Lompat ke isi utama

Kegiatan Pondok Ramadhan diisi dengan Pembekalan Kemandirian

Solider.id - Efek pandemi covid-19 hingga kini masih sangat dirasakan masyarakat difabel, terutama difabel Netra. Mereka yang berasal Komunitas Pedagang Kerupuk (KPK), Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ), para terapis, dan musisi kafe, pada bulan Ramadan kali ini berkumpul di pondok Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Titian Bangsa Cimahi, untuk kegiatan ibadah dan pembekalan kemandirian usaha. Kegiatan tersebut berlangsung satu pekan dari 18 hingga 26 April 2021 dengan ragam materi dan diikuti oleh 20 difabel Netra pria se-Bandung Raya.

 

H. Entang Kurniawan, ketua Ummi Maktum Voice menyampaikan, pondok Ramadan difabel Netra ini selain diisi oleh aktivitas ibadah seperti puasa, sholat, pengajian dan ceramah, juga diisi dengan ragam keterampilan. Harapannya dari pembekalan tersebut dapat diterapkan di rumah dan bisa diajarkan kepada anggota keluarganya.

“Ramadan ini kita tetap isi dengan kegiatan ibadah. Disamping itu kita juga memberikan keterampilan membuat keset dari bahan majun, yang secara pemasarannya sudah ada link. Jadi nanti, setelah selesai pondok Ramadan ini mereka dibekali alat dan bahan untuk melanjutkan di rumah bersama istri atau anak mereka. Kemudian hasilnya kami tampung,” paparnya.

 

Upaya ini dilakukan untuk memberikan ruang kerja mandiri kepada difabel Netra, diluar profesi mereka yang telah ada. Sasarannya, mereka nanti akan memperoleh pendapatan tambahan sesuai dengan hasil yang diperoleh.

 

Yayat Rukhiyat, mewakili LSM Titian Bangsa juga menuturkan hal yang serupa. Kegiatan Ramadan ini diimbangi dengan kegiatan pembekalan keterampilan yang dapat menunjang perekonomian mereka di masa pandemi sekarang.

“Perekonomian teman-teman difabel Netra yang tergabung disini belum stabil sebab pandemi. Beberapa keterampilan sengaja kami berikan, salah satunya membuat keset yang memang untuk pemasarannya sudah ada. Dan hasil karya mereka dapat bersaing dengan hasil buatan nondifabel pada umumnya. Ini menjadi poin tersendiri yang menunjukan mereka juga mampu saat diberikan kesempatan untuk mempelajarinya. Tentu dimodifikasi dengan cara mereka sendiri untuk hal-hal lainnya,” ungkap Yayat.

 

Keterampilan tersebut juga diawasi oleh mentor sebagai pelatih sekaligus penilai hasil karya. Dan semuanya adalah para difabel Netra. Dalam pengerjaannya, peserta bergelut dengan jarum, benang jahit, gunting, kain majun, dan alat cetak yang berpaku. Namun, inilah sebuah keunikan tersendiri, mereka mampu menggunakan semua alat dan bahan tersebut. Mereka mampu menjahit secara manual, memasukan benang pada jarum, hingga merangkai bahan keset pada alatnya.

“Menjahit manual untuk menyambungkan kainnya, memasukkan benang ke jarumnya juga sendiri, menggunting sendiri, semua belajar mandiri dan kami bisa,” tutur Pendi (52), yang sebelumnya berprofesi sebagai musisi kafe.

 

Peserta difabel Netra yang tergabung dalam pondok Ramadan ini hampir keseluruhannya sudah berumah tangga, bahkan ada yang berusia 63 tahun. Mereka masih memiliki semangat untuk belajar dan berjuang agar tetap berpenghasilan.[]

 

 Reporter: Srikandi Syamsi

Editor    : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.