Lompat ke isi utama
peserta workshop ideaksi

Workshop Kedua Ideaksi: Memetakan Pengetahuan dan Aktor

Solider.id,Yogyakarta -Yakkum Emergency Unit (YEU) kembali menggelar worskop Ideaksi, Rabu (2/6). Ini merupakan kali keduanya bagi YEU, dengan mengambil tema “Peta Pengetahuan, Peta Aktor dan Perencanaan Penelitian”. Workshop ini direncanakan akan diikuti oleh 15 tim inovator lokal yang lolos tahap concept note.

 

Ratna Susi, penasihat inklusi YEU, memulai sesi workshop dengan materinya mengenai standar inklusi kemanusiaan bagi disabilitas dan lansia. Susi, begitu ia disapa, menuturkan jika inklusi merupakan sebuah proses dimana setiap orang dengan berbagai macam latar belakang baik usia, agama, disabilitas, jenis kelamin/preferensi seksual, maupun kebangsaan dapat berpartisipasi secara penuh dalam setiap aspek kehidupan.

 

Jika dilihat lebih jauh, adanya inklusi ini sebenarnya merujuk pada hak asasi manusia. Dimana seluruh manusia memiliki hak yang sama dan lingkungan wajib menyediakan akomodasi yang layak sesuai dengan kebutuhan mereka. Menurut Susi, setidaknya terdapat tiga kunci utama dalam meraih inklusifitas yaitu mengidentifikasi dan menghilangkan hambatan, pengelolaan data dan informasi, partisipasi disabiitas dan lansia dalam konteks penguatan kapasitas mereka.

 

Baca Juga: Workshop Pertama IDEAKSI: Metode Efektif dalam Mengidentifikasi Akar Permasalahan

 

Apabila dikaitkan dengan Program Ideaksi, jelas aspek inklusi ini merupakan hal penting dalam menciptakan inovasi yang dapat menjangkau semua orang. “Kita ingin memastikan bahwa inovasi yang digagas benar-benar inklusi baik dari segi aksesibilitas maupun sistemnya,” jelasnya.

 

Sementara itu, menurut Debora Dian Utami selaku project manager Program Ideaksi menerangkan bahwa dalam proses inovasi sendiri terdiri dari beberapa tahap. Mulai dari pengenalan, pencarian masalah, adaptasi, penemuman solusi, percobaan, hingga scale up (peningkatan).

“Maka tim inovator lokal perlu melakukan pemetaan terhadap pengetahuan. Pertama, mengenai informasi asal muasal dan ruang lingkup masalah. Kedua, informasi lingkungan operasional terjadi masalah dan terakhir terkait informasi mengenai solusi yang ada dan bagaimana cara menanganinya,“ jabarnya.

 

Selain itu, Amie menyoroti pentingnya memahami siapa aktor yang terlibat. Mulai dari aktor primer seperti masyarakat terdampak maupun pelaksana programnya yang tentunya memiliki tanggungjawab penuh dalam mengambil keputusan. Aktor sekunder atau pihak yang berperan mendukung seperti akademisi, badan usaha, lembaga pemerintahan, dan LSM. Serta pihak DPRD dan pemerintah pusat maupun daerah selaku pemangku kepentingan.

 

Setelah paparan dari Amie, ke-15 tim inovator lokal tersebut diminta melalukan diskusi dengan timnya masing-masing untuk membahas mengenai pemetaan pengetahuan dan mengidentifikasi kira-kira siapa saja aktor yang berkaitan dengan inovasi mereka.

 

Terakhir, Dhinar Risky selaku community organizer Program Ideaksi menjelaskan secara umum terkait penelitian yang wajib dilakukan oleh tim inovator lokal. Dhinar mengungkapkan bahwa masing-masing tim akan mendapatkan pendanaan sebesar Rp3.000.000,- untuk menjalankan penelitian tersebut. Diharapkan dari penelitian itu akan lebih menajamkan lagi terkait masalah yang sebenarnya harus diselesaikan dengan melibatkan kelompok rentan seperti disabilitas dan lansia.[]

 

Reporter: Bima Indra

Reporter:  Ajiwan Arief

The subscriber's email address.