Lompat ke isi utama
DR. Subagja. Ketua Program Studi (Kaprodi) Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Ngopi Online Solider, Sajikan Perbincangan Hangat Seputar SMJD UNS Surakarta (#2)

 

Solider.id, Yogyakarta - Ngopi online#2 kali ini menghadirkan DR. Subagja. Ketua Program Studi (Kaprodi) Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sebelumnya, selama dua periode DR. Subagja menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Difabel (PSD) UNS Surakarta, yang saat ini dijabat Prof. DR. Munawir Yusuf, M.Psi.

 

Perbincangan dengan DR. Subagja berlangsung selama kurang lebih 45 menit. Pagi hari, Jumat (28/5) mulai pukul 06.15 WIB hingga 07.00 WIB, dalam perjalanan menuju kampus, Konsultan PLB itu meluangkan waktu untuk Solider.id.  Sebuah perjalanan dengan moda transportasi kereta api dari kediamannya di Klaten menuju stasiun Purwosari, lalu menggunakan taxi untuk mencapai kampus.

 

Tanya jawab terkait syarat khusus Seleksi Masuk Jalur Disabilitas (SMJD), berlangsung santai. Satu demi satu pertanyaan Solider.id, dia jawab dengan ditambahkan penjelasan-penjelasan.

 

Baca Juga: Ngopi Online Solider, Sajikan Perbincangan Hangat Seputar SMJD UNS Surakarta (#1)

 

Terkait surat keterangan disabilitas. Kepada Solider, doktor lulusan UGM itu menjelaskan latar belakang dan motivasi UNS memberlakukan syarat tersebut. Ketika SMJD tahap pertama (2020), kata dia, terdapat 150 lebih pendaftar calon mahasiswa yang mendaftar. Tetapi, yang datang wawancara hanya 8 peserta, selebihnya bukan difabel.

 

“Surat keterangan disabilitas diperlukan! Ini untuk menekankan bahwa jalur SMJD hanya bisa diikuti oleh difabel, tidak bisa diikuti oleh non difabel. Itu motivasi yang melatarbelakangi,” terangnya.

 

Lanjutnya, “surat keterangan dokter dan psikolog harus sesuai dengan jenis disabilitasnya. Kalau autis dan grahita ya ke psikolog. Kalau disabilitas fisik ya ke dokter,” terangnya.

 

Bagaimana dengan persyaratan tes IQ? Apakah hasil tes dapat dijadikan dasar seleksi, jika psikolog tidak paham dengan kebutuhan difabel? “Yang itu sebenarnya saya tidak memasukkan,” jawab DR Subagja.

 

“Bagaimana psikolog akan mengetes anak grahita? Ini gak bisa, karena gak ada instrumennya. Yang ada di Amerika, seluruh Indonesia tiak ada. Kalua psikolognya gak bisa ngetes, lalu untuk apa tes IQ? Jika hasil tes tidak valid, terus bagaimana?” beragam pertanyaan kritis Subagja.

 

“Tes IQ, sesungguhnya tidak signifikan dipersyaratkan. Terlebih, mahasiswa umum tidak ada persyaratan tes psikologi, jadi kenapa mahasiswa difabel harus tes psikologi?” ujar Subagja.

 

Tapi, sarannya, karena itu sudah terlanjur disyaratkan, harus dipenuhi. Ada yang tidak kalah penting, yaitu portopolio berupa penghargaan yang dimiliki calon mahasiswa, ditunjukkan saat wawancara.

 

Kriteria lolos seleksi

 

Selanjutnya, yang akan menentukan lulus dan tidak adalah panitia seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Hasil wawancara dan portopolio akan dientri, lalu diambil yang tertinggi. Pada tiap-tiap prodi (jurusan) ada dua kuota.

 

“Jika pendaftar melebihi kuota, dengan sendirinya dua terbaik yang diterima. Namanya juga seleksi, jika pendaftar melebihi kuota pasti ada yang tidak terseleksi alias gugur,” ungkapnya.

 

Lanjutnya, sesungguhnya UNS juga memberikan fasilitas pendampingan bagi calon mahasiswa dalam pemilihan jurusan. Tetapi fasilitas itu tidak banyak dimanfaatkan oleh calon mahasiswa difabel.

 

Diterangkan pula bahwa kriteria seleksi menurut dia ialah, semakin difabel semakin tinggi skornya. Dicontohkanya, selesksi pada sesama difabel fisik. “Semakin ada kepastian difabilitasnya, skornya 5. Semakin tidak disabilitas semakin rendah. Semakin tinggi IQ semakin tinggi skornya,” ujarnya.

 

Kriteria dibuat, karena adanya kasus pada SMJD sebelumnya. Yaitu yang diterima yang fisiknya bagus.

 

Sedang terkait syarat poin c, yaitu wawancara dan hasilnya? Diakuinya bahwa tidak semua pewawancara dalam team seleksi SMJD mendalami disabilitas. Menurutnya, jika pewawancara tidak paham soal disabilitas, maka jadi kabur dalam seleksi.

 

“Wawancara, sebenarnya untuk memastikan calon mahasiswa itu difabel. Kedua, bisa menyelesaikan perkuliahan, tamat, dan menyandang gelar sarjana.  Kita memilih anak-anak yang memiliki kemandirian. Namanya seleksi, pasti ada yang gugur. Tetapi, kursi roda bukan halangan untuk tidak diterima. Kemandirian psikis, ini menjadi poin. Dan poin itu hanya dapat diperoleh melalui wawancara,” terangnya.  

 

DR. Subagja pun mengisahkan pengalaman rekruitmen tahun 2020. Bahwa dirinya pernah mendapatkan komplain, sementara otoritas rekruitmen ada pada panitia. Komplain itu, terkait calon mahasiswa tidak bisa bicara (tuli), tidak lolos seleksi karena dianggap tidak bisa lulus sarjana.

 

Lalu dia menganalogikan tuli, dengan awam yang tidak bisa berbahasa Inggris. Bagaimana saat awam yang tidak bisa berbahasa Inggris, berada di antara orang berbahasa Inggris? Sama halnya dengan tuli yang berbahasa isyarat, berada di antara orang yang berbicara oral. Ada ketidakpahaman, ada kesulitan.

 

“Dari analogi itu benang merah permasalahan bisa diurai. Yaitu perlu ada aksesibilitas sesuai dengan kebutuhan, untuk mengatasi ketidakpahaman dan kesulitan dalam berkomunikasi. Penyediaan penterjemah bahasa, adalah solusi,” terang doktor yang sudah menjadi aktivis isu disabilitas semasa kuliah di Yogyakarta itu.

 

Terkait adakah tantangan internal dan eksternal dalam implemetasi inklusi di UNS? “Banyak,” jawab kawan seperjuangan Mansur Fakhih itu. Paling berat tantangan datang dari teman ahli PLB sendiri, lanjutnya. Karena cara menangkap permasalahan beda-beda,  pandangan juga macam-macam.

 

“Tugas saya, memasukkan virus pada mahasiswa PLB bahwa semua anak itu cerdas. Jika ada anak yang gagal, yang salah bukan muridnya, melainkan respon guru yang salah,” tandasnya.

 

Menjadi guru, ibarat menyiram taman bunga. Di sana ada bunga melati, mawar, flamboyan, dan lain sebagainya. Tidak mungkin pohon melati berbunga mawar. Bunga melati itu kecil tapi harum, sedang flamboyan besar tapi tidak harum, ya tidak apa-apa. Biar saja bunga-bunga itu tumbuh sebagaimana adanya.Quotation Kaprodi PLB UNS Surakarta, DR. Subagja.

 

Benahi diri

 

UNS juga terus berbenah memperbaiki system SPMB. Jika pada tahun 2020 tidak ada pilihan SMALB pada form isian, untuk SPMB tahun 2021 sudah diakomodir. Dan pendaftar difabel harus memilih jurusan IPS.

 

Terkait aksesibilitas, dosen PLB itu  menjawab bahwa UNS  sedang dalam rangka memperbaiki diri untuk inklusi. Inklusi beneran belum, terangnya. Saat ini UNS  sedang riset tentang inklusi. Karena UNS akan mengukur inklusi seluruh dunia, maka kampus UNS  harus inklusi dulu.

 

“Untuk mendorong studi analisis, dilakukan dengan cara persuasive. Kami sudah melakukan pemetaan, dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan. Jika tidak ada lift, cara yang paling gampang adalah ada ruang kuliah di lantai satu,” DR Subagja mengakhiri perbincangan.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.