Lompat ke isi utama
poster diskusi kekerasan perempuan dimasa pandemi

UNFPA Fasilitasi Webinar Respon COVID-19 Pada Kelompok Perempuan, Difabel dan Lainnya

 

Solider.id, Surakarta- Situasi kerentanan perempuan dan anak Indonesia di masa pandemi ini terutama Kekerasan Berbasis Gender secara Online (KBGO) meningkat sangat tajam. Selama pandemi, kasus kekerasan terhadap perempuan total berjumlah 8.234 kasus. Kasus kekerasan terhadap perempuan yang paling banyak di ranah Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) sebanyak 79%. Hal ini disebabkan di situasi pandemi COVID-19, beban perempuan meningkat dibanding sebelum pandemi. Demikian dikatakan oleh Bahrul Fuad, Komisioner Komnas Perempuan pada webinar yang diselenggarakan oleh United Nations Fund for Population Activities (UNFPA), Kamis (3/6).

 

Banyak perubahan terjadi seperti suami dan istri yang harus bekerja dari rumah, dan anak yang belajar secara daring. Survey Komnas Perempuan selama pandemi COVID-19 terhadap 2.200 responden di 34 provinsi, sebanyak 96% perempuan di antaranya mengalami kenaikan beban pekerjaan rumah tangga lebih dari tiga jam dibanding sebelum pandemi. Salah satunya beban mendampingi anak belajar ditimpakan kepada ibu. Survey ini juga mencatat adanya peningkatan ketegangan hubungan antara suami dan istri sehingga berpengaruh terhadap relasi keduanya. Temuan lain dalam survey adalah 88% responden mengalami kekerasan berbasis gender. Dan mereka tidak tahu ke mana hendak melapor. Terkait perempuan difabel, mereka mengalami dua hingga tiga kali kerentanan, apalagi tidak ditunjang dengan layanan kesehatan yang aksesibel.

 

Nur Syarif Ramadhan, aktivis difabel dari Yayasan Perdik Makassar yang juga menjadi narasumber menyatakan bahwa ia terlibat survey dampak pandemi pada masyarakat difabilitas. Organisasi difabilitas melakukan dua kali asesmen yakni di awal pandemi pada April 2020 yang menjangkau 1686 responden dari 32 provinsi, dan yang terbaru adalah asesmen tahap kedua di 34 provinsi. Ada beberapa temuan difabel dobel kerentanan, yang sebelumnya jarang sekali diketahui kondisi mereka. Pada asesmen kedua berhasil menjaring ratusan responden difabel intelektual, mental dan ganda. Temuan awal problem pertama adalah soal aksesibilitas untuk mengakses fasilitas kesehatan, sehingga difabel tidak bisa mandiri. Problem lainnya adalah akses informasi. Banyak teman Tuli yang di awal pandemi tidak punya informasi tentang COVID-19. Terkait soal pendidikan, Nur Syarif banyak mendapat cerita anak muda, untuk menjangkau pendidikan lebih tinggi, dalam proses bimbingan yang diperoleh di sekolah kurang akses dan kurang bahan ajar.

 

Perdik sebagai komunitas difabel yang kebetulan banyak anggotanya berasal dari anak muda, dalam merespon bencana di awal pandemi mencari solusi dengan menggalang donasi publik dan memberikan akses informasi publik, juga menjangkau lansia difabel dan difabel mengakses vitamin dan alat pelindung diri. Respon yang dilakukan saat terjadi bencana di Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Timur, Perdik mencoba membuka jaringan dengan komunitas lokal difabel untuk menentukan respon apa yang bisa diberikan. “Kita sering mendapat cerita pilu, namun kita lebih banyak mendapat cerita positif yang akan membangun semangat,” demikian kata Nur Syarif. Ia mengaku banyak mendapat bimbingan dari aktivis senior. Menutup webinar, Nur Syarif menyatakan apa yang dibutuhkan oleh teman-teman pegiat difabel adalah pelibatan orang-orang difabel dalam tahapan proses pembangunan dari perencanaan, pelaksanaan dan monitoring dan evaluasi. Satu yang menjadi catatan, meski difabel dilibatkan dalam rapat-rapat, tetapi orang-orang yang sudah merasa melibatkannya tidak memenuhi aksesibilitas misalnya saat berbagi slide paparan bergambar yang tidak dipahami oleh difabel netra.[]

 

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.