Lompat ke isi utama
sesi diskusi tentang pendidikan seks bagi remaja difabel

Belajar Pendidikan Seks Sejak Dini bersama Perdik dan LessTalk

Solider.id – Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya pendidikan seks adalah hal yang masih dianggap tabu. Tak jarang hal yang menyangkut tentang seks atau seksualitas dianggap kotor dan tidak patut dibicarakan. Hal tersebut mendorong PerDik (Pergerakan Difabel untuk Kesetaraan) dan lest talk sebagai perwakilan dari remaja difabel dan nondifabel merasa perlu menyelenggarakan sebuah diskusi daring dengan mengangkat tema “remaja bicara pendidikan seks dan seksualitas”.

Acara diskusi ini melibatkan remaja difabel dan nondifabel dari berbagai usia. Namun kebanyakan yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah mereka yang masih duduk dibangku SMA. Acara berlangsung kurang lebih 3 jam yang di pandu oleh kak Renfi dari lest talk melalui pladform zoom Minggu 14 Februari 2021.

Saat semua peserta remaja ditanya kapankah pertama kali mendengar kata seks jawaban mereka rata-rata mendengarnya saat masih SD namun mereka tidak tahu apa itu seks. Pada awalnya karena mereka hanya mendengar dari berita di televisi atau dari orang-orang di lingkungan sekitarnya dan setiap mereka bertanya  pada orangtua kurang mendapat respon yang baik, padahal lingkungan keluarga khususnya orangtua adalah pendidik pertama sebelum guru yang mempunyai banyak waktu dalam keseharian si anak. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan  Deni selaku narasumber, “pendidikan seks sebenarnya bukanlah hal yang harus di sembunyikan dari seorang anak karena semakin di sembunyikan akan memancing rasa keingin tahuan anak menjadi lebih tinggi dan ketika mereka tidak mendapat tempat yang pas untuk mengetahui tentang apa itu seks, hal itu justru yang sangat berbahaya, maka para orangtua disini harus mampu terbuka dengan anak-anaknya mengenai soal seks karena semakin dini anak mendapat pengetahuan tentang pendidikan seks akan semakin bagus, lagi pula seks tidak selalu tentang hal yang berbau porno semisal anak di ajari untuk mengenali dirinya saat memasuki masa pubertas, bagian apa saja yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh sembarang orang dan masih banyak lainnya” ujar  Deni di dalam materi yangdisampaikannya.

Para remaja difabel yang di hadirkan sebagai bintang tamu dalam diskusi banyak menceritakan tentang pengalamannya sebagai seorang remaja perempuan difabel. Selama ini mereka sangat minim mendapat informasi tentang pendidikan seks bahkan salah satu dari teman mereka pernah mendapat pelecehan seksual saat masih SD. Namun karena ketidak tahuan mereka tidak pernah melaporkan hal tersebut sebagai pelecahan seksual dan ironisnya pelecehan itu dilakukan oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Di Indonesia sendiri kasus pelecehan seksual terhadap perempuan difabel memang masih sangat tinggi namun sayangnya tidak banyak yang terungkap khususnya pada perempuan difabel yang berada di daerah pelosok. Hal itu mengindikasi bahwa masih rendahnya pendidikan seks yang ada di indonesia terutama pada remaja perempuan yang paling rentan mengalami pelecehan seksual meski pada anak laki-laki pun kasusnya ada.

Seperti contoh kasus yang di ceritakan oleh Atas selaku narasumber kedua di mana remaja perempuan berumur 17 tahun memperkosa seorang anak laki-laki berusia 9 tahun “pada kasus ini menunjukkan bahwa ada faktor merasa berkuasa terhadap si korban yang masih kecil. Jadi si pelaku merasa bebas melakukan apa saja. Kasus-kassus seperti ini sebenarnya bisa dibilang tidak jarang terjadi tetapi karena pendidikan seks yang kurang di peroleh anak sejak dini dan kurangnya perhatian orangtua mengenai pendidikan seks bagi anak membuat anak menjadi sasaran pelaku kejahatan seksual.” Tutur  Atas yang terhubung melalui zoom.

Saat di sekolah pun pendidikan seks ini masih dianggap tabu. Kalaupun ada pelajaran mengenai kesehatan reproduksi pembahasannya hanya sebatas kulit luarnya saja seorang guru juga masih banyak yang takut mengajarkan tentang pendidikan seks pada peserta didiknya jika sampai menjurus kepada materi tentang kelamin laki-laki dan perempuan terlebih materi yang membahas tentang hubungan intim yang layaknya di lakukan oleh suami istri. Untuk itu lest talk bersama PerDik berupaya untuk membuka wawasan berkenaan dengan pendidikan seks khususnya bagi para remaja agar semakin banyak  remaja yang cerdas dan mengerti bagaimana sebaiknya dalam merawat kesehatan reproduksinya  dan tidak merasa bingung atau tabu lagi jika membicarakan soal-soal yang membahas tentang seks. []

Reporter: Harisandy

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.