Lompat ke isi utama

Masukan dari Organisasi Masyarakat Sipil untuk Damri

Solider.id - Proyek Transisi Energi Berkelanjutan (Sustainable Energy Transition Project -SETP) adalah proyek mitigasi iklim, yang mendukung Perum DAMRI dalam mengganti armadanya dengan bus dengan yang lebih bersih, lebih tenang, dan lebih efisien. DAMRI bertujuan untuk mengganti 50 bus diesel di sepanjang tiga rute bandara (Bandara Soekarno Hatta ke Gambir, Rawamangun dan Bekasi) dengan unit listrik sehingga ini menjadi langkah awal untuk menggunakan transportasi umum berbasis listrik di Jakarta. Transportasi umum berbasis listrik ini tentunya harus ramah bagi kelompok difabel dan perempuan. Oleh karena itu, Damri dengan dukungan dari Asian Development Bank, mengundang beberapa organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada isu difabel dan perempuan untuk melakukan konsultasi publik.

 

Konsultasi public ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan khusus kelompok rentan serta guna mendapatkan masukan awal terkait dengan gender dan inklusi sosial. Kegiatan yang digelar secara online tanggal 4 Mei 2021 ini menghadirkan beberapa organisasi masyarakat sipil. Beberapa organisasi masyarakat sipil yang hadir misalnya Sigab Indonesia, Sapda Yogyakarta, Masyarakat Transportasi Indonesia, HWDI, Koalisi Perempuan Indonesia, GAUN, dan lain-lain.

 

Terkait isu difabel, terdapat beberapa masukan yang diperoleh. Diantaranya, bus Damri yang sedang dirancang hendaknya memperhatikan aksesibilitas bagi difabel. aksesibilitas tersebut meliputi: aksesibilitas fisik, aksesibilitas informasi, aksesibilitas shelter dan halte, aksesibilitas jalur evakuasi, dan peningkatan kapasitas petugas bus untuk memberikan pelayanan kepada penumpang difabel.

 

Sebelumnya, kesulitan masih kerap dialami oleh difabel. diantaranya, bus sulit diakses oleh pengguna kursi roda, karena terlalu sempit, atau petugas masih kurang memahami cara berinteraksi dengan difabel.

 

Disisi lain, ada usulan dari GAUN untuk mempertimbangkan tarif yang berbeda bagi difabel. saat ini, tarif bus Damri dari bandara SoekarnoHatta sekitar Rp. 75.000 hingga Rp. 90.000. Tarif ini, bias saja menjadi lebih mahal bagi difabel yang selalu harus bepergian dengan pendamping. Artinya difabel yang pergi dengan pendamping harus membayar dua kursi. Maulani Rotinsulu dari HWDI, juga sepakat dengan hal tersebut. Karena, difabel terkadang harus mengluarkan biaya tambahan “extra cost”.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.