Lompat ke isi utama
Figure 1Ilustrasi Konseling, Sumber : https://images.app.goo.gl/TcHt6VrXo71Du2q48

Komunitas Tuli Sulit Akses Layanan Kesehatan Mental

Solider.id, Yogyakarta - Rentang waktu 17-24 Januari 2020, terdapat setidaknya 8 kawan Tuli yang meninggal dunia. Informasi ini terkumpul melalui group whatsapp komunitas Tuli. Kejadian ini tidak terjadi di waktu dan lokasi yang bersamaan. Hanya saja, kejadian ini sedang ramai dibicarakan oleh komunitas Tuli karena beberapa di antaranya meninggal karena bunuh diri. Mereka yang meninggal berasal dari Ketapang, Wates, Jakarta, Yogyakarta, kecelakaan di Jakarta, dan Indramayu.

 

Selama pandemi ini, tidak hanya orang Dengar saja yang mengalami depresi. Kawan-kawan Tuli juga mengalaminya. Sayangnya, kawan-kawan Tuli terhambat akses layanan kesehatan mental karena hampir tidak ada profesi psikolog atau psikiater yang bisa berbahasa isyarat dengan fasih dan tidak mengenal budaya Tuli.

 

Melalui Instagram story milik Surya Sahetapy, aktivis Tuli, Surya menceritakan rasa trauma membaca berita mengenai Tuli yang bunuh diri. “Dari SD sampai sekarang, selalu mendapat berita seperti itu. Agak trauma membaca berita ini, banyak sekali faktor. Akses komunikasi ini sangat vital. Kenapa sejak itu teman-teman mulai memperjuangkan akses”, tulis Surya pada 24 Januari 2021.

 

Surya yang kini menetap di Rochester, Amerika Serikat, menceritakan bahwa disana ada pusat Deaf Wellness untuk mendukung teman-teman Tuli yang ingin mengakhiri kehidupan. “Saya minta tolong mereka buat support Tuli Indonesia, tetapi mereka tidak bisa karena mereka bukan mahasiswa internasional. Kalau di Jakarta, beberapa puskesmas menyediakan layanan psikolog dan gratis menggunakan BPJS, tapi beberapa Tuli lebih nyaman akses psikolog langsung tanpa JBI (Juru Bahasa Isyarat). Artinya psikolog mesti bisa bahasa isyarat atau bisa memahami kebutuhannya”, imbuh Surya.

 

Senada dengan yang disampaikan Surya, Nissi Taruli Felicia, mahasiswi Tuli jurusan arsitektur tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, menyampaikan kepada solider.id bahwa menjadi perempuan Tuli, jauh lebih rentan berkali-kali lipat karena masalah kesehatan mental. “Saya pun memiliki kesalahan mental. Yang menyadari adalah sahabat-sahabat terdekat saya. Permasalahan kesehatan mental di komunitas Tuli sering ditemui hambatan komunikasi. Psikolog seringkali tidak tahu bagaimana treatment yang tepat untuk teman Tuli tanpa tahu-menahu tentang Dunia Tuli. Dalam perspektif saya, ini tidak cukup jika hanya didampingi JBI atau hanya bisa berbahasa isyarat. Saya contohnya, tidak mau ada orang ketiga selama konsultasi dengan psikolog. Saya takut ditatap yang membuat saya sangat tidak nyaman”, ungkap Nissi.

 

Nissi mengingatkan kepada teman-teman Tuli untuk meminta pertolongan dari profesional, seperti menemui psikolog atau psikiater, jika teman-teman Tuli ada keinginan untuk bunuh diri. “Your mental health is matter. Yang paling penting, jika ada temanmu yang bercerita atau ingin bunuh diri, tolong jangan hakimi dulu atau bahkan langsung berkata kurang iman. Itu tidak membantu sama sekali”, pungkas Nissi. (25/1)

 

Ketua Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia), Laura Lesmana, melalui akun Instagram pribadinya @vadera17 mengunggah sebuah video pada 25 Januari 2021 yang menginforkasikan kepada teman-teman Tuli mengenai perlunya konsultasi kepada profesional mengenai kesehatan mental. “Situasinya di Indonesia, ada psikolog yang bisa bahasa isyarat tapi harus membayar atau menggunakan BPJS untuk mendapatkan layanan konsultasi dengan psikolog. Cara lain saat kamu merasa tertekan, perbanyak berkegiatan positif, bertemu dan berinteraksi dengan sahabat, kalau situasi pandemi seperti saat ini bisa melalui video call, jangan memendam permasalahan sendiri. Cobalah ceritakan masalahmu kepada sahabatmu atau kita bisa buat janji, nanti coba kita berdiskusi dan mencari jejaring untuk menyelesaikan masalahmu. Saya harap teman-teman tetap berpikir dan berkegiatan positif. Semangat!”, pungkas Laura menggunakan Bahasa isyarat.[]

 

 

Reporter: Ramadhany Rahmi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.