Lompat ke isi utama
salah satu aksesibilitas di banda Aceh

Sarana Publik di Banda Aceh, Menuju Ramah dan Akses untuk Difabel

Solider.id, Banda Aceh – melihat kembali berbagai sarana dan prasarana publik yang terdapat di daerah serambi Makkah ini, masih banyak yang perlu diperbaiki. Sebagian besar sarana dan prasarana yang dibuat untuk memudahkan difabel dalam mengaksesnya, rupaya belum optimal dan belum sepenuhnya dapat dipergunakan oleh difabel. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh solider.id, Hampir semua fasilitas publik yang dinyatakan akses oleh pemerintah,  pada kenyataannya tidak dapat digunakan dengan mudah oleh difabel. Penempatan jalur pemandu tidak sesuai standar sehingga tidak bisa digunakan secara maksimal. Disetiap ujung jalur akses yang dibuat selalu diletakkan tiang-tiang (seperti anak catur) sehingga kursi roda tidak bisa masuk,

PERMEN PUPR RI Nomor 14/PRT/M/2017 Tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung, masih belum terlaksana dengan baik/benar. Beberapa fasilitas publik di Kota Banda Aceh yang sudah mulai tersedia aksesibilitasnya, seperti adanya packing blok/jalur pemandu bagi difabel netra, ramp/bidang miring bagi pengguna kursi roda dan rambu-rabu masih belum maksimal pembangunannya. Pemasangan packing blok tidak sesuai dengan standar yang berlaku, kemiringan ramp masih banyak yang terlalu curam, dan rambu-rambu yang  masih kurang jelas informasinya. 

Akhir tahun 2020, Pemerintah Kota Banda Aceh mulai melibatkan difabel dalam perencanaan pembangunan bangunan fisik agar lebih aksesibel bagi semua orang termasuk difabel. Penyediaan aksesibilitas ini menjadi salah satu fokus yang sedang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh sebagai salah satu upaya mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 .

Menidaklanjuti hasil survey Halte Transkoetaradja yang dilakukan oleh 30 orang difabel Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, pada tahun 2016 yang lalu, Walikota Banda Aceh melalui Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh akan melakukan renovasi beberapa Halte Trans Koetaradja yang ada di Kota Banda Aceh. Dalam proses renovasi ini, Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh melakukan koordinasi dengan difabel sebagai konsultan untuk memberikan masukan untuk perbaikan halte agar lebih ramah bagi difabel.

Menurut keterangan Muhammad Zubir, S.SiT., M.Si, selaku Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh mengatakan bahwa, “Kami diperintahkan  Walikota untuk merenofasi Halte Trans Koetaradja agar lebih ramah dan bisa diakses oleh difabel. Tahap pertama ini, halte yang akan direnovasi tidak semua, hanya dibeberapa titik saja karena anggarannya masih terbatas. Jika nanti haltenya sudah bisa digunakan oleh semua orang  setelah direnovasi maka untuk tahun 2021 kita akan mencoba untuk menganggarkan kembali untuk renovasi halte-halte yang lain.”

Lokasi-lokasi yang sudah tersedia aksesibilitasnya di Kota Banda Aceh, diantaranya Taman Bustanul Salatin (Taman Sari), Lapangan Blang Padang, Taman Krueng Daroy, Halte Trans Koetaradja, Trotoar depan Pendopo Gubernur, Trotoar Jalan Raya Batoh, Trotoar Jalan Selawah, dan masih banyak lagi yang tersebar di beberapa ruas jalan raya di Kota Banda Aceh. Pun demikian lokasi-lokasi ini masih perlu dilihat/survey kembali apakah difabel dapat dengan mandiri menggunakan semua fasilitas ini atau tidak.

Apa yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Banda Aceh, diharapkan juga dilakukan di Kabupaten/Kota lainnya yang berada di Provinsi Aceh. Tersedia aksesibilitas yang ramah untuk semua orang tentu tidak akan merugikan pihak manapun, malah akan menguntungkan semua pihak. Tidak ada yang tertinggal dalam proses pembangunan. Semua bisa berpartisipasi aktif di masyarakat tanpa adanya hambatan jika semua sudah terfasilitasi dengan.

“Saya sangat ingin Aceh Besar juga melakukan seperti yang Banda Aceh lakukan. Fasilitas aksesibilitas sudah ada dimana-mana walaupun masih belum maksimal tetapi sudah tersedia. Sedangkan di Aceh Besar, masih jauh sekali dari yang diharapkan. Kemudian, Pemerintah Aceh Besar juga tidak pernah mengajak difabel untuk berdiskusi dalam perencanaan pembangunan Aceh Besar. Jika saja saya diajak untuk ikut memberikan masukkan tentang aksesibilitas, saya sangat senang dan sangat bersedia untuk terlibat,” Ujar Muhajir salah satu pegiat disabilitas Aceh Besar yang tinggal di Lamlhom Lhoknga.[]

 

Reporter: Erlina

Editor      ; Ajiwan arief

 

The subscriber's email address.