Lompat ke isi utama

Pengalaman Isolasi Mandiri Difabel Netra

Solider.id - Minggu, 20 Juni 2021, jurnalis solider berbincang dengan Arif Prasetya (23), mahasiswa difabel netra asal Gunungkidul yang sekarang belajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Arif yang tinggal di sekitaran Jl. Timoho Yogyakarta ini membagikan pengalamannya saat menjalani isolasi mandiri pasca terpapar Covid-19.

 

Ia secara resmi dinyatakan terpapar covid-19 pada tanggal 4 Juni 2021, setelah menjalani tes Swab PCR. Hal itu karena, sebelumnya pada tanggal 29 Mei 2021 teman satu kosnya dinyatakan terpapar Covid-19. Alhasil, ia langsung menjalani isolasi mandiri dan tes swab PCR beberapa hari berselang, karena sebelumnya ia berinteraksi dengan temannya yang terpapar covid-19. Arif dan kakaknya yang berdiam dalam satu kos yang sama rupanya terinfeksi Covid-19.

 

Arif pun menjalani isolasi mandiri di kosnya, yang kebetulan hanya berisi tiga orang. Ia harus menjalani segala aktivitas di dalam kos. Pada awalnya, Arif merasa “down”, ketika dinyatakan positif covid-19. Sebabnya, ia tak bisa menjalani aktivitas diluar rumah, sebagaimana yang biasa dilakukannya. Ia sendiri sesungguhnya tak mengalami gejala apa pun. Indra penciuman, pernafasan, dan perasanya sama sekali tidak terganggu. Berbeda dengan kakaknya, yang mengalami gejala sedikit sesak.

 

beruntung, ia mendapatkan dukungan yang baik dari teman-teman, desa, dan kampusnya. Arif mendapatkan suplai Bahan pangan dan segala kebutuhannya dari desa, teman-teman, dan kampusnya. Barang-barang tersebut dikirimkan kedepan halaman kosnya. Kemudian, ia pun memasak bahan pangannya sendiri. Beruntung, lokasi kosnya dilengkapi dengan peralatan masak.

 

Disisi lain, ia juga memesan makanan melalui aplikasi pengiriman makanan online. Ia merasa terbantu dengan adanya aplikasi tersebut yang sangat memudahkan. Arif menjalani aktivitasnya seperti biasa selama isolasi mandiri. Ia tetap mengikuti kuliah online dari kosnya. Permasalahan sempat dialami oleh dirinya ketika diminta dosennya untuk mengerjakan penelitian lapangan. Sebagai orang yang sedang terinfeksi covid-19, tentu ia tak mungkin menjalani penelitian lapangan yang mengharuskan dirinya bepergian keluar dari tempat tinggalnya. Ia pun mennegosiasikan hal itu kepada dosennya, dan beruntung bisa menerima dispensasi penggantian tugas.

 

Dalam rangka mengusir kebosanan, Arif nyaris setiap hari menggunakan platform video call untuk berinteraksi dengan teman-temannya. “bosan setiap hari di kos terus” terangnya 20/06/2021. Ia juga mengkoordinir rapat-rapat secara online. Kebetulan, ia sekarang sedang bertugas untuk menjadi koordinir KKN “Kuliah Kerja Nyata”, sebuah program wajib dari kampusnya yang akan diselenggarakan pada bulan Juli di kabupaten Gunungkidul. Tetapi, ia mengaku tetap tidak optimal, saat koordinasi dilakukan secara online. Teman-temannya cukup supportif, dengan membantu pengerjaan tugas-tugasnya sebagai koordinator, yang sedang tidak memungkinkan untuk keluar rumah.

 

Saat ini, Arif tengah menjalani minggu ketiga isolasinya. Ia baru diperkenankan keluar rumah setelah mendapatkan surat keterangan negatif Covid-19. Kemungkinan, ia baru akan mendapatkan surat keterangan itu pada selasa 22 Juni 2021.

“setelah dinyatakan negatif, saya berencana berlibur”. Candanya.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

           

The subscriber's email address.