat panas matahari adalah teman sehari-hari Arifin beserta istri dan anaknya yang masih berusia 6 tahun saat berjualan. Bahkan, terkadang, ia dan istrinya sebagai difabel netra yang berjalan sambal mendorong gerobak harus berhadapan dengan kondisi lingkungan yang tidak aksesibel bagi dirinya. “kalau sesekali menyerempet atau menabrak itu wajar Mas.” Ungkapnya sambal melepas tawa.

Akhirnya, Arifin untuk sekarang memilih untuk menekuni usaha jualan sapu kelilingnya, karena upaya itulah yang dirasa mampu membantu kondisi perekonomian keluarganya. Usaha pijat yang sebelum pandemi ditekuninya, sekarang menjadi pekerjaan tambahan saja. “kalua pijat sekarang ya hanya kalua ada yang datang setelah jualan saja atau kalau misalnya ada yang janjian, karena kalau pijat kan sifatnya kita hanya menunggu dirumah, nah kalau berjualan kan kita bisa menawarkan dagangan kita.” Pungkas Arifin.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.