Lompat ke isi utama
sejumlah orang tua calon siswa kunjungi kantor ULD Kota Yogyakarta

Signifikan Geliat Minat Peserta PPDB SMP Jalur Disabilitas 2021

Solider.id, Yogyakarta -Senin pagi, 14 Juni 2021. Hari sangat cerah, udara panas menyengat. Antrean ratusan orang menyesaki teras dan halaman Kantor Unit Layanan Disabilitas (ULD) Kota Yogyakarta. Sebuah bangunan yang berada di Kompleks SD Pujokusuman 1, Jl. Kolonel Sugiono (sebelah timur Pojok Beteng Wetan) Yogyakarta. Adalah para orang tua yang mendaftarkan putra dan putri mereka masuk SMP melalui sistem Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) Jalur Disabilitas.

 

Kesibukan petugas melayani antrean pun terjadi pada tiap-tiap pos. Mulai pos penyerahan dan cek berkas persyaratan PPDB, pos pendaftaran, serta pos verifikasi-klarifikasi data data dan pilihan sekolah. Terlihat signifikan berbeda, dengan PPDB tahun sebelumnya yang sepi peminat. Kali ini, antusias para orang tua mendaftarkan anak-anak mereka yang lulus SD dan hendak melanjutkan ke SMP regular mulai menggeliat. Tercatat sebanyak 79 peserta pada pendaftaran PPDB Jalur Disabilitas, hari pertama itu. Sedang pada hari kedua pendaftaran, Selasa (15/6), jumlah peserta PPDB bertambah 14 siswa. Sehingga PPDB jalur afirmasi untuk siswa difabel berjumlah 93 siswa. Hasil seleksi akan diumumkan melalui daring pada Kamis (17/6) pukul 10.00 WIB.

 

Baca Juga: 173 Kursi bagi Siswa Difabel pada PPDB SMP Kota Yogyakarta

 

Tak semua lolos

“Cukup menggembirakan melihat perubahan animo para orang tua. Meski kuota 173 kursi belum terpenuhi, tapi perubahan positif itu melegakan,” demikian Kepala ULD Kota Yogyakarta Aris Widodo menuturkan pada Solider, Senin (14/6).

Lanjutnya, “Artinya sinkron dengan apa yang sudah diupayakan pemerintah Kota Yogyakarta memalui UPT ULD dengan program-program yang dijalankan. Sosialisasi, konsultasi dengan psikologi, maupun assesmen,” ujar Aris. 

 

Namun, kata Aris, dari 93 calon siswa yang terdaftar, empat di antaranya tidak lolos oleh karena beberapa sebab.  Yaitu, assesment kadaluwarsa, dilakukan lebih dari dua tahun, kartu keluarga (C1) luar kota, belum satu tahun berdomisili di Kota Yogyakarta, serta hasil assesmen tidak terbukti memliki kebutuhan khusus.

 

Sosialisasi terkait persyaratan PPDB menurut Aris, sudah dilakukan jauh-jauh bulan. Baik kepada para guru dan kepala sekolah melalui pertemuan daring (zoom), demikian juga kepada para orang tua. Bahwa hasil assesmen harus masih berlaku, jalur afirmasi  hanya diperuntukkan bagi warga kota, dan C1 minimal 1 tahun. Itu syarat pendaftaran yang harus dipenuhi.

 

Aris menambahkan bahwa, jumlah siswa yang telah diassesment melalui ULD tercatat sebanyak 188 siswa. Sedang kuota PPDB jalur difabel pada 16 SMP Negeri di Kota Yogyakarta adalah lima persen atau 173 kursi. Kuota terbanyak diberikan SMP 15 yaitu 17 kursi, SMP Negeri 5 dan SMP Negeri 8 masing-masing 16 kursi. Sedang kuota terkecil diberikan SMP Negeri 13, yaitu 5 kursi.

 

Peran GPK

Menurut Aris, perubahan signifikan tersebut tidak lepas dari peran 144 Guru Pendamping Khusus (GPK) yang tersebar di beberapa sekolah dasar. “Para GPK ini yang telah melakukan penyadaran terhadap para orang tua, memberikan dukungan kepada siswa-siswa difabel agar bermental tangguh,” ujarnya.

 

Pada PPDB yang diselenggarakan dengan sistem luar jaringan (luring) atau offline itu, hanya terlihat beberapa calon siswa berada di antara antrean. Hal itu mempertimbangkan kondisi pandemi, salah satunya. Aturan tidak tercatat diberlakukan, dengan tujuan mengurangi kerumunan. Pertimbangan lain, hanya orang tua yang berkepentingan menyelesaikan berkas administrasi, mendaftar, hingga verifikasi dan klarifikasi.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.