Lompat ke isi utama
aktivitas membacakan soal ujian bagi kawan netra

Namanya Zakia

Solider.id - Tidak semua orang memiliki kesempatan kenal dengan difabel, apalagi masuk ke dalam dunia difabel. Sebagian orang bahkan merasa tidak betah, walaupun sudah mengenal, malah pergi begitu saja. Bagi orang yang fokus mencari pundi-pundi rupiah, menjadi mitra atau bagian dalam pergerakan dunia difabel memang tidak menarik. Zakia,   bendahara Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetraan (PerDik) untungnya tidak memiliki orientasi dan fokus ke arah material. Malah bagi dia, gabung dan turut bergerak dalam dunia difabel membuat dia mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru. Pengetahuan terkait etika-etika difabel, yang tidak pernah bisa dia dapatkan di sekolah ataupun di universitas.

Zakia Yadaniel Zaskia, atau yang akrab dipanggil Kak Kia, adalah alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI Makassar) jurusan hukum. Sekarang Kia terlibat dalam kerja-kerja pendampingan dan advokasi difabel berhadapan dengan hukum. Sebagai perempuan, saya senang sekali memiliki teman perempuan dekat yang juga memiliki kesadaran besar terhadap isu-isu kekerasan seksual. Kia tentunya menjadi mitra netra saat ulangan yang paling saya sukai. Selain karena Kak Kia menguasai etika-etika pergaulan difabel netra, ini juga karena Kia memiliki pemahaman dan kesadaran terhadap isu-isu kekerasan seksual.

Masih jarang ada orang yang peduli pada isu-isu kekerasan seksual, malah lebih banyak yang mengabaikannya, karena merasa bahwa diam bagi korban pelecehan seksual adalah jalan keluar paling baik. Jalan keluar yang tidak menimbulkan kerugian bagi siapa-siapa. Toh, pelecehan seksual terkadang terjadi dengan kesadaran Si Korban juga. Keyakinan dan sudut pandang seperti ini masih sering saya temukan di kalangan mitra-mitra difabel penglihatan. Pelecehan di kalangan difabel netra, misalnya jika ada difabel melecehkan difabel yang lain secara seksualitas, dianggap sebagai permasalahan yang tidak perlu di perlebar. Karena dengan fokus pada masalah itu, difabel yang sudah dari sananya berjumlah sedikit, malah akan terpecah-pecah lagi. Tapi bagi Kak Kia, untungnya, pelecehan atau kekerasan seksual adalah hal terkutuk. Tidak peduli Si Pelaku siapa, difabel atau juga nondifabel. Pelecehan tetap saja berarti kejahatan manusia.

Kia tidak pernah merasa menjadi mitra difabel. Sejak pertama kali dia terlibat dalam program Hasanuddin English Komunity (HEK) dalam memberi pelajaran berbahasa inggris pada difabel netra dalam binaan YAPTI (Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia) dia sudah menempatkan diri sebagai teman, bukan guru apalagi mitra. Kedekatannya dengan para peserta kelas bahasa inggris di YAPTI menghantarkan dia pada pengetahuan-pengetahuan pendampingan difabel netra. Kia menjadi tahu bagaimana caranya menuntun netra berjalan, cara mendampingi netra ulangan, dan cara interaksi lainnya yang semakin membuat dia akrab dengan dunia difabel. Kia kemudian banyak menemani binaan YAPTI yang bersekolah di sekolah reguler untuk ulangan.

“Saya menganggap mereka teman, dan selama ini saya bersikap sebagaimana sikap teman ke temannya. Kalau teman perlu bantuan, ya saya membantu. Tidak pernah menjadi mitra secara official,” jawab Kia ketika saya bertanya, bagaimana dia bisa begitu memahami kebutuhan-kebutuhan teman netra.

Agak lama belajar dari interaksi-interaksinya dengan difabel netra di YAPTI, akhirnya Kia mengenal PerDik. Sebuah organisasi independen yang fokus ke isu-isu difabel. Di PerDik kemudian Kia mulai terlibat dalam kerja-kerja perorganisasian difabel. Di PerDik dia tidak hanya bertemu difabel netra, tapi juga difabel lain. Seperti Tuli, fisik, mental, intelektual dan sebagainya.

Awalnya dia ragu, gugup, dan juga berkecil hati apakah dia bisa mengambil peran dan bermanfaat untuk PerDik atau tidak. Tapi PerDik memberikan penerimaan, pelukan, dan perkawanan yang belum pernah Kia temukan di tempat lain. Di PerDik dia menjadi tahu apa kegunaannya, apa saja peran yang bisa dia ambil dan seberapa besar dia bisa belajar bersama anggota PerDik yang lainnya. Sistem tanpa relasi kuasa di PerDik membuat dia tidak merasa canggung untuk lebih banyak bergerak, lebih banyak membantu, dan lebih banyak bertanya untuk menjadi semakin mengerti lagi. PerDik memberi semua anggotanya kesempatan yang sama untuk mengambil tanggung jawab. Sama sekali tidak ada anggota yang dinilai tidak bisa,, hanya karena dia dirasa masih muda dan belum punya banyak pengalaman.

Selain itu, anggota-anggota PerDik yang berasal dari daerah, bahasa, kondisi tubuh, dan tingkatan pendidikan yang berbeda membuat dia lebih nyaman.

“PerDik itu rumah bagi semua anggotanya. Itu membuat semua anggota merasa wajib untuk merawat rumah, menjalin kekeluargaan yang baik, dan saling menguatkan satu sama lain,” ucap Kia dengan pasti.

Saya sebagai anggota paling muda di PerDiK juga merasakan hal yang sama. Mungkin karena dipikir masih berusia anak, senior-senior di PerDIK tidak pernah memarahi saya dengan terlalu keras. Jika ada yang menegur, saya sudah tahu diri bahwa salah dan tidak akan mengulangi untuk kedua kalinya. Saya sepakat sekali ketika Kak Kia bilang PerDIK mengikat anggotanya dengan hati.

Saya sering bepergian bersama Kak Kia, dia sangat hangat dan asyik sebagai mitra. Tidak pernah Kia memosisikan diri sebagai mitra, di mana berarti sebagai difabel dia perlu mengurusi saya secara utuh. Penggantinya, Kia memperlakukan saya sebagai adik dan atau juga teman yang sedang bertamasya dengannya.

Sudah cukup lama Kia berkawan dengan teman-teman netra, dan ini membuat Kia merasa bahagia saat melihat adik-adik yang dulunya dia dampingi saat sekolah, kini sudah menjadi apa yang mereka inginkan masing-masing. Di antaranya adalah Yoga Indar Dewa (mahasiswa Universitas Negeri Makassar jurusan pendidikan sosiologi), Muhammad Lutfi (manager divisi ekonomi difabel PerDIK), Nur Syarif Ramadhan (manager divisi produksi pengetahuan, publikasi, informasi dan komunikasi PerDIK), dan sederet nama lainnya.

“Dulu saya mendampingi mereka ... dan melihat sekarang mereka sudah lulus sekolah, lulus kuliah dan aktif di organisasi buat saya bangga sekali,” kata Kak Kia saat saya mewawancarainya pekan lalu.

Memang banyak cerita yang bisa ditemukan antara hubungan pertemanan difabel dan nondifabel, difabel dan difabel lainnya, apalagi pada mitra dan para difabel. Membuat kita lebih paham lagi bagaimana cara memanusiakan manusia, dan bahwa semua perbedaan bisa hidup bersandingan tanpa permasalahan.[]

 

Penulis: Nabila

Editor    : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.