Lompat ke isi utama
Suharto saat memberikan sambutan dalam dialog indonesia inklusif

Harapan Direktur Sigab Di Puncak Temu Inklusi 4

Solider.id – Dalam dialog Indonesia inklusif di puncak temu inklusi, Suharto selaku direktur Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (Sigab) menyinggung tentang pendidikan dan kesehatan di Indonesia. Dalam pendidikan di Indonesia, masih adanya dikotomi dan segregasi yakni Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah inklusif.

Menurutnya pendidikan inklusif belum berjalan dengan optimal, berbeda dengan di dunia Internasional yang sudah menjadi framework dan menjadi paradigma di Negara masing-masing.

“Kami berharap pendidikan inklusif ini bisa menjadi framework dan pedoman untuk sistem pendidikan nasional kita, semoga kedepan semua sekolah inklusif,” tutur Suharto saat membuka dialog inklusif via daring, Kamis (14/1).

Terkait dengan kesehatan, ia menginginkan akses kesehatan yang lebih baik dengan aksesibilitas dan fasilitas yang menunjang teman-teman difabilitas untuk bisa mengakses fasilitas kesehatan.

“Semoga penyandang disabilitas dapat mengakses fasilitas kesehatan baik di Puskesmas, klinik, maupun di rumah sakit,” tandasnya.

Ia juga menyinggung tentang dampak pandemi yang dirasakan oleh difabel hingga saat ini, dimana penghasilan mereka merosot 50 hingga 80 persen yang rata-rata bekerja di sektor informal.

“Hal ini menjadi beban yang luar biasa dan program-program jaminan sosial sekarang belum ada yang khusus untuk difabel, kami berharap meskipun belum ada yang khusus untuk difabel dan yang sudah ada sekarang harus bisa dinikmati oleh difabel, kemudian mereka bisa bertahan selama masa pandemi ini, kedepannya juga ada program-program yang membuat teman-teman difabel bisa bangkit secara ekonomi dan bisa beraktivitas lagi. Kami juga berharap dalam vaksinasi yang sudah dimulai sekarang ini, teman-teman difabel sebagai kelompok rentan juga diprioritaskan untuk vaksinasi,” jelasnya.

Ia berharap dialog Indonesia inklusif ini membuahkan hasil yang baik untuk perubahan kebijakan kedepannya.

“Semoga Pemerintah bisa menangkap aspirasi kami dan kemudian membuat perubahan-perubahan kebijakan yang lebih progresif serta lebih mendukung pemenuhan dan perlindungan hak-hak penyandang disabilitas,” harapnya

Acara temu inklusi ini sendiri di inisiasi oleh Sigab yang diselenggarakan dua tahun sekali. Pada puncak temu inklusi ke 4 ini, dihadiri oleh beberapa pemangku kepentingan diantaranya wakil presiden Indonesia, menteri koordinator bidang politik hukum dan keamanan, menteri koordinator bidang pembangunan manusia dan kebudayaan, menteri sosial, kepala staf kepresidenan, dan ketua mahkamah agung.[]

 

Reporter: Oby Achmad

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.