Lompat ke isi utama
difabel dan dunia seni dalam ilustrasi

Refleksi Temu Inklusi; Beberapa Isu Belum Tersentuh Rekomendasi

Solider.id, Surakarta- Film “Sejauh Kumelangkah” menjadi film yang diputar Desember lalu di Temu Inklusi daring 2020. Hal ini jelas terobosan baru, bahwa di Temu Inklusi, juga diagendakan diskusi terkait film sebagai media inklusif yang bisa dinikmati oleh semua orang, termasuk difabel. Film besutan sutradara Ucu Agustin ini dirilis tahun 2019 dan sudah beredar ke festival-festival film internasional. Film ini juga   mendapat penghargaan Piala Citra 2019 kategori film dokumenter. Film ini dilengkapi audio description dan close caption sebagai fitur aksesibilitasnya. 

Ditilik dari penyelenggaraan Temu Inklusi pertama tahun 2014, kedua 2016, ketiga tahun 2018, dan yang baru saja terlewat Temu Inklusi 2020 dengan media daring, terselenggara dengan lancar tanpa kendala disertai antusiasme peserta yang saat penyelenggaraan webinar tematik via Zoom diikuti rata-rata lebih dari 200 orang. Namun ada yang berbeda kali ini karena terselenggara secara daring. Beberapa element ecara seperti  pertunjukan kesenian tidak bisa terlaksana. Pada gelaran Temu Inklusi sebelum-sebelumnya yang secara luring mementaskan seni dan budaya yang digeluti oleh difabel. Maka film “Sejauh Kumelangkah” menjadi satu-satunya media seni yang dipertontonkan dan mendapat apresiasi yang bagus lewat pemutaran dan diskusi yang berlangsung. Film ini lantas menjadi pengayaan dan sebuah role model bagaimana para pekerja seni di bidang perfilman bekerja atas dasar pemenuhan hak difabel, yakni hak aksesibilitas.

Lantas setelah pemutaran film ini, apakah ada catatan, policy brief atau rekomendasi dalam Temu Inklusi? Ternyata tidak ada. Temu Inklusi keempat yang usai dihelat tidak mencantumkan catatan rekomendasi apa pun terkait bidang seni perfilman, seni pertunjukan, atau seni sastra, bahkan seni budaya lainnya. Tidak adanya rekomendasi disebabkan masih minimnya ide, atau bisa jadi seni, sastra dan budaya bukanlah sesuatu yang perlu diarusutamakan oleh para pegiat difabel. Ini hanya pandangan subjektif penulis saja, namun baik jika pengarusutamaan isu-isu difabel menyentuh juga ranah-ranah seni, sastra dan budaya. Hal ini karena  realitas di lapangan para difabel sebagian besar bergelut di sektor tersebut.

Penulis tidak ingin turut men-stigma bahwa dengan berkesenian adalah pilihan terbaik baik difabel netra terutama seni olah suara/vokal, kemudian difabel Tuli dengan berolah seni visual dengan melukis atau olah seni mime (pantomim). Namun kenyataan di lapangan, oleh para pemangku kebijakan, masyarakat dan awam mereka menggiring paradigma difabel dalam berkesenian dengan penyesuaian yang ‘dianggap’ pas bagi difabel. Ini membuktikan bahwa aktivitas difabel tidak terlepas dari unsur seni.

Gerakan difabel pada sektor Seni, sastra dan budaya justru mengakar rumput dan tidak boleh diabaikan. Lihat saja Komunitas Sahabat Mata di Kota Semarang yang memberikan wahana bagi difabel untuk berkesenian vokal dengan membentuk band serta memiliki group teater. Sahabat Mata juga memiliki channel YouTube sebagai media bersosialisasi. Di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah terdapat kelompok Teater Cangkir yang rutin berpentas dan diperankan oleh para difabel dan telah memiliki banyak penggemar.

Demikian pula di Kota Surakarta, telah lahir Difalitera, sebuah platform yang berupa media web serta audio book/sastra suara yang menyediakan tulisan-tulisan dan suara-suara sastra fiksi baik cerita pendek, puisi, cerita pendek berbahasa Jawa serta English Lesson media belajar berbahasa Inggris. Difalitera kemudian melahirkan komunitas Teras Baca, yang berkegiatan membaca novel di teras sebuah SLB di Surakarta di setiap akhir pekan selama tahun 2019 lalu berhenti kala pandemi. Bahkan dukungan dari pemerintah sudah ada dengan turunnya anggaran dari Dirjen Kebudayaan memberi support bagi Difalitera untuk mengaudiokan bahasa-bahasa daerah dari seluruh Indonesia yang berlabel Sastra Nusantara.

Keprihatinan mendalam dan perlu adanya afirmasi yang lebih kuat yakni pada seni karawitan atau seni suara persindenan yang pada dekade terakhir tidak mengalami perkembangan alias mati suri karena ketiadaan pembinaan dari pemerintah. Ditambah dengan peristiwa pandemi COVID-19, para difabel yang bergiat di seni karawitan, utamanya di Kota Surakarta seperti ‘tiarap’. Kebetulan saat ini penulis sedang melakukan penelitian terkait hal tersebut.

 

Apa Kata Difabel Ketika Temu Inklusi Nirseni, Sastra dan Budaya?

Lewat komunikasi WhatsApp, penulis menemui Agatha Febriany, seorang pegiat difabel dan juga peseni teater. Menurut Agatha yang saat ini menjadi ASN di Jakarta, mungkin terkait inklusivitas pada bidang seni dan budaya secara implisit sudah ada dalam rekomendasi pada layanan publik yang inklusif pada difabel. Karena menurutnya, layanan publik itu termasuk wahana atau tempat-tempat situs budaya seperti candi-candi, dan tempat-tempat/gedung seni digelar.

Agatha menambahkan, bahwa secara gerakan seni teater, dirinya bersama Kelompok Teater Tesa telah menginisiasi sebuah kegiatan yang berfaedah bagi difabel, yakni pelatihan teater bagi anak dengan difabilitas psikososial baik mental maupun intelektual. Dengan berlatih teater, menurutnya, akan terkikis dampak psikologis bagi difabel mental, atau orang dengan masalah kejiwaan. Apalagi di masa pandemi COVID-19, banyak sekali orang mengalami dampak psikologis yang tak kentara.

Pendapat lain dituturkan oleh Ajiwan Arief Hendradi, secara pribadi, pegiat difabel ini menyatakan bahwa inklusi adalah sebuah proses. Ia mengutip Jonna Damanik bahwa inklusi akan berjalan dengan berbagai macam isu yang dinaungi misalnya isu baru tentang perlindungan konsumen difabel, yang menjadi bahasan tematik dalam webinar Temu Inklusi yang juga melahirkan rekomendasi. Ia menyatakan tidak menutup kemungkinan, dua tahun lagi, isu seni, sastra, budaya dan pariwisata menjadi isu yang harus diangkat.

Ajiwan tidak memungkiri bahwa dunia seni sangat dekat dengan difabel, misalnya difabel netra distigmakan pada seni vokal. Bahkan pengakuan Ajiwan, bagi dia yang netra, dulu mau bersekolah di SLB karena diming-imingi bisa pandai bermain gitar. Nah, menurutnya, perlu juga mainstreaming seni ini karena untuk mengetahui seberapa banyak seniman difabel yang berlaku profesional? Atau yang bisa memiliki akun YouTube, Spotify, dan mengakses media sosial guna mempromoskan aktivitas seni mereka? Jawab penulis adalah Wallahualam, jika kemudian isu ini tidak menjadi arus utama, dan pemangku kebijakan tidak memiliki kepedulian lagi maka isu ini akan tenggelam begitu saja.[]

 

Penulis : Puji Astuti

Editor  : Ajiiwan Arief

The subscriber's email address.