Lompat ke isi utama
sosok difabel netra Makassar yang menginspirasi

Yoga dan Kisahnya Menuju Bangku Kuliah

Solider.id - Menjadi difabel netra mungkin saja tidak terlalu menyedihkan untuk diri sendiri, tapi jauh lebih menyedihkan menurut orang-orang yang menyayangi kita. Ini saya sadari setelah mendengar banyak kisah dari teman-teman netra. Salah satu kisah, kemudian membuat saya tertarik untuk menuliskannya menjadi sebuah catatan kecil. Saya percaya bahwa tulisan bisa membekukan banyak hal. Dan kesedihan orang tua, misalnya, cukup berharga untuk dibekukan ke dalam tulisan.

Yoga Indar Dewa, biasanya saya sapa Kak Yoga, adalah mahasiswa jurusan pendidikan sosiologi di Universitas Negeri Makassar. Dia pernah mendaftar jalur SNPTN (Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri), hingga mendaftar di sejumlah universitas impiannya. Tapi satu dua kendala terjadi, itu menggagalkan niatnya untuk kuliah di tempat-tempat yang jauh. Salah satu problem yang ia temui saat mendaftar kuliah, adalah kesalahan teknis. Saat Yoga mendaftar di Universitas Brawijaya, misalnya. Pada jalur disabilitas, dia memilih tiga jurusan yang dibuka untuk difabelpenglihatan. Dia awalnya lulus ke tahap wawancara, lalu berangkat ke Malang untuk mengikuti tahap wawancara. Pilihan pertama Yoga jatuh pada jurusan tata ruang. Dia tertarik ingin tahu bagaimana UB membuka jurusan tata ruang, yang banyak bersingungan dengan visual, untuk mahasiswa difabel. Sampai di Malang, dia kecewa karena bukannya memiliki metode pengajaran super canggih untuk jurusan tata ruang, Universitas Brawijaya hanya tidak sengaja melakukan kesalahan teknis. Seharusnya, jurusan tata ruang hanya bisa didaftari oleh calon mahasiswa Tuli, dan difabel fisik. Ini hanya satu problem yang ia temui.

Setelah lulus dari SMA Negeri 16 Makassar, Yoga memang tidak berhenti mencari peluang untuk kuliah. Dia ingin sekali menjadi guru, maka dari itu ia sering mengambil pilihan jurusan pendidikan. Universitas-universitas pilihannya juga selalu berada di pulau Jawa. Bukan tidak ingin berkuliah di Sulawesi, tapi dia merasa perlu merantau ke tempat-tempat jauh untuk belajar mandiri lebih keras lagi.

Lelah mencari peluang tapi tidak kunjung mendapat jalan keluar, akhirnya Yoga mendapat informasi pendaftaran jalur mandiri di Universitas Negeri Makassar (UNM) dari kawannya di SMA dulu. Dengan pertimbangan tidak ingin menganggur dan tidak melakukan apa-apa di rumah, akhirnya Yoga mendaftar jalur mandiri prestasi di UNM.

Yoga memiliki banyak piagam kemenangan. Sejak tahun 2013, di mana dia baru mengetahui adanya SLB dan akhirnya bersekolah di sana, dia rutin mengikuti perlombaan. Mulai dari olimpiade matematika, sampai dengan perlombaan renang pada pekan olahraga regional Sulawesi Selatan, hingga tingkat nasional. Sekarang dia adalah salah satu atlet renang kota Makassar.

“Kenapa daftar jurusan pendidikan sosiologi? Padahal kau, kan atlet renang. Di sini tidak ada kolam renang, cuma ada kolam ikan,” ujar seorang dosen yang ia temui, ketika mendaftar jalur mandiri prestasi di UNM.

Yoga merasa cukup banyak hal yang ia temui saat pendaftaran, yang seolah-olah meremehkan dia sebagai difabel netra. Ini lumrah terjadi karena stigma negatif yang dicapkan kepada difabel, terlebih lagi karena masih ada sebagian dosen yang masih meragukan kemampuan seorang difabel. Dianggapnya difabel hanya layak mendaftarkan diri di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB).

 

Yoga kukuh ingin memilih jurusan pendidikan sosiologi. Dari awal memang dia tidak ingin, dan tak ada minat untuk berkuliah dengan jurusan PLB. Meski beberapa hari setelah mengikuti tes wawancara, pihak UNM sempat menelepon ke orang tuanya, dan menawarkan Yoga untuk kuliah di jurusan PLB saja. Penelepon dari pihak kampus kurang lebih memberi tahu orang tua Yoga bahwa kemungkinannya untuk lulus sangat minim, tetapi jika ingin beralih ke jurusan PLB Yoga sepertinya bisa lulus.

Bapaknya sempat membujuk Yoga untuk memilih jurusan PLB saja, tapi Yoga tetap tidak mau.

“Lebih baik saya tidak kuliah,” katanya.

Dan beberapa hari kemudian, akhirnya berita baik datang. Dia lulus di jurusan yang ia pilih, pendidikan sosiologi. Sekarang dia tercatat sebagai mahasiswa aktif di UNM.

Bisa survive dari kebutaan, dan bisa aktif membimbing junior-juniornya di SLB adalah pencapaian kecil Yoga setelah melalui banyak kisah pahit. Melihat kenangannya mulai dari duduk di bangku SMP, menjadi buta, menganggur di rumah bertahun-tahun, hingga menangis karena dimaki-maki guru di SMAnya seperti membuka lembaran usang satu persatu. Jika tidak diceritakan, bahkan mungkin saya tidak bakalan menyangka bahwa pemuda itu pernah melalui pengalaman-pengalaman pahit itu.

Bapaknya adalah anggota Tentara Nasional Indonesia, yang kerab kali dikirim ke daerah-daerah konflik untuk mengamankan NKRI. Dia lahir di kabupaten Maros, tahun 1998. Saat duduk di bangku kelas dua SD, Yoga pernah bercita-cita menjadi tentara, mengikuti jejak bapaknya. Setelah itu, dia juga pernah bercita-cita menjadi dokter. Dia anak yang cerdas, selalu juara kelas, dan aktif. SD, salah satu dari dua matanya mengabur. Dia dioperasi, tapi tidak ada perubahan yang terjadi. Satu matanya kabur sekali, dia hanya bisa melihat dengan satu mata. Tapi itu seperti tidak menjadi kendala. Dia lanjut bersekolah, tetap menjadi juara kelas, dan aktif seperti biasanya.

SMP, mata satunya yang dia gunakan untuk bermain dan membaca tiba-tiba kabur juga. Ini membuat dia cemas, orang tua sedih, dan keluarga bingung. Mau diapakan? Kemudian dia dibawa ke Makassar untuk melakukan pengobatan lebih lanjut. Dia akhirnya berhenti sekolah, tinggal di rumah, sembari fokus mengobati matanya yang semakin hari penglihatannya kian kabur. Begitu terus hingga akhirnya, 2013, salah satu dokter yang menangani dia merekomendasikan dia untuk menghubungi salah satu SLB di Makassar. Di sanalah, akhirnya dia kenal dengan dunia difabel netra.

Yoga lanjut SMP di YAPTI (Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia) Makassar, kembali duduk di bangku kelas dua SMP, dan mengejar ketinggalan-ketinggalannya. Mulai dari sana juga dia sering mengikuti perlombaan-perlombaan. Di YAPTI, tidak hanya bersekolah, Yoga juga tinggal di asrama.

Pertama kali ingin dimasukkan ke asrama YAPTI, keluarganya sempat ragu, la menuduh ibunya membuang Yoga ke asrama karena matanya buta.

“Mama bawa kamu ke sini bukan karena mama tidak sayang kamu, apalagi mau buang kamu seperti yang orang banyak bilang. Mama mau kamu belajar baik-baik, mama mau kamu berhasil, bisa sukses juga kayak orang kebanyakan,” itu kata ibunya saat mengantar Yoga ke asrama YAPTI.

Berat memang melepaskan anak yang dicinta untuk tinggal jauh dari keluarga, tapi itu dilakukan orang tua Yoga demi melihat anaknya bisa bersekolah kembali. Saat bersekolah di SLB itulah babak baru dalam hidupnya seperti dibuka. Yoga dapat teman-teman baru, teman teman yang menginspirasinya untuk lanjut SMA di sekolah reguler. Hingga akhirnya dia lulus dari SMPLB A YAPTI Makassar, la memutuskan untuk lanjut ke SMA Negeri 16 Makassar.

Satu hari ibunya mengantar dia untuk mengenali jalan untuk bisa sampai ke sekolah barunya, SMAN 16 Makassar. Lalu Yoga meminta ibunya untuk berjalan di belakangnya, agar dia bisa melakukan pengenalan jalan dengan mandiri, dan tidak diganggu oleh suara sepatu ibunya. Itu kali pertama ibunya melihat Yoga jalan sendirian, dengan tongkat putih yang membimbing. Lalu dari arah belakang, di sela-sela kesibukannya mengenali jalan, Yoga mendengar suara isakan ibunya.

“Kasihan anakku,” begitu yang dikatakan ibunya sambil menangis.

Hati orang tua mana yang tidak teriris melihat anaknya jalan, meraba jalan dengan tongkat? Orang tua yang memiliki pikiran terbuka, dan tidak lagi terkungkung dalam cara pikir medik di mana menganggap difabel adalah hal yang menyedihkan mungkin saja akan baik-baik saja melihat anaknya berjalan dengan tongkat. Itu ketika orang tua adalah orang yang mengerti, dan paham benar bahwa kondisi difabel bukan hal yang perlu disesali. Tapi ibu Yoga adalah orang awam dengan dunia difabel. Mungkin saja Yoga tidak merasa sedih saat menjadi buta, bahkan tidak sedih saat meraba-raba jalanan, mencari gerbang sekolahnya. Toh, dia malah sedang berpikir keras mendapatkan jalan yang lurus. Tapi bagi ibunya ... itu adalah hal baru, menyedihkan.

Dari kisah-kisah teman netra, salah satunya kisah Yoga yang coba saya tuliskan meski terpatah-patah ini, setidaknya saya bisa membedakan sudut pandang berbeda dalam memandang difabel. Kita yang menilai difabel sebagai hal lumrah, perbedaan yang biasa saja, dan sesuatu yang normal mungkin saja tidak sedih lagi dihadapkan dengan keadaan-keadaan tertentu. Nah, perasaan sedih hanya timbul dari stigma dan perspektif yang memandang difabel sebagai sesuatu hal yang buruk.

 

Penulis : Nabila May Sweetha

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.