Lompat ke isi utama
mADA SAAT MENJADI NARASUMBERE DI SALAH SATU TALKSHOW VIRTUAL

Ramadhany Rahmi, Juru Bahasa Isyarat dan Pendamping Perempuan Tuli Korban Kekerasan

Solider.id - Pada tahun 2013, Ramadhany Rahmi biasa dipanggil Mada awal terlibat dalam isu difabel Tuli, diminta oleh Sigab yang membutuhkan Juru Bahasa Isyarat (JBI) saat ada acara workshop. Ia yang bisa berbahasa isyarat (belum disebut JBI) lalu memberanikan diri, dengan dibantu oleh teman Tuli yang membantu bahasa isyarat supaya mudah dipahami teman Tuli dari Makassar, tempat lokakarya dilaksanakan.

 

Sejak saat itu lantas ia berpikir bahwa kebutuhan JBI penting, lalu ia belajar lebih intens lagi dan mengikuti kegiatan relawan, pelatihan-pelatihan yang melibatkan teman Tuli. Ia awalnya sudah senang belajar bahasa isyarat, ditambah dengan dukungan dari teman Tuli yang kebetulan seumuran maka ia merasa lebih percaya diri. Dengan demikian menurut Mada, ia bisa belajar lebih baik lagi sehingga ketika bertugas bisa sesuai dan memenuhi kebutuhan teman Tuli.

 

Bahasa isyarat tiap-tiap daerah itu berbeda, dan itu dipengaruhi oleh faktor geografis, budaya, dan pendidikan, demikian penjelasan Mada. Namun meski berbeda, perbedaannya tidak terlalu besar. Terkait soal apakah sudah ada standar atau belum, Mada menjawab selama ini belum ada standar. Dan masing-masing daerah memiliki bahasa isyarat sendiri-sendiri. “Ini kalau boleh saya bilang dalam bahasa lisan, itu seperti logat yang berbeda-beda,”jelas Mada.

 

Awal Keterlibatan Menjadi Pendamping Perempuan Tuli Korban Kekerasan

 

Berawal dari Yayasan Ciqal pada tahun 2015 mengajak Mada menjadi relawan terlibat mendampingi korban kekerasan seksual, ia kemudian bergelut pada pendampingan korban. Waktu itu ada perempuan Tuli menjadi korban kekerasan seksual yang tidak terakomodir hak-haknya. Akhirnya dengan dibimbing oleh para aktivis yang terlibat lama di isu difabel, Mada belajar tentang apa itu kekerasan seksual.

 

Mada mendampingi korban sebagai teman, mendengar keluhan-keluhan mereka, lalu memberikan solusi dan baginya belajar menjadi jembatan untuk memahami teman Tuli. Ia yang awalnya belajar bahasa isyarat dan terlibat dalam komunitas Tuli kemudian mendapat penghargaan dari teman Tuli sebagai Juru Bahasa Isyarat (JBI).

 

Menurut Mada, untuk mendampingi perempuan Tuli korban kekerasan seksual, ia tidak bekerja sendiri namun berjejaring. Setelah bergabung dengan Yayasan Ciqal, ia kemudian mengikuti training-training, dan karena awalnya pendampingan prosesnya banyak ke pendataan, maka belum banyak menggali secara khusus. Ia banyak dibantu oleh teman Tuli yang lebih senior.

 

Berbicara tentang kerentanan yang dihadapi oleh difabel Tuli, yang paling besar adalah hambatan komunikasi. Kebanyakan korban yang didampingi oleh Mada tidak terbuka kepada keluarganya sehingga hal ini menambah kerentanan. Faktor kedua adalah banyak teman Tuli yang tidak memiliki pamahaman tentang apa itu kekerasan seksual. Menurut Mada, teman Tuli mengalami kesulitan untuk memahami konsep tentang seks, seksual dan seksualitas. Jadi perlu dijelaskan lebih awal terkait pemahaman bahwa seks itu adalah jenis kelamin, sebab jika tidak dijelaskan mereka menganggap tabu. Baru kemudian menginjak pemahaman tentang seksual dan seksualitas.

 

Mada mengisahkan pengalaman sebuah even di sebuah FGD bertema tentang kekerasan seksual yang diikuti oleh 30 difabel Tuli, akhirnya setelah acara, Mada dibanjiri pertanyaan oleh para perempuan Tuli tersebut lalu banyak yang mencurahkan masalahnya. Menurut Mada, fenomena kekerasan pada teman Tuli itu seperti snow ball.

 

Sedangkan sebagai pendamping, Mada ingin dibedakan fungsinya sebagai JBI murni penerjemah atau pendamping korban yang pastinya akan berperspektif korban karena selama ini dia melakukan keduanya. Terkait hambatan, ia merasa bahasa isyarat yang dikuasainya masih terbatas. Terkadang tidak nyambung komunikasi yang dijalin dengan korban.

 

Ia bersiasat dengan mengajak JBI Tuli untuk membantu proses komunikasi. Tugas JBI Tuli menerjemahkan bahasa isyarat Mada agar menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami oleh korban, dan juga sebaliknya, bahasa isyarat korban kemudian diterjemahkan ke Mada dengan bahasa isyarat standar, sebab biasanya korban menggunakan bahasa isyarat alami rumahan.

 

Hambatan lain yang dialami Mada adalah banyak aparat penegak hukum yang belum memiliki perspektif sehingga menyalahkan korban, dan sebagai pendamping korban, ia dianggap tidak resmi. Ia merekomendasikan agar teman Tuli aktif bersuara, dan cobalah mengkomunikasikan permasalahannya kepada orang yang dipercaya.

 

Dalam rangkaian 16 HAKtP 2020 dan memperingati hari difabel, untuk kesekian kalinya Mada tampil di LetSSTalk_Sexualities. Jika biasanya dia tampil sebagai JBI, kali ini lulusan S1 Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu hadir sebagai narasumber yang berbagi kepada peserta IG Live akun @LetSSTalk_Sexualities tentang pengalamannya sebagai JBI dan pendampingan 50 kasus perempuan Tuli yang menjadi korban kekerasan selama ia menjadi relawan di Yayasan Ciqal selama tiga tahun.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.