Lompat ke isi utama
salah satu difabel sedang melakukan donor darah

Kontribusi Difabel untuk Kemanusiaan Turut Aktif Donorkan Darah

Solider.id - Sebagian besar masyarakat masih asing mendengar Hari Donor Darah Sedunia atau World Blood Donor Day. Edukasi yang langka terkait manfaat menjadi sukarelawan, membuat orang sungkan bahkan takut mendatangi lokasi bank darah seperti Palang Merah Indonesia (PMI).

“Darah merupakan bagian dari kehidupan, secanggih apapun teknologi belum ada yang mampu menggantikan darah dengan darah buatan,” ungkapan ini disampaikan Jusuf Kalla, Ketua Umum PMI dalam webinar Peringatan Hari Donor Darah Sedunia, Senin (14/6)

 

Semenjak pandemi, kebutuhan akan darah menjadi sesuatu yang sangat langka diperoleh. Kegiatan donor darah sukarela secara mandiri yang masih rutin dilakukan tidak berjalan selama pandemi. Padahal, setitik darah dari pendonor dapat menyelamatkan seorang manusia.

 

Kedifabelan tidak menghalangi untuk berbuat bagi sesama

“Sebenarnya saya takut melihat darah dan bisa pingsan, dari awal sampai dengan sekarang masih takut kalau melihat jarum donor darah. Jadi, setiap melakukan transfusi donor darah tidak pernah melihat langsung,” ucap Corfied Margetan.

 

Corfied Margetan (50) difabel fisik akibat sakit stroke, mengaku sudah sejak 2010 silam rutin mendonorkan darahnya secara sukarela. Baik dalam event penggalangan donor darah maupun secara pribadi mendatangi langsung lokasi PMI.

 

Ia tergerak hati untuk menjadi pendonor berawal dari mengikuti jejak istri. Namun, setelah merasakan manfaat untuk tubuhnya keputusan rutin mendonorkan darah pun timbul. Saat pandemi seperti ini, setelah mengetahui informasi yang tepat Corfied yang masih menjalani perawatan sakit stroke, tetap bersedia mendonorkan darahnya.

“Karena saya sakit stroke, awalnya takut donor darah lagi di masa pandemi ini. Tapi akhirnya bisa asal ikuti prosedurnya, yaitu tiga hari sebelum donor harus puasa obat, hanya satu obat bisa diminum yaitu obat tensi. Apalagi selama pandemi stok darah di PMI kosong,” tambahnya.

 

Secara pribadi ia menyampaikan pesan kemanusiaan, agar siapa pun jangan takut berdonor darah. Termasuk masyarakat difabel. Manfaatnya untuk tubuh sangat besar, di samping beramal dan dapat menyelamatkan orang yang membutuhkan. Kedifabelan yang dimiliki tidak menghalangi saat ikut berbuat sesuatu bagi sesama.

 

Berbeda dengan Rahayu (41) difabel Netra yang baru kali pertama mengikuti donor darah melalui sebuah event yang pernah diselenggarakan komunitasnya. Wanita yang sering disapa Ayu ini, menggambarkan sedikit pengalamannya saat melakukan donor darah. Ada hal yang ia mintakan kepada petugas medis di PMI seiring transfusi berlangsung, selain menyampaikan rasa takutnya. Ayu sangat penasaran dengan kantung labu darah yang telah diisi darahnya.

“Saya baru pertama melakukan donor darah, jadi sangat ingin tahu dan ingin memegang darah yang diambil dari tubuh saya. Alhasil tanpa memilikirkan rasa malu, saya meminta izin pada dokternya agar dapat memegang kantung labu darah yang sudah terisi,” kenangnya.

“Selama melakukan transfusi, hanya merasakan sakit sedikit saat jarum dikenakan dan dicabut dari lengannya. Ia mengaku lebih berani mengikuti acara donor darah yang digelar secara masal daripada datang sendiri ke lokasi PMI”. Ia juga tidak merasa jera untuk terus dapat ikut serta menyumbangkan darah.

“Saya tidak kapok berdonor darah lagi, hanya lebih berani kalau dalam acara seperti itu, banyak orang dan bersamaan teman lain,” katanya.

 

Kilas sejarah Hari Donor Darah Sedunia

Dari laman organisasi kesehatan dunia (WHO) tema Hari Donor Darah sedunia tahun ini adalah ‘Give blood and keep the world beating,’ atau ‘Donorkan darahmu agar kehidupan dunia terjaga.’ Pentingnya kontribusi para pendonor, agar dapat membuat dunia tetap bekerja dengan menyelamatkan nyawa dan memperbaiki kesehatan yang lain, menjadi pesan yang ingin disamapaikan kepada masyarakat dunia.

 

Karl Landsteiner, yang lahir pada 14 Juni 1868 adalah seorang ilmuwan yang berhasil menemukan sistem golongan darah A, B, O. Sebelum ditemukan golongan darah, transfusi darah sering dilakukan tanpa mengetahui golongan darah seseorang. Berkat temuannya, ia pun memenangkan hadiah nobel di tahun 1930.

 

Pada Mei 2005, para menteri kesehatan seluruh dunia mengadakan deklarasi komitmen dan dukungan pada donor darah sukarela, dalam Majelis Kesehatan Dunia ke-58. Dalam deklarasi tersebut sekaligus menetapkan setiap 14 Juni sebagai hari donor darah.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.