Lompat ke isi utama
tampilan peserta pelatihan Washington Group Question

Humanity Inclusion dan Sigab Selenggarakan Pelatihan Pendataan Washington Group Question

Solider.id – Humanity & Inclusion bersama Sigab Indonesia selenggarakan kegiatan pelatihan Pendataan Washington Group Question. Kegiatan dilaksanakan secara daring pada 8 – 10 Juni 2021. Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut ini, diikuti oleh sekitar 50 peserta dari berbagai kabupaten di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih spesifik, peserta berasal dari berbagai latar belakang seperti BPS Kabupaten Sleman, kota Yogyakarta, dan Gunungkidul , pekerja sosial, BPBD, NGOs, organisasi masyarakat sipil, organisasi difabel, dan relawan kemanusiaan.

 

Pelatihan peningkatan kapasitas pendataan penduduk dengan metode Washinton Group  Question ini merupakan bagian dari  kegiatan I AM SAFE, sebuah program yang didanai oleh Uni Eropa yang bertujuan untuk  mendukung pemerintah dan komunitas terdampak dalam program respon covid-19 di beberapa wilayah seperti Jabodetabek, provinsi DI Yogyakarta, dan provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui akses yang inklusif terhadap bantuan lintas sektor dan layanan penting, dan mengurangi dampak covid-19 dengan menyediakan akses untuk perlindungan sosial dan mekanisme pemulihan ekonomi. Lebih jauh, program ini mempunyai empat keluaran penting seperti: Membantu dalam menahan penyebaran COVID-19 melalui penyediaan komunikasi resiko yang inklusif, promosi hidup bersih, dan alat pelindung diri, Mengurangi dampak langsung pada kesejahteraan orang dengan kerentanan melalui dukungan psikososial, rujukan kesehatan, dan bantuan tunai tanpa syarat untuk memenuhi kebutuhan dasar,  mendorong pemulihan sosial-ekonomi dan meningkatkan ketahanan individu dan rumah tangga yang terdampak COVID-19 melalui pembangunan mata pencaharian dan ketahanan yang inklusif; dan, mempromosikan tanggap darurat yang inklusif dan pemulihan awal oleh para pelaku misi kemanusiaan, CSO, dan pemerintah di tingkat nasional dan lokal.

 

 

 

Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dalam beberapa tahap angkatan, target keseluruhan peserta dalam kegiatan ini mencapai 250 peserta. Berkaitan dengan respons dampak pandemi Covid – 19, kegiatan ini bertujuan untuk memastikan tidak ada orang yang terlewatkan oleh respon kemanusiaan, pemulihan, atau intervensi pembangunan terkait dengan pandemi Covid-19. Intervensi pemerintah dan non-pemerintah pada penanganan Covid-19 dirancang sesuai kebutuhan dan diinformasikan kepada masyarakat yang terdampak, termasuk difabel. Ketersediaan dan identifikasi difabel sangat bermanfaat untuk memahami kebutuhan dan kapasitas mereka dengan lebih baik. Hal ini juga dipandang sebagai penekanan pada respon kemanusiaan untuk memastikan tidak ada seorang pun yang ditinggalkan. Misalnya, setiap orang yang terdampak menerima bantuan sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Dalam pelaksanaan program, HI dan mitra menemukan kesenjangan dalam mengidentifikasi data pilah, khususnya dalam respon covid-19. Ketidaktersediaan data terpilah yang menjadi target wilayah program HI dihambat oleh penggunaan instrument pendataan yang berbeda, serta terdapat variasi definisi dan model konsep disabilitas yang digunakan untuk mengidentifikasi kedifabelan. 

 

 Baca Juga: Washington Grup, Pijakan Dasar Pendataan Difabel

 

 

Kegiatan dibagi ke dalam enam sesi, terdiri dari berbagai dasar pengetahuan tentang inklusi difabel seperti konsep inklusi disabilitas berdasarkan aturan internasional dan nasional. Dilanjutkan dengan model pendekatan difabel, dan etika berinteraksi dengan difabel. Selain itu peserta juga diperkenalkan dengan konsep awal Washington Group Questions (short-set questions), sesi  analisis dan latihan melakukan wawancara pendataan dengan menggunakan instrument Washington Group Question.

 

Dibawah fasilitator Deni Aulia dari Humanity & Inclusion, peserta dilatih untuk mempraktikkan pendataan dengan menggunakan instrument yang telah dipelajari. Dari hasil sharing dengan peserta usai melakukan simulasi dalam media daring, diperoleh kesimpulan bahwa pencatatan data tidak dapat dilakukan secara singkat. Ia butuh waktu yang cukup untuk mendapatkan data yang benar-benar akurat. Selain itu, idealnya pendataan dilakukan secara langsung dengan bertemu informan, jika tidak hanya melalui daring, maka akan banyak kesalahpahaman informasi yang berakibat ketidakvalidan data yang diperoleh.[]

 

Redaksi Solider

 

The subscriber's email address.