Lompat ke isi utama
gambar animasi beragam orang berdiri menggambarkan inklusifitas Sumber gambar: https://ketemu.org/wp-content/uploads/2020/06/11.png

Mengenal Tempat Kerja yang Setara dan Inklusif Difabel

Solider.id - Kesetaraan dan inklusi adalah dua konsep yang sering kali didekatkan, terutama ketika membicarakan tentang keberagaman. Dilansir dari buku Menjadi Perusahaan Inklusi: Panduan Praktis Inklusi Disabilitas untuk Penyedia Kerja (Saujana Press, 2017), keberagaman yang dimaksud memiliki empat dimensi identitas manusia, yaitu: Kepribadian, misalnya sifat, kemampuan, dan kedifabilitasan; lalu Internal, misalnya usia, suku, dan gender; lalu Eksternal, misalnya status pernikahan, pengalaman kerja, dan latar belakang pendidikan; dan Organisasi, misalnya status manajemen, lokasi kerja, dan senioritas.

 

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata inklusif berarti “termasuk”. Jika dikaitkan dengan ketenagakerjaan, inklusif difabel di tempat kerja dapat dimaknai sebagai pelibatan difabel dalam semua lini untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan difabel.

 

dimensi keberagaman di tempat kerja

 

Adanya kesetaraan berarti ketidakadaan diskriminasi. Dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, diskriminasi dimaknai sebagai pembedaan perlakuan dan atau sikap yang didasarkan pada situasi atau karakteristik tertentu yang cenderung tidak adil, karena memperlihatkan posisi yang tidak setara antara pihak yang melakukan diskriminasi dengan subyek yang terdiskriminasi. Penerapan konsep kesetaraan dan inklusivitas di tempat kerja menjadi bagian dari mekanisme bagi pemberi kerja dalam hal ini perusahaan untuk secara bertahap menghapuskan diskriminasi yang masih terjadi.

 

Pemahaman tentang konsep kesetaraan di tempat kerja menjadi sangat penting ketika perusahaan hendak mempraktikkan lingkungan kerja yang setara dan inklusif. Cara pandang yang tepat akan membantu perusahaan mengambil langkah strategis dan afirmatif tidak hanya bagi difabel tapi bagi kelompok rentan lain seperti pekerja perempuan untuk dapat bekerja di perusahaan dan mendapatkan kondisi serta situasi kerja yang setara sesuai dengan kapasitas dan keahliannya.

 

Apa dan Bagaimana Kesetaraan di Tempat Kerja?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kesetaraan di tempat kerja diartikan sebagai semua orang dapat berkontribusi dan memperoleh kesempatan yang sama pada pasar tenaga kerja sesuai dengan kapasitas mereka tanpa mengalami diskriminasi. Hal ini akan terwujud ketika tidak ada diskriminasi untuk bisa mengakses, berpartisipasi, memiliki kontrol terhadap berbagai kebijakan perusahaan, serta memperoleh manfaat yang adil dan setara dari kerja-kerja yang dilakukan.

 

Dalam Panduan Praktis bagi Pengusaha untuk Mempromosikan dan Mencegah Diskriminasi di Tempat Kerja di Indonesia (Asosiasi Pengusaha Indonesia dan Kantor Perburuhan Internasional ILO, Jakarta, 2013), perusahaan yang hendak menerapkan kesetaraan di tempat kerja harus selalu memastikan bahwa prinsip-prinsip kesetaraan dan non-diskriminasi dihormati di seluruh praktik pengelolaan sumber daya manusia mulai dari perekrutan, pengupahan, syarat dan ketentuan kerja, akses ke pelatihan kerja, kemajuan dan promosi jabatan, fasilitas kerja bahkan sampai pemutusan kontrak kerja yang mengacu pada prestasi, keterampilan, pengalaman atau kemampuan pelamar atau pekerja yang bersangkutan.

 

Inklusivitas di Tempat Kerja

Saat ini konsep inklusi banyak digunakan dalam berbagai kerangka pembangunan untuk tidak meninggalkan kelompok yang terpinggirkan dan rentan termasuk difabel. Ketenagakerjaan inklusif adalah proses membangun hubungan ketenagakerjaan yang menghormati setiap individu di lingkungan kerja yang selama ini mengalami diskriminasi sehingga dapat berpartisipasi penuh dalam setiap proses pengambilan keputusan.

 

Inklusivitas adalah cara atau strategi mencapai kesetaraan. Dengan tempat kerja yang inklusif semua orang dari beragam latar belakang diberikan ruang untuk berpartisipasi setara dan percaya diri serta mandiri dalam menjalankan aktivitas kerja. Contohnya, difabel membutuhkan afirmasi dari perusahaan karena selama ini aksesibilitas mereka yang lemah karena kondisi kedifabilitasannya.

 

Ada empat hal yang menjadi prinsip inklusi difabel, yakni, pertama, kesadaran, menjadi faktor utama ketika hendak menciptakan ataupun meningkatkan inklusi difabel di perusahaan dengan mengidentifikasi apa peran dan tanggung jawab dari masing-masing orang di perusahaan. Kedua, pelibatan, menjadi sarana bagi perusahaan untuk mencapai tingkat inklusivitas yang lebih baik dengan cara membuat dan menjalankan program yang dapat mewakili kebutuhan dan kepentingan difabel. Ketiga, aksesibilitas, caranya adalah menghilangkan berbagai hambatan yang menghalangi mereka untuk berpartisipasi dengan memberi kesempatan dan membuka pintu lebar-lebar untuk partisipasi aktif difabel dalam perusahaan. Keempat, dukungan, dengan tidak menghilangkan perlakuan yang setara terhadap pekerja difabel. Misalnya perusahaan memastikan penyediaan layanan kesehatan untuk pekerja difabel yang membutuhkan sesuai ragam difabelnya. Bertanya, dengarkan, terapkan, dan evaluasi, adalah empat cara yang bisa dilakukan perusahaan untuk memberikan dukungan agar kebutuhan difabel terakomodasi dengan baik di tempat kerja.

 

Sumber: Panduan Kesetaraan dan Inklusivitas di Tempat Kerja – APINDO dan USAID Mitra Kunci, 2020.

 

Penulis: Alvi

Editor  :  Ajiwan Arief

The subscriber's email address.