Lompat ke isi utama
ilustrasi ajakan untuk berhenti merokok, sumber dari google

Prevalensi Dampak Rokok terhadap Bayi Lahir Stunting dan Difabel

Rokok dan Prevalensi Kelahiran Bayi Stunting | Solider NewsSolider.id, Yogyakarta –Tak bisa dipungkiri, rokok kini sudah menjadi kebutuhan pokok  bagi sebagian manusia. Produk tembakau itu sangat mudah didapatkan dan memiliki tempat tersendiri sebagai komoditas. Bahkan, bagi keuangan negara,  produk rokok menyumbang pemasukan melalui cukai yang dikenakan pada  produk rokok, hingga mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. 

 

Sampai sekarang, rokok bisa bebas dijual di mana-mana, bahkan bisa  dibeli dengan mudah secara eceran. Sebagai komoditas, produk rokok  mendatangkan keuntungan. Tidak saja bagi produsen, namun pedagang besar  maupun kecil di pasar. Bagi masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan,  saat ini belanja rokok lebih dinilai penting dibanding belanja makanan.

 

Realitas  ini telah menempatkan rokok pada urutan kedua setelah kebutuhan pokok,  yakni beras. Meski kondisi itu kontradiktif dengan kesejahtaraan masyarakat  namun kenyataannya sampai sekarang kebijakan tentang produk rokok masih  saja belum beranjak.

 

Berdasar temuan yang dilansir Dirjen Pencegahan dan  Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2TM) Kementerian Kesehatan RI, pengeluaran untuk membeli rokok sebesar 1 persen akan meningkatkan  probabilitas rumah tangga menjadi miskin naik sebesar 6 persen.

 

Sebuah ironi  ketika secara empiris volume rokok yang beredar di tengah masyarakat  semakin banyak. Menurut Plt Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Direktorat  Jenderal Bea dan Cukai Nugroho Wahyu Widodo, volume penjualan rokok  pada semester I Januari – Juni 2018 sebanyak 272 miliar batang.  Sedangkan pada tahun 2017 Januaru-Juni 288 batang. Menurut Data Survei  Kesehatan Nasional total penjualan rokok pada tahun 2017 sebanyak 336 miliar  batang. (tempo.co 14/4/2018).

 

Bagaimana keadaan ini bisa dibantah, alih-alih  dicegah, jika pada kenyataannya volume produksi rokok makin banyak. Itu  artinya kebutuhan pasar sungguh sebagai ladang bisnis yang menggiurkan berbagai pihak. Belum lagi penetrasi pasar melalui iklan yang semakin masif di  berbagai media, khususnya media elektronika televisi.

 

Dalam iklan berbagai  gimmick mengkamuflase bahwa mengkonsumsi produk adiktif itu adalah  tindakan yang baik, menghasilkan kreativitas individu, mengukur keunggulan,  bernilai bahkan disebut sebagai sesuatu hal yang rasional, berkaitan dengan  intelektual seseorang dan macho.

 

Hal ini kiranya sesuai dengan apa yang  dilansir Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak  Menular (P2TM) Kementerian Kesehatan RI, ada kecenderungan prevalensi merokok terlihat lebih besar pada kelompok anak-anak dan remaja usia 18 dari  7,2 persen naik menjadi 9 persen pada tahun 2013 dan tiap tahun terus naik.  Sekarang 9,1 persen perokok muda. Upaya pengendalian melalui  diterapkannya kawasan tanpa rokok/ cukai rokok naik tidak efektif bila rokok  masih bisa dijual secara eceran. (media indonesia.com- 05/10/2019). 

 

Sulit dibatasi 

Tidak adanya aturan pembatasan penjualan rokok, dikeluhkan oleh  berbagai pihak, terutama mereka yang melihat rokok dalam perspektif  kesehatan. Meski sudah terbit Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun  2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa  produk tembakau bagi kesehatan, ada kenyataannya peredaran rokok tetap  saja sulit dibatasi, masih bisa dilakukan secara bebas dan nyaris tak terkendali.

 

Pada Pasal 25 PP 109/2012 tentang Peredaran, misalnya, disebutkan antara  lain bahwa setiap orang dilarang menjual produk tembakau menggunakan  mesin layan diri, kepada anak di bawah usia 18 tahun dan kepada perempuan  hamil. Sedangkan upaya pengendalian lain ada pada Pasal 26, yakni  pemerintah melakukan pengendalian iklan produk tembakau. Pengendalian  iklan produk tembakau dilakukan pada media cetak, media penyiaran, media  teknologi informasi dan media luar ruang. 

 

Bagaimana kenyataan di lapangan? Ternyata upaya pengendalian  tersebut belum secara signifikan bisa dikatakan berhasil. Iklan rokok di media  televisi adalah contoh bukti nyata atas hal tersebut. Belum lagi iklan rokok  pada media luar ruang yang tumbuh tak terkendali menyesaki ruang publik  kota sebagai sampah visual. 

 

Stunting dan Difabel

Dampak akibat merokok tentu saja tidak bisa dianggap sepele. Terlebih  ketika rokok dikonsumsi oleh para perempuan, lebih khusus lagi perempuan hamil. Rokok membawa dampak buruk bagi kesehatan janin. Ada banyak  penyakit tidak menular yang dipicu karena paparan asap rokok, salah  satunya adalah kelainan bawaan pada bayi baru lahir.

 

Organ janin mulai  terbentuk pada usia tiga bulan pertama kehamilan. Setelah terbentuk  sempurna, bayi akan berkembang hingga mencapai berat badan yang cukup  untuk lahir. Apabila pada masa ini perempuan hamil merokok atau terpapar  asap rokok secara terus menerus, maka janin akan kekurangan oksigen. 

 

Akibatnya pembentukan organ janin kurang sempurna. Hal ini dapat  berdampak janin lahir dengan masalah langit-langit mulut dan bibir yang  tidak sempura, atau kelainan pada jantung. Akibat lain jika janin tidak  mendapatkan oksigenasi dengan baik, maka tumbuh kembang fisik  terganggu, dampaknya janin terlahir “cacat” atau difabel.

 

Batok kepala tidak  terbentuk sempurna, satu contoh. Berat badan bayi baru lahir rendah, yang  sulit diperbaiki. Dampaknya bayi menjadi stunting, terganggu perkembangan  fisik dan intelektualnya. Sedangkan menurut P2TM, secara mengejutkan,  ditemukan anak-anak yang tinggal di rumah tangga dengan orang tua perokok  kronis serta perokok transien, cenderung memiliki pertumbuhan lebih lambat  dalam berat dan tinggi badan, dibandingkan orang tua yang tidak merokok. 

 

Anak dengan orangtua perokok kronis memiliki probabilitas mengalami  stunting 5,5 persen lebih tinggi. Selain stunting, anak juga mempunyai  kecenderungan untuk mengalami penurunan kecerdasan/ kognitif. 

Ahli gizi dr Tan Shot Yen mengatakan, rokok mengandung sekitar 4.000 racun dan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan ibu dan bayi. Ibu  hamil yang merokok maupun menghirup asap rokok dari suami atau  lingkungannya akan terpapar nikotin rokok yang akan meracuni bayi melalui  darah.

 

Selain itu, zat beracun seperti Karbon Monoksida (CO) yang dihasilkan  ketika proses merokok juga membahayakan kesehatan bayi. Hemoglobin di  dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh lebih mudah mengikat CO. Ketika sudah terikat  dengan CO, hemoglobin tidak lagi mengangkut oksigen.

 

Akibatnya janin  dalam kandungan kekurangan oksigen. Jika CO juga ikut masuk dan beredar  di dalam darah, maka akhirnya terjadi ‘kecacatan’ kehamilan. Anak lahir  dengan berat badan rendah atau ‘cacat’. Berat badan bayi baru lahir rendah menyebabkan kelainan permanen yang dibawa anak hingga besar. Misalnya  anemia sejak kecil. Didukung dengan rendahnya kemampuan keluarga  memenuhi gizi lengkap bagi anak menyebabkan tingkat kecerdasan anak ikut  terganggu.  

 

Merokok bagi ibu hamil tentu berisiko bagi kesehatan diri dan janin yang  dikandung, hal ini karena adanya kandungan bahan kimia berbahaya: nikotin,  tar, dan karbon monoksida.

 

Para ibu yang merokok secara aktif maupun yang  merokok saat hamil akan berisiko terkena komplikasi kehamilan yang berakibat  fatal. Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan, anak yang terlahir dari  para ibu yang merokok saat hamil, terutama perokok aktif, menghadapi  peningkatan risiko mengalami Attention-Deficit/Hiperactivity Disorder (ADHD).  

 

ADHD adalah gangguan pada perkembangan otak anak yang dapat  menyebabkan anak hiperaktif dan kesulitan untuk memusatkan perhatian.  Para ibu yang merokok saat kehamilan memiliki risiko 60 persen lebih tinggi  untuk melahirkan anak dengan ADHD dibandingkan dengan mereka yang tidak  merokok (tirto.id –24/10/2019) 

 

Anak-anak yang lahir dan besar di tengah kepungan asap rokok juga  mengalami gangguan hormon reproduksi, berisiko kanker leukimia (kanker  darah), kanker paru, dan tumbuh kembang otak terhambat.

 

Akibat tumbuh  kembang anak terhambat menimbulkan persoalan lain lagi, yakni seorang  anak bisa menjadi penyandang disabilitas (difabel), misalnya down  syndrome, atau slow learner.

 

Tentu saja, bagi difabel, hidup harus dilalui  dengan keniscayaan berbeda, dan itu artinya lebih berat dibanding orang lain  yang bukan difabel. Tantangan untuk mempertahankan hidup sebagai  seorang penyandang difabel, dalam iklim dan tatanan masyarakat di negara  ini, masih sangat berat dan tidak setara. Berbagai perlakuan diskriminatif,  bahkan oleh negara sekalipun, masih sering terjadi dan dialami oleh difabel.[]  

 

Reporter: harta nining wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.