Lompat ke isi utama
Selma Blair menggunakan tongkat (sumber foto majalah Harper Bazaar)

Mengenal Adaptive Clothing

Solider.id – Anggiasari Puji Aryani menyatakan bahwa salah satu keuntungan bagi perusahaan yang mempekerjakan Difabel adalah mereka memahami kebutuhan Difabel lebih baik. Hal ini menjadikan segmen kebutuhan khusus Difabel membuka peluang pasar. Pegiat Difabel yang saat ini aktif di parlemen ini menyebutkan salah satunya adalah munculnya adaptive clothing line, atau lini pakaian adaptif. Pernyataan ini diungkapkannya dalam Webinar Literasi Digital “Peluang Kerja Jaman Now Bagi Disabilitas”.

Sebenarnya apa itu adaptive clothing itu?

Kesulitan Memakai Pakaian

Bagi beberapa Difabel, memakai pakaian dengan model lubang kancing ataupun kancing tari (ritsleting). Padahal sebagian besar pakaian yang tersedia di pasaran menggunakan kedua jenis kancing ini. Ini menyebabkan Difabel dengan cedera tulang belakang, Difabel mental intelektual, juga beberapa jenis Difabel fisik lain terkendala dalam memakai pakaian. Oleh karenanya, beberapa penyesuaian digunakan diantaranya mengganti kancing dengan jenis kancing magnet atau dengan menggunakan perekat Velcro.

Ide membuat desain pakaian yang memudahkan pengguna dengan kebutuhan khusus inilah yang menjadikan adaptive clothing line muncul. Desain ini bukan hanya memudahkan Difabel saja, tetapi juga bisa digunakan oleh lansia dan mereka yang dalam kondisi seperti pemulihan dari cedera. Desain ini mengedepankan kemudahan, kenyamanan dan mendukung kemandirian masing-masing individu dalam berbusana.

Secara penggolongan peruntukan, ada lima kategori khusus adaptive clothing line menurut laman www.iacess.line, kelimanya adalah:

Pertama, Difabel dengan kesulitan gerak seperti paraplegia, muscular dystrophy, orang dengan patah tulang. Mereka ini mengalami hambatan dalam menggerakkan atau mengontrol beberapa bagian tubuh. Desain bagi mereka adalah dengan bagian belakang yang terbuka sehingga mudah untuk dipakai dan dibuka dengan pergerakan tubuh yang minimal.

Kedua, desain yang dikhususkan bagi penyandang Alzheimer. Desain pakaian tanpa sistem kancing ini tepat untuk mereka gunakan. Dalam memakai dan membuka pakaian, mereka cukup dimudahkan dengan model pakaian ini tidak perlu direpotkan dengan deretan kancing-kancing.

Ketiga, desain untuk mereka yang memiliki edema atau pembengkakan tubuh. Bagi mereka, ide pakaian yang tepat adalah dengan jenis celana atau sepatu yang bisa ukurannya mudah untuk diatur. Bagi mereka ini, celana dan sepatu yang umumnya tersedia di pasaran sulit digunakan karena pembengkakan di bagian kaki ataupun telapak kaki.

Keempat, desain yang dikhususkan bagi orang dengan gangguan mengendalikan kandung kemih atau penyakit inkontinensia. Pakaian yang cocok bagi mereka adalah jenis pakaian yang diadaptasi agar mudah dan cepat dibuka, yang memungkinkan dilakukan secara tersembunyi. Jenis pakaian ini nyaman digunakan untuk mengakomodasi gangguan dalam mengontrol keluarnya urin.

Kelima, desain khusus bagi penyandang Arthritis dan Parkinson yang memiliki keterbatasan kemampuan motorik. Bagi mereka, jenis pakaian yang tepat adalah dengan menggunakan sistem kancing magnet atau perekat.

Sejumlah brand internasional ternama telah memperkenalkan adaptive fashion line yang mereka miliki. Sebut saja Nike FlyEase, Tommy Hilfiger Adaptive, Billy Footwear, juga Zappos Adaptive. Di Indonesia sendiri sudah ada toko online www.adaptiveclothing.id yang menyediakan desain khusus ini. Sayangnya dalam laman ini, kata penyandang cacat masih digunakan sebagai penyebutan bagi konsumennya.

Selma Blair

Aktris ternama Hollywood Selma Blair merupakan salah satu orang yang mempromosikan desain ini. Setelah didiagnosa mengidap Multiple Sclerosis (MD) pada 2013, dia menyatakan bahwa aksesibel fashion sebaiknya adalah yang melekat sempurna dan terlihat keren.

Dalam wawancara dengan majalah Vanity pada 2019 lalu, dia menyebutkan bahwa fashion bagi Difabel masih minim. Oleh karena itu ingin bekerjasama untuk mengembangakan fashion bagi semua orang, bukan hanya mereka yang membutuhkan adaptive clothing, tetapi juga mereka yang membutuhkan kenyamanan bagi berpakaian.[]

 

Reporter: Ida Putri

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.