Lompat ke isi utama

Difabel Netra, Penampilan dan Stigma Mereka

Solider.id -Don’t judge a book by its cover” merupakan pepatah lama  yang mengajarkan kita semua bahwa jangan memandang sesuatu dari luarnya saja. Namun menurut penulis, hal tersebut tidak selalu relevan untuk semua orang dan segala kondisi. Mengapa? Karena ada sebagian kelompok manusia yang hingga kini masih berjuang melawan stigma dan masih saja mendapatkan stereotip dari banyak orang di lingkungannya. Mereka adalah kaum difabel, terkhusus difabel netra. Keterbatasan difabel netra terletak pada pemahaman visualisasi. Pemahaman dalam memvisualkan jati diri melalui penampilan juga menjadi problematika tersendiri. Pada umumnya, orang awas (nondifabel netra) menggunakan cermin sebagai refleksi bentuk visual jati diri. Namun, proses itu yang tidak bisa dilakukan oleh difabel netra, sehingga anggapan manusia kurang bersih dan rapi dalam berpenampilan menjadi salah satu penguat stigma pada difabel netra. Penulis telah mewawancarai beberapa tokoh difabel netra dan pemerhati difabel netra mengenai stigma tersebut. Apakah stigma yang  berkembang di masyarakat itu benar adanya, atau dipicu oleh segelintir  kawan difabel netra yang kurang peduli penampilan, sehingga tidak peduli tentang penilaian orang lain?

Menurut salah satu aktivis difabel netra Sulawesi Selatan (yang tak bersedia disebutkan namanya),  bahwa berpakaian bersih, rapi itu sangat penting bagi difabel netra. Karena ketika kita berpakaian rapi, bersih, dan indah, maka itu akan menambah nilai plus bagi seorang difabel netra. Sebagian orang yang menganggap difabel netra itu kotor, tidak rapi dan lain sebagainya. Maka dari itu, dengan berpakaian bersih dan rapi, otomatis  sebagai difabel netra dapat membantah anggapan negatif tersebut. Kemudian, mengapa ada sebagian difabel netra yang tidak ambil pusing dengan kerapihan dan kebersihan pakaian mereka, supaya ada orang yang merasa kasihan kepada mereka. Lebih lanjut, aktivis yang juga  berprofesi sebagai  guru SLB ini  menjelaskan  bahwa,  hal lain juga, adalah memang  tak dapat dipungkiri bahwa sebagian difabel netra  itu ada yang belum bisa mencuci dengan baik, belum tahu menyetrika pakaian, sehingga menjadi faktor tidak bersih dan tidak rapinya mereka dalam berpakaian. Ia menambahkan di akhir wawancara bahwa  difabel netra sebagian ada yang tidak peka akan keadaan dirinya sendiri, sehingga mereka tidak menyadari bahwa mereka dalam keadaan kurang bersih dan tidak rapi.

Sedikit berbeda dengan pandangan di atas, Sutraaini yang kini menjabat sebagai Ketua DPC PERTUNI Kab. Enrekang, juga memberikan pendapatnya kepada penulis. Menurutnya,  sebenarnya ada beberapa faktor mengapa difabel netra itu berpakaian sedaanya (tidak bersih, dan terkadang tidak rapi). Baginya, tidak semua difabel netra itu tidak rapi. Karena ada juga sebagian yang sangat memperhatikan penampilannya, ada juga yang memang masa bodoh dengan pakaian yang dikenakannya. Lanjut Sutraaini, di tempatnya (Kab. Enrekang), ada juga keluarga yang justru mengambil pakaian dari si difabel netra bila pakaian tersebut baru dan bagus. Padahal difabel netra yang bersangkutan juga mendapatkan bantuan sosial dari Pemerintah Daerah, meskipun bantuan yang mereka dapatkan itu bukan sebagai bantuan disabilitas, tetapi hanya karena mereka miskin, sehingga mendapatkan bantuan tersebut.  Lebih lanjut,  ia juga menyatakan bahwa  penampilan itu sangat penting. “Karena apa kata orang, bila kita yang tunanetra sudah tidak melihat, kita juga yang tidak rapi dalam berpenampilan. Banyak juga keluarga dari si  tunanetra yang seolah sengaja membiarkan si tunanetra mengenakan  baju compang-camping agar si tunanetranya  mendapatkan belas kasihan dari orang lain” ujarnya.

Dalam berpenampilan, peran keluarga difabel netra memang penting. Harusnya keluarga  telah memberikan pemahaman tentang penampilan kepada   anak/kerabatnya yang mengalami  difabel netra sebelum mereka masuk ke   jenjang pendidikan, karena dengan terbiasa, maka si difabel netra itu akan pintar sendiri mengurusi diri dan penampilannya, meskipun mereka totally blind. Bahkan Sutraaini memandang perlu diadaakannya pelatihan tentang penampilan dalam kehidupan sehari-hari bagi difabel netra. Hal ini dianggap penting, karena banyak difabel netra yang sangat cuek akan penampilannya, dan mereka merasa sudah cukup bila telah hanya berpakaian saja. Sutraaini sendiri sedari kecil telah mendapatkan perhatian dari keluarganya, terutama mengenai penampilan, sehingga meskipun difabel netra, Sutraaini juga bisa matching  dalam berpakaian dan sudah lebih terarah agar penampilannya tetap rapi dan bersih, meskipun ia sendiri  tidak dapat melihat  wajahnya. Baginya kerapian dan kebersihan itu dapat kita rasakan dengan feeling. Dengan membiasakan diri bersih dan rapi, maka ketika pakaian yang kita kenakan itu tidak match, maka ada perasaan tidak enak, ungkapnya. Oleh karena itu Sutraaini selalu berusaha berpenampilan bersih dan rapi. Selain itu, Sutraaini juga sering browsing  mengenai cara berpenampilan yang baik, rapi, dan bersih.

Bila beberapa pendapatt di atas datang dari difabel netra, berikut penulis juga menuliskan hasil wawancara dengan pemerhati difabel netra, Namanya Mesra      Rahayu, SKM., M.Kes. (Founder  Sahabat Netra). Ia menyatakan pendapatnya bahwa beberapa  teman netra berpakaian rapi dan Indah dipandang. Mungkin beberapa teman netra yang berpakaian tidak rapi dan bersih  tergantung individu masing-masing, lanjutnya lagi. Menurutnya dulu ketika ia melakukan riset, ada beberapa difabel netra yang  berpakaian tidak rapi dan tidak bersih. Hal tersebut dikarenakan difabel netra tersebut tidak dapat melihat dirinya sehingga ia tidak peduli pada dirinya dan penampilannya. Mungkin juga memang ada pribadi orang yang tidak begitu peduli dengan penampilannya bukan karena kedifabelannya, imbuhnya. “Kalau menurut saya, agar teman-teman juga indah dipandang mata, mereka harusnya diberikan pemahaman bahwa mereka juga akan kelihatan cantik dan ganteng ketika mereka berpakaian dan pakaiannya itu matching”, ungkapnya. Hal tersebut juga jadi persoalan untuk sebagian teman-teman netra perempuan yang memakai hijab, dan hijabnya belum di setrika, terlihat tidak indah dipandang. Padahal teman-teman perempuan netra juga bisa terlihat cantik apabila mereka peduli akan penampilannya karena itu juga bagian dari kesehatan. “Banyak juga teman-teman netra yang tidak tahu menempatkan sesuatu yang dikenakan pada posisi tertentu. Misalnya mereka menggunakan sandal pada acara-acara resmi, padahal seharusnya mereka menggunakan sepatunnya”, jelasnya. Mesra sendiri siap membantu teman-teman netra agar mereka berpenampilan lebih baik. Misalnya membantu membraillekan pakaiannya atau menjelaskan warna matching yang hendak dikenakan. Hal yang perlu dilakukan adalah memberikan penyadaran kepada mereka tanpa menggurui, agar mereka bisa paham bahwa penampilan yang baik bagi difabel netra juga penting. “Karena masih banyak teman-teman netra yang berpakaian seadanya dikarenakan belum adanya kesadaran mengenai penampilan pada diri mereka sehingga kesadaran citra diri mereka yang perlu diperbaiki”, paparnya.

Tiga pendapat di atas merupakan pendapat para aktivis difabel netra yang masih di Indonesia, sedangkan pendapat di bawah ini adalah pendapat aktivis difabel netra yang berasal dari Indonesia difabel netra yang kini  sedang menempuh pendidikan S2-nya di Flinder University (Australia) pada jurusan   Disability Policy and Practice. Ia adalah Eka Pratiwi Taufanti gadis difabel netra total yang sangat aktif bersosial media dan juga seorang youtuber. Menurutnya, ada beberapa faktor  yang berpengaruh pada penampilan  difabel netra, antara lain :

1.         Latar belakang ketunanetraan

Ia berpendapat, difabel netra sejak lahir itu kecenderungannya memiliki kurangnya referensi fashion.  Apalagi bila orang di sekitarnya tidak ada yang memberitahu, maka difabel netra sejak lahir ini  kelihatan tidak begitu rapi. Namun Eka menegaskan bahwa tidak semua difabel netra sejak lahir demikian. Seharusnya,  orang-orang yang mengalami ketunanetraan misalnya pada saat remaja, maka paling tidak, mereka masih memiliki gambaran mengenai padu padannya warna atau  mode pakaian tertentu. “Namun lagi-lagi, Eka menegaskan bahwa latar belakang ketunanetraan itu tidak kemudian bersifat absolut sehingga menjadikan seorang difabel netra itu akan rapi dan  tidak rapi dalam berpakaian.  Karena pentingnya juga peran lingkungan yang membantu difabel netra agar dapat mengetahui cara berpakaian yang baik dan rapi”, imbuhnya.

2.         Kesulitan difabel netra mengakses apa yang sedang terjadi di dunia  ketika difabel netra itu baru mengalami ketunanetraan, yang dalam hal ini mengenai fashion .

Bila seorang tunanetra itu mengalami ketunanetraan pada waktu  beberapa tahun silam, yang tentunya fashion waktu itu sudah tidak sesuai dengan fashion kekinian, maka bisa jadi tunanetra tersebut kelihatan ketinggalan dalam soal fashion. “Namun hal tersebut dapat diatasi bila si tunanetranya memiliki orang-orang yang mendukungnya dan memberikannya pemahaman mengenai fashion, seperti pacar, keluarga dan teman-teman, jelasnya”.

Jadi, intinya faktor internal dari difabel netra dan faktor eksternal juga memegang peranan penting untuk menjadikan si difabel netra menjadi seseorang yang lebih memerhatikan lagi  penampilannya. Kemudian, Eka menambahkan lagi, bahwa terkadang difabel netra yang baru saja menjadi difabel (baik di saat remaja atau telah dewasa) akan cenderung masa bodoh dan berantakan mengenai penampilan, karena ia berpikir bahwa ketika mereka cantik juga pasti tidak ada orang yang akan meliriknya, bahkan lebih parahnya lagi, ada difabel netra baru yang berpikir bahwa hidupnya itu tidak ada artinya.  Jadi, hal ini kembali lagi pada perspektif diri difabel netra itu sendiri, apakah ia merasa layak untuk lebih baik atau bahkan cenderung cuek pada dirinya. Di awal-awal menjadi tunanetra, Eka juga merasa tidak percaya diri dan merasa tidak layak, bahkan merasa diri tidak ada guna lagi hidup di dunia ini.  “Jadi, aku berantakan. Tapi ketika aku udah bangkit. Udah happy, bahwa blindness itu  is not big deal gitu loh. Nah, aku mulai itu menata penampilan aku. Nah, ini mungkin bisa jadi faktor nih, karena anggapan atau perspektif  yang salah tentang diri mereka sendiri gitu loh .  si tunanetranya itu  menganggap bahwa  tunanetra itu nggak layak untuk rapi, untuk cantik “tegasnya”. Di akhir wawancara, Eka memberikan solusinya mengenai berpenampilan yang baik bagi tunanetra. Bahwa tunanetra itu harus diajarkan mengenai self determination  (penentuan akan diri sendiri), bahwa difabel netra juga punya nilai. Difabel netra juga merupakan bagian dari masyarakat. Intinya difabel netra harus diajarkan cara menghilangkan mental block dan memandang lebih positif pada dirinya. Selain itu, juga perlunya membangkitkan kesadaran lingkungan dari difabel netranya. Entah itu keluarga, atau teman-teman, bahwa mereka itu harus membantu difabel netra menjadi lebih tahu mengenai apa yang terjadi di bidang fashion  atau semacamnya. Atau bisa juga orang-orang di sekitarnya membuatkan seminar mengenai stile dan fashion yang juga dapat diaplikasikan bagi tunanetra, pungkasnya.[]

 

 

Reporter: Andi Zulfajrin Syam

Editor  : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.