Lompat ke isi utama
dokumentasi NLR terkait pemberdayaan orang dengan Kusta

Membuka Peluang Kerja Bagi Orang yang Pernah Mengalami Kusta

Solider.id - Orang yang pernah mengalami kusta atau OYPMK sering kali luput dari perhatian banyak pihak. Masih sedikit informasi yang diketahui masyarakat umum terkait individu yang pernah mengalami kusta maupun yang tengah menjalani pengobatan, teridentifikasi sebagai bagian dari masyarakat difabel. Kondisi ini membuat keberadaan mereka lebih terisolir lagi, selain terdiskriminasikan oleh lingkungan.

Secara internasional, Hari Kusta Sedunia  diperingati setiap tahunnya pada minggu terakhir di bulan Januari. Peringatan HKS ini diadakan dengan tujuan untuk mengajak dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kusta atau penyakit hansen. Untuk tahun ini, Hari Kusta Sedunia jatuh pada tanggal 25 Januari 2021 atau bertepatan dengan hari Senin.

Sejarah Hari Kusta Sedunia

Dari sejarahnya,  minggu terakhir Januari dipilih oleh Raoul Follereau dari Prancis sebagai penghargaan atas kehidupan dari Mahatma Gandhi yang memiliki sifat kemanusiaan dengan belas kasih terhadap orang-orang penderita kusta, yang meninggal pada 30 Januari 1948. Sejarah pertama adanya penyakit kusta disebutkan ada di India sekitar awal 600 Sebelum Masehi, yang dilambangkan dengan istilah Sansekerta yaitu Kushtha yang memiliki arti menggerogoti.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, setiap harinya lebih dari enam ratus orang yang didiagnosis dan memulai pengobatan kusta. Di tahun 2014 saja, sudah terdiagnosis orang dengan sakit kusta mencapai angka 213.899 jiwa. dari data tersebut masih diperkirakan jutaan lainnya belum terdiagnosis.

Penderita kusta, mereka banyak menerima kritik bahkan perlakuan yang ketat. Misalnya, mereka harus menggunakan pakaian khusus, mereka dilarang mengunjungi tempat-tempat umum, bahkan mereka juga harus menjaga jarak agar tidak bersentuhan dengan orang lain yang sehat, hingga larangan makan bersama mereka. Selain itu, mereka juga dilarang berjalan di jalan setapak yang sempit atau mencuci di sumber air seperti di sumur umum juga di sungai.

Kusta Di Indonesia

Indonesia mejadi peringkat ketiga di dunia yang masyarakatnya mengalami kusta, setelah India dan Brazil. Badan kesehatan dunia – WHO mencatat, prevalensi atau proporsi dari populasi yang memiliki sebuah karakteristik dalam jangka waktu tertentu, yang dalam dunia kedokteran karakteristik yang dimaksud meliputi penyakit dan faktor risiko, di sepanjang tahun 2018 kusta memiliki angka di nol koma dua per seribu penduduk dengan jumlah pasien baru 208. 619 kasus.

Tingkat eliminasi kusta di tanah air telah tercapai pada tahun 2000 silam. Jawa Timur, salah satu provinsi yang menjadi wilayah tertinggi paparan kusta telah mencapai eliminasinya pada tahun 2016 kemarin. Data terbaru di tahun 2018, jumlah kasus baru di Indonesia mencapai empat belas ribu tiga ratus sembilan puluh tujuh dengan angka temuan kasus lima koma empat puluh tiga per seratus ribu penduduk, dengan total jumlah kasus total kustanya mencapai angka 19.033 dari nol koma tujuh puluh dua per sepuluh ribu penduduk.

Dari data Dinas Kesehatan di Jawa Timur tahun 2019, jumlah penduduk yang terpapar kusta mencapai angka dua ribu enam ratus sepuluh orang. Dengan rincian: untuk di Pulau Madura yaitu tiga ratus delapan puluh satu orang di Sumenep, dua ratus tiga puluh dua orang di Sampang, dan dua ratus tujuh orang di Bangkalan.  

Sedangkan di wilayah Jawa Timur lainnya yaitu, seratus sembilan puluh tiga orang di Pasuruan, seratus tujuh puluh satu orang di Kabupaten Lumajang, seratus dua puluh lima orang di Probolinggo, sembilan puluh dua orang di Tuban, enam puluh lima orang di Pamekasan, dan tiga puluh sembilan orang di Kabupaten Malang. data tersebut masih terus bergerak sesuai dengan up date petugas kesehatan.

Penyediaan lapangan kerja sebagai upaya mengikis stigma kusta

Pokok permasalahan dari isu kusta ini masih merembet. Dari persoalan stigma, hambatan pencegahan dan pengobatan sedari dini, diskriminasi lingkungan sosial, hingga kepada fase ketersediaan lapangan kerja untuk mereka. Sulitnya memperoleh kesempatan kerja bagi Orang yang pernah mengalami kusta atau OYPMK, atau mereka yang menarik diri dari dunia kerja setelah terpapar kusta oleh sebab lingkungan sosial yang tidak nyaman, serta adanya rasa malu untuk menjalani pengobatan, membuat mereka semakin awet dengan lebel stigma. Dampak lebih lanjut adalah, meningkatnya kemiskinan yang terjadi dan teralami oleh mereka yang terpapar kusta.

Kusta merupakan penyakit menular yang proses penularannya tergolong lama atau tidak mudah menularkan. Biasanya terjadi pada penderita kusta yang tidak berobat dan memalui kontak dekat dalam jangka waktu lama dan terus menerus. Sementara bagi orang yang sudah menjalani pengobatan dengan Multi Drug Terapi (MDT) dengan masa enam bulan hingga dua belas bulan, dan dapat diakses di Puskesmas secara gratis ini, tidak lagi berpotensi untuk menularkan.

Menyadari kondisi tersebut dengan pemahaman mumpuni, Lingkar Sosial Indonesia di Malang Jawa Timur sudah mendirikan Omah Difabel, yang digunakan sebagai bengkel produksi dan pemasaran berbagai produk difabel. Termasuk menyediakan lapangan kerja, menggandeng  para Orang yang pernah mengalami kusta atau OYPMK.

Meski belum mendapatkan hasil respon yang maksimal dari para OYPMK, organisasi ini terus berkonitmen untuk merangkul mereka sehingga mereka mampu setara dan produktif seperti difabel lainnya.

“Penyebab masih minimnya partisipasi OYPMK di organisasi kami adalah stigma. Mereka takut jika lingkungan mengetahui bahwa dirinya terpapar kusta, ini perlu adanya penguatan dari jajaran pemerintah terkait di tingkat dasar seperti RT/RW atau Desa. Selain perlunya pendekatan juga alangkah lebih baiknya dilakukan pengantaran ke Omah Difabel sebagai bentuk jaminan perlindungan pemerintah terhadap mereka dari stigma dan diskriminasi,” papar Ken Kerta, ketua organisasi lingkar sosial.

Diampaikan juga, saat ini dari OYPMK sudah ada yang bergabung dan bekerja di bengkel produksinya. Ia berharap, semakin banyak kesadaran dari OYPMK untuk memproduktifkan dirinya, sehingga peluang penyediaan akses lapang kerja yang ada di omah difabel betul-betul dapat dimanfaatkan oleh para difabel, termasuk mereka yang pernah  terpapar kusta.

Cita-cita eliminasi kusta, hapus stigma dan pemberdayaan masyarakat difabel termasuk OYPMK yang menjadi tanggung jawab bersama, akan tercapai secara baik dengan dukungan berbagai pihak.[]  

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.