Lompat ke isi utama
gambara bertuliskan Selamat hari pers nasional

Peran Media Sebagai Jembatan Menyuarakan Aspirasi dan Membangun Opini Masyarakat

Solider.id - Media massa memiliki peran yang banyak dalam kehidupan masyarakat. Sebagai akses penyebarluasan arus informasi, pengetahuan hingga budaya dan hiburan, tentu tidak hanya terbatas kepada pemberitaan semata. Nilai edukasi publik, fakta di lapangan serta menyambung tangan banyak kalangan, menjadi bagian terpenting hingga mampu berperang dengan kabar hoaks yang lebih cepat menjamur.

Berawal dari peran media juga banyak menghasilkan perubahan dalam berbagai tahapan, mulai dari perspektif masyarakat terhadap sebuah isu, pola kerja, pengambilan putusan terkait regulasi kebijakan, dorongan partisipasi aktif dari masyarakat luas, sampai kepada munculnya tahapan ide dan kritikan. Dalam kata lain, media dapat memberikan peran sebagai jembatan untuk menyuarakan aspirasi berbagai pihak dengan mudah. Media mampu hadir menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk mereka yang jarang atau luput dari pemberitaan karena kurangnya informasi yang tersampaikan pada publik.

Dikutip dari buku ‘Keberpihakan Media terhadap Difabel’ yang diterbitkan oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel atau SIGAB Indonesia, menjelaskan peran media massa yang tidak bisa disepelekan dalam melakukan gerakan advokasi. Yang artinya, media berperan menjadi salah satu bentuk komunikasi persuasif, bertujuan untuk mempengaruhi pemangku kepentingan dalam pengambilan kebijakan atau keputusan.

Media memiliki fungsi informasi dan pembentuk opini masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana media dapat memihak kepada isu secara proporsional, bukan hanya sekedar mengeksploitasi isu yang sedang terjadi dan berkembang di masyarakat. Sisi kontradiktifnya, terkadang sebuah informasi menjadi berita sebab nilai beritanya sangat negatif dan eksploitatif.

Media mainstream mulai melirik isu yang jarang terekspose

Tidak bisa dipungkiri, sebagian banyak masyarakat lebih mudah terjaring oleh jenis pemberitaan yang bersifat kontroversial. Semakin ramai diperbincangkan bertambah menyulut. Keberpihakan yang tidak berimbang menuai citra negatif yang dikedepankan. Kondisi ini diperparah lagi dengan penilaian tentang sebuah rating.

Pun, demikian dengan sajian berita yang bersifat eksploitatif. Sangat disayangkan, yang sering menjadi korban adalah masyarakat rentan seperti anak-anak, lansia, dan difabel. Atau hal-hal yang bersifat tidak seperti orang banyak. Baik itu dalam sisi kemampuan, cara, maupun hasil yang diperoleh.

Sebagai contoh; media massa mainstream sudah mulai banyak menyentuh masyarakat difabel dalam berbagai hal. Misal dalam hal bagaimana menjalani keseharian, bidang prestasi, atau upayanya dalam menjalani kehidupan. Mereka dianggap menjadi menarik, sebab memiliki ke-khas-an tersendiri. Mereka punya cara tersendiri untuk mengupayakan mencapai tujuan yang sama dengan masyarakat lain.

Tanpa disadari, dan tanpa diimbangi dengan sumber informasi yang luas tentang pengetahuan masyarakat difabel yang beragam, maka eksploitasi yang jadi ditampilkan. Sesuatu yang dianggap unik, istimewa, tidak lazim, berbeda dari orang banyak serupa dengan mengekploitasikan. Seperti tayangan atau pemberitaan yang bersifat charity, secara tidak langsung membuka pola berpikir pada publik sebagai obyek yang menuai simpati hingga membentuk persepsi dari rasa kasihan.

Masih banyak jurnalis dari media mainstream yang dalam peliputan isu difabel masih terbatas kepada aspek permukaan saja. Mereka lebih condong melihat difabel dari pemdekatan tradisional atau pola berpikir lama, yaitu difabel sebagai individu yang cacat atau sakit, sehingga membentuk opini masyarakat yang berujung pada rasa kasihan dan perlu selalu dibantu.

Pemberitaan yang belum seutuhnya memiliki perspektif dan berpihak pada difabel. Sebab, sebagian besar hanya menuliskan kepada sisi luar atau hal sesaat dari apa yang dibutuhkan difabel. Ibarat pepatah menyampaikan, untuk membuat seseorang mandiri berikanlah kail agar ia dapat berupaya menangkap ikan, dan bukan diberi ikan untuk agar langsung ia makan. Artinya, pemberitaan yang bersifat charity justru dapat berefek negatif. Maka diperlukan pemberitaan terkait tawaran alternatif solusi dari isu yang diangkat tersebut.

Langkah media mainstream yang sudah memberikan ruang konten untuk pemberitaan isu difabel memang patut dihargai. Namun, hingga sejauh mana dalam pengolahannya masih perlu dikawal bersama. Khususnya oleh masyarakat difabel itu sendiri. Sehingga pada akhirnya media tersebut betul betul sebagai jembatan aspirasi dan pembentuk opini publik yang tepat, dan bukan menambah kepada aspek mendiskriminikasikan hingga melebilisasikan nilai yang negatif, baik secara verbal dalam isi konten.

Lahirnya media difabel sebagai inisiatif wadah aspirasi pendorong perubahan opini publik

Untuk mempertajam dan mendalami lagi mengenali isu difabel yang mulai digarap oleh media mainstream, saat ini telah banyak hadir media alternatif yang berisi konten dengan pemikiran yang lebih menjauhi pandangan sumber sumber arus utama. Media alternatif ini media difabel yang merupakan pemberitaan lebih spesifik dan menggali hal hal yang bukan sebatas dari sisi luarnya saja.

Media difabel, atau media yang khusus dengan pemberitaan isu isu difabel dalam berbagai aspek hadir. Diantaranya; Solider.id media online Yogyakarta, Majalah Difa media cetak Jakarta, Kartunet media sosial online Jakarta, Difabelnews media sosial online Blora Jawa Tengah, Kami Bijak.com media online Jakarta, dan lainnya.

Semua media tersebut dibuat, dikelola dan didirikan oleh para difabel. Mereka membuka ruang untuk mengaspirasikan isu difabel secara realita, dengan tujuan dapat membentuk opini publik yang tepat baik melalui advokasinya maupun interaksinya.

Bentuk keberhasilan dari hadirnya media difabel tersebut adalah banyak lahir kebijakan kebijakan baru yang dirumuskan hingga disahkan oleh pemerintahan. Meski di lapangan masih terdapat pro-kontra yang terus dibenahi agar lebih tepat dan sesuai dengan kebutuhannya.

Kehadiran media difabel ini pun telah mampu memberikan ruang gerak baru terhadap para difabel untuk menggeluti profesi sebagai jurnalis. Selain itu, sebagai semangat untuk mengadvokasi berbagai kebijakan melalui pemberitaan, sebagai bentuk kampanye membangun persepsi positif pada difabel, dapat memberikan gambaran pada banyak pihak tentang ketimpangan sebuah kebijakan dengan kondisi yang ada di masyarakat secara nyata, juga dapat membangun kesadaran pada difabel untuk lebih berpikir kritis lagi.

Hadirnya media difabel dan jurnalis difabel sangat membantu dalam mewujudkan keberpihakan media massa dalam mengangkai isu difabel dan masyarakat rentan lainnya. Peran media sebagai pembentuk opini publik dan membangun kesadaran masyarakat terhadap suatu isu menjadi alasan yang cukup kuat untuk difabel dan media alternatifnya dalam upaya pencapaian yang tengah diperjuangkannya.

Saatnya membangun peran dan fungsi media massa yang dapat menjadi jembatan untuk menyampakai aspirasi, serta mampu membangun opini publik yang mengiring ke arah lebih baik, lebih membuka wawasan, menawarkan solusi, hingga membagikan informasi yang berkembang dengan benar. Menjadikan media sebagai lahan advokasi, untuk menunaikan hak dan kewajiban setiap masyarakat tanpa terkecuali, hingga mampu membantu memberikan sebuah kebijakan yang memang dibutuhkan secara tepat.

Dikutip dari presidenri.go.id, pada Hari Pers Nasional 2021 yang jatuh pada tanggal 9 Februari, Presiden Joko Widodo menyampaikan ucapan selamat hari pers kepada seluruh insan pers di tanah air. Media berada di garis depan untuk mengabarkan perkembangan situasi dan menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat, menjaga optimisme, serta menjaga harapan. Media juga dinilai sebagai ruang diskusi.[]

 

Penulis: Srikandi Syamsi

Editor  : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.