Lompat ke isi utama
gambaran ilustrasi bahaya rokok

Stop Merokok, Kurangi Resiko Kehamilan Menjadi Difabel di Dunia

Solider.id, - Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah mencanangkan World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia sejak 1987, dan resmi diperingati pada 31 Mei setiap tahunnya. Berdasarkan data mereka, angka kematian dini akibat mengkonsumsi rokok saat itu sudah lebih dari dua juta di seluruh dunia. Untuk tahun ini, WHO mengusung tema ‘Commite to quit,’ atau ‘Komitmen untuk berhenti.’

 

Di Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan RI terus berupaya dalam pencegahan, pengurangan, bahkan menghentikan masyarakat perokok guna mewujudkan masyarakat yang sehat. Peringatan kesehatan yang tertera pada kemasannya, merupakan fakta aktivitas merokok membahayakan dan memicu gangguan paru-paru, kanker, serangan jantung, impotensi, penyakit darah, enfisema, stroke dan gangguan kehamilan. (Kemenkes RI)

 

Hidup Penuh Tantangan Sebagai Difabel, Hindari Regenerasi dengan Berhenti Merokok

Hidup sebagai difabel di Indonesia masih menemui banyak tantangan dan bahkan diskriminasi. Upaya untuk menghentikan matarantai regenerasi masyarakat difabel sudah barang tentu jadi perhatian dan bahkan prioritas bagi semua pihak. Berbagai upaya harus dilakukan untuk menghentikan aktivitas merokok yang dianggap sebagai salah satu cara efektif untuk mengurangi potensi bayi lahir dengan kondisi prematur dan bahkan menjadi difabel.

 

Banyaknya zat berbahaya yang terkandung pada rokok juga dapat menaikan tingkat risiko pada maslah kehamilan. Salah satu yang diprediksikan olah para ahli tenaga kesehatan bagi mereka yang memiliki kebiasaan merokok (perokok aktif) saat kondisi hamil atau sering kali menghirup asap rokok (perokok pasif) adalah sangat memungkinkan meningkatkan, berpotensi kelahiran prematur dan kedifabelan bawaan pada janin.

 

Baca Juga: Prevalensi Dampak Rokok terhadap Bayi Lahir Stunting dan Difabel

 

Misalnya, kandungan zat karbon monoksida pada asap rokok dapat menghambat aliran oksigen dan asupan nutrisi untuk janin. Kondisi ini berpotensi terganggunya pernapasan janin serta denyut jantungnya menjadi lebih cepat.

 

Berikut adalah berbagai dampak bagi kesehatan janin akibat rokok

  1. Janin terlahir dengan berat badan rendah atau prematur. (2) Sindrom kematian bayi mendadak resikonya akan lebih tinggi. (3) Gangguan pernapasan seperti  akibat ISPA, pneumonia, atau asma. (4) Mengalami kedifabelan sejak lahir, misal gangguan pada otak dan saraf, atau kelainan pada organ dan bagian tubuh lain seperti gastroschisis. (5) Gangguan tumbuh kembang. (6) Kedifabelan psikologis misal ADHD dan autisme.

 

Berikut adalah berbagai dampak bagi kesehatan ibu hamil akibat rokok

(1) Berbagai gangguan pada plasenta, misalnya plasenta previa dan solusio. Atau lepasnya plasenta dari dinding dalam rahim sebelum proses kelahiran bayi. (2) Ketuban pecah dini. (3) Berpotensi mengalami keguguran.

Cara membantu ibu hamil menghindari rokok dan terhindar dari asapnya antara lain: Hindari stres yang menimbulkan keinginan untuk merokok atau berkumpul dengan perokok. Fokus pada kesehatan diri dan janinnya. Hindari asap rokok dimana pun. Ganti rokok dengan premen, aktivitas olahraga atau meditasi.

Kandungan rokok yang bersifat merusak

  1. Karbon monoksida yang merupakan gas beracun berisiko pada gangguan jantung. (2) Nikotin zat yang memiliki efek candu berisiko pada gangguan otak dan saraf. (3) Tar zat bersifat karsigonetik yang dapat mengendap di paru-paru berisiko kanker mulut, kanker paru-paru, emfisema, gangguan kesuburan. (4) Hidrogen sianida yang merupakan senyawa racun lainnya berisiko pada paru-paru dan sakit kepala. (5) Benzena yang merupakan residu dari pembakaran rokok berisiko leukimia. (6) Formaldehida yang merupakan residu dari pembakaran rokok berisiko kanker nasofaring. (7) Arsenik golongan pertama karsinogen berisiko kanker hati. (8) Kadmium yang terdapat pada asap rokok berisiko gagal ginjal dan berpotensi kanker. (9) Amonia gas beracun yang menyengat berisiko pneumonia dan kanker tenggorokan. (dr. Kevin Adrian – Kemenkes)

 

Stop Kebiasaan merokok demi kesehatan

Mereka bisa tanpa merokok. Perwakilan dari masyarakat difabel ini mampu menghindar dari kenikmatan merokok.

“Tidak merokok, tidak saja. Kurang baik untuk kesehatan kita dan agama pun menghukuminya makruh,” tutur  Endang Gunawan S. Sos.1 (42) asal Kota Bandung, mewakili difabel fisik polio.

Endang juga mengajak kepada masyarakat yang belum pernah merokok agar jangan mencobanya agar tidak kecanduan. Dan untuk mereka yang sudah terlanjur merokok agar mampu mengurangi karena dapat menggangu kesehatan. 

“Merokok itu membunuh secara perlahan,” tegas Wildan Yusbandi (35) asal Riau, mewakili difabel Netra.

Senada dengan mereka, diusia remajanya Samsi Hidayah asal Bandung, mewakili difabel Tuli pun menyampaikan dirinya tidak merokok.

Kurangi komsumsi tembakau dengan kurangi merokok dan wujudkan dunia tanpa asap rokok agar lebih sehat. Hindari dampak risiko kelahiran prematur pada ibu hamil dan risiko kedifabelan sejak lahir pada janin sedari dini.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.