Lompat ke isi utama
poster kegiatan Dnetwork

D’Network Kenalkan Berbagai Profesi Bagi Difabel

Solider.id - Tidak mudah bagi Annisa Rahmania atau biasa dipanggil Nia, hingga bisa menapak seperti hari ini. Nia sejak 2019 menjadi Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNP) setelah empat tahun mengarungi berbagai tahap pekerjaan seperti magang, lalu bekerja di HWDI membuat buku komik tentang Undang-Undang nomor 8 tahun 2016. Nia juga bergiat dalam gerakan-gerakan advokasi bagi difabel seperti di Young Voice. Di sana selain belajar advokasi, ia juga belajar tentang bersosialisasi serta belajar memanfaatkan situasi dan teknologi. Terbukti Nia pernah ikut advokasi lewat Deaf Legal Advocacy Worldwide pada Maret 2017. Demikian dikatakan Nia saat talkshow D’Network via zoommeeting mengenal berbagai profesi pada Minggu (6/6). 

 

Nia saat ini bekerja di Kementerian Perhubungan tepatnya di Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek dengan status PPNP. Nia yang sejak semula aktif di Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT), di kantor memiliki tugas mengurus surat-surat, mendesain media publikasi dan mengadvokasi. Menurutnya, sebagai pegawai Tuli, ia juga menghadapi masalah-masalah terutama komunikasi. Namun sitausi itu kemudian bisa ia atasi dengan menemukan empat referensi cara berkomunikasi yang akses bagi dirinya yakni dengan WhatsApp, Google Drive, menggunakan live transcription dan Juru Bahasa Isyarat (JBI). Ia memberikan tips kepada 40 peserta talkshow yang sebagian besar mahasiswa difabel, yakni memupuk percaya diri, menggali terus pengalaman hidup, berkontribusi dalam setiap kehidupan serta mau belajar tentang apa pun. Nia pernah mendapatkan penghargaan sebagai PPNP favorit.

 

Hal senada jauga dikatakan oleh Dendy Arifianto, yang mengalami kebutaan saat masih duduk di bangku kuliah. Dendy saat ini yang bekerja sebagai PNS menyatakan, setelah mengalami kebutaan, ia kemudian banyak mengikuti pelatihan untuk menunjang pengetahuan difabilitasnya.  Dendy juga aktif di komunitas difabel dan inklusi dengan melakukan kongkow-kongkow yang bermanfaat dengan mengikuti perkembangan teknologi bagi netra seperti apilkasi terbaru dan nyaman baginya.

 

Dendy mengaku sebelumnya sudah mencoba tiga kali ikut tes CPNS, namun gagal. Baru setelah keempat kali ia diterima di lembaga pemerintah nonstruktural yang menginduk langsung ke presiden dengan melakukan upaya-upaya kerja pemerintah di bidang Hak Asasi Manusia (HAM). Semula ia hendak ditempatkan berdinas di luar Jawa, namun kemudian urung karena pengertian dari kantor tempatnya bekerja paham bahwa kantor di luar Jawa belum akses bagi difabel netra. Seperti halnya calon pegawai lainnya, meski lewat jalur afirmatif, Dendy juga menjalani tes administrasi, kompetensi dasar lalu kompetensi bidang. Ia sempat memberikan kritik kepada panitia seleksi mengapa tes yang ia ikuti masih memakai gambar. Saat ini pekerjaan Dendy adalah melakukan analisis data, auditor aksesibilitas juga memeriksa aksesibilitas web.

 

Ia memberi semangat kepada para peserta talkshow agar kelak jika ada yang mencoba mengikuti tes CPNS, atau sudah diterima sebagai ASN, jika menjalani pelatihan, kadang peserta difabel seorang diri. Maka hal yang harus dipupuk adalah kepercayaan diri. Jika belum berhasil juga saat melamar pekerjaan atau CPNS, maka ia menyarankan untuk mengisi kegiatan dengan hal-hal yang menambah kemampuan diri misalnya menulis. Karena menurutnya kemampuan menulis bagi difabel bisa diandalkan tatkala difabel tersebut mendapatkan job pekerjaan, seperti yang saat ini dialaminya.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.