Lompat ke isi utama
Susasana interior KRL Saat ujicoba

Uji Coba KRL Commuter Line Solo-Yogyakarta, Begini Aksesibilitasnya

Solider.id, Surakarta- Pada 9 Februari 2021, Kereta Prambanan Ekspress (Prameks), yang secara reguler melayani masyarakat Surakarta dan sekitarnya hingga Yogyakarta setelah 27 tahun eksis dan menjadi pilihan favorit itu berhenti beroperasi. Moda transportasi darat yang populer di kalangan pelanggan/penggunanya tersebut_kebanyakan mahasiswa/pekerja/pedagang dan datang dari berbagai status ekonomi_ digantikan oleh KRL Commuter Line. Sebelum KRL Commuter Line beroperasi secara resmi,  saya dan sepuluh orang anggota Pengurus Harian Tim Advokasi Difabel (PH TAD) melakukan uji coba melalui mekanisme pengajuan lalu disusul undangan dari pihak Stasiun Balapan Solo. Beberapa komunitas di hari yang berbeda juga melakukan hal sama, uji coba yang juga diikuti di antaranya oleh difabel, seperti Komunitas Relawan Solo.

Pagi itu, Evi, seorang difabel  fisik pengguna dua kruk, sudah terlanjur memarkirkan sepeda motor roda tiganya di tempat parkir sepeda motor Stasiun Balapan Solo, letaknya agak jauh dari pintu masuk.  Namun oleh seorang teman difabel yang melihat jika ada tempat parkir di depan bertuliskan “Priority Parking” kemudian menyarankan agar Evi dan teman difabel pengguna sepeda motor roda tiga memarkirkan kendaraannya di situ. Lalu pemandangan yang ada di “Priority Parking” adalah dua buah mobil dan dua motor roda tiga berjajar. Selanjutnya mestinya calon penumpang KRL Commuter Line langsung masuk ke Sky Bridge, tidak melalui tiketing kereta reguler. Jika ada calon penumpang berkursi roda, maka hendaknya menghubungi petugas KRL untuk didampingi saat masuk lift.

Perlu diketahui jika lift di lantai 1 Sky Bridge pada pintunya tertera gambar kursi roda, namun pintu lift sendiri tidak akses, jarak pintu ke kursi roda milik stasiun (kursi roda medis), bahkan tidak ada sejengkal tangan (20 cm). Ruangan lift juga sangat sempit karena hanya bisa memuat difabel berkursi roda dan seorang petugas KRL saja. Saking sempitnya, bahkan tidak bisa untuk memutar kursi roda.  Pada ruang lift tergambar 4 tapak kaki di masing-masing sudut, artinya di saat pembatasan sosial, lift jika darurat bisa digunakan 4 orang (tidak berkursi roda). 

Jika ada difabel pengguna alat bantu kruk calon penumpang KRL Commuter Line sangat disarankan jika ia mengganti alat bantunya tersebut dengan kursi roda dan menghubungi petugas agar didampingi. Ini juga berlaku bagi lansia. Karena jika berjalan, ia akan membutuhkan waktu dan jarak yang lumayan jauh, lebih dari 300 meter untuk mencapai loket, apalagi meski sudah ada eskalator tetapi sangat berbahaya bagi pengguna kruk dan lansia. Loket terletak di lantai tiga sehingga membutuhkan lagi untuk naik lift yang berada di lantai 2, dan kondisinya sama persis, kurang akses untuk kursi roda dan harus ada pendamping.

Di loket/tiketing pembelian kartu, meja loket masih normatif, dengan ketinggian seperti biasanya loket untuk orang yang tidak memiliki hambatan/nondifabel. Tidak ada loket khusus bagi pengguna kursi roda atau untuk“little people”. Tetapi jangan khawatir, selalu ada petugas KRL yang selalu siap melayani. Entah karena saat itu masih uji coba, atau memang para petugas telah disiapkan karena para peserta uji coba KRL hari itu adalah komunitas difabel. Kartu perdana KAI Commuter dengan harga Rp. 20.000,- dengan saldo kartu Rp. 10.000,- sehingga total Rp 30.000,- sedang ongkos naik KRL sebesar Rp. 8.000,-. Namun karena masih dalam rentang waktu uji coba maka komunitas mendapatkan kartu itu secara gratis dan mendapat tambahan fasilitas kit  KAI.

Setelah membeli/mengisi  kartu KRL maka proses selanjutnya adalah turun lagi dua lantai hingga menuju tempat untuk nge-tap kartu KRL. Lagi-lagi, lajur-lajur untuk nge-tap hanya berlaku untuk orang yang dianggap tidak memiliki hambatan/nondifabel saja, karena tidak ada desain khusus untuk lajur yang berkursi roda, sehingga tapping yang dilakukan oleh teman difabel berkursi roda dibantu oleh petugas.

Setelah nge-tap, masih diperlukan untuk jalan beberapa saat, hingga menuju peron KRL Commuter Line. Di situ belum ada penanda/identitas untuk membedakan KRL dengan kereta biasa. Jadi kita tahu yang mana KRL, setelah ditunjukkan oleh petugas. Jarak peron menuju pintu masuk KRL sekira 15-20 cm, lumayan akses untuk kursi roda, sehingga tidak sulit ketika masuk.

Pada samping pintu sudah tersedia gambar/penanda bagi deretan kursi prioritas yakni bagi difabel, lansia, ibu hamil dan ibu dengan anak bayi. Tidak ada penunjuk tempat bagi penumpang berkursi roda. Di atas pintu terdapat template daftar urutan stasiun perhentian yang akan dilewati. Setiap hendak berhenti di stasiun yang  dimaksudkan, petugas memberikan pengumuman dengan menggunakan pengeras suara, sekalian memberi peringatan kepada seluruh penumpang jika semua pintu kereta yang ada di kereta di  sebelah kanan dan kiri akan terbuka seraya memperingatkan penumpang agar berhati-hati.

Rata-rata di setiap stasiun aksesibilitas antara peron dan pintu kereta hanya terdapat di pintu depan (satu pintu) saja (kecuali Stasiun Balapan, Lempuyangan dan Tugu), pintu lainnya tidak akses, dengan jarak datar yang tidak begitu berjenjang selisihnya (15-20 cm). Jadi penting sekali bagi setiap penumpang untuk mengingat di stasiun mana akan berhenti, utamanya penumpang difabel, harus memberitahu petugas agar didampingi.

Tidak ada sinyal lampu yang menyala pada template yang terletak di atas pintu, setiap berhenti di setiap stasiun (tidak seperti KRL Jabodetabek). Template memang hanya sebatas gambar, bukan template dengan desain lampu. Sehingga penumpang Tuli harus siap sedia mawas diri dan jeli untuk mengingat tempat stasiun mana yang sudah dan akan dilewati.  Urutannya dari Stasiun Balapan adalah Stasiun Purwosari, Gawok, Delanggu, Ceper, Klaten, Srowot, Brambanan, Maguwo, Lempuyangan dan Stasiun Tugu. Saat uji coba, kereta KRL berhenti di setiap stasiun yang tertera di atas. Namun di saat pemakaian resmi nanti, calon penumpang perlu menanyakan lagi kepada petugas, untuk memastikan di stasiun mana saja kereta akan berhenti sebagai tujuan perjalanan.

KRL Commuter Line Solo-Yogyakarta juga belum menyediakan gerbong khusus perempuan serta belum ada toilet di gerbong. Di Stasiun Tugu Yogyakarta jarak pintu dan peron lebih landai lagi kira-kira kesenjangannya hanya 10 cm.

Siang itu saat uji coba, KRL Commuter Line berangkat dari Stasiun Balapan Solo pada pukul 12.45 kami sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta pada pukul 14.00. Karena jadwal pemberangkatan kereta selanjutnya dari Stasiun Tugu pukul 14.30, lantas kami bersepakat jika tidak akan turun dari kereta, dan tugas untuk nge-tap kartu KRL dilakukan oleh dua orang perwakilan secara kolektif.

Beberapa teman difabel mengambil bekal makanan yang telah dibawa dari rumah, lantas keluar dari gerbong karena di dalam gerbong kereta tidak diperbolehkan makan dan minum. Ada petunjuk gambar tertera di dalam gerbong atas larangan makan dan minum tersebut. KRL Commuter Line yang terdiri dari empat gerbong tersebut, masing-masing gerbong memiliki kapasitas penumpang sebanyak 40 orang (dengan pembatasan sosial/penjarakan sosial) dan di saat PSBB hanya boleh terisi 25% saja, sepertinya tidak terisi semua gerbongnya.

Siang itu saya dan PH TAD mengisi perjalanan Yogyakarta-Solo dengan melakukan rapat koordinasi guna merangkai kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Tak lupa kami mencatat temuan-temuan, yang rencananya akan menjadi bahan audiensi bersama Kepala Stasiun Balapan.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.