Lompat ke isi utama
ilustrasi kursi roda dengan orang yang mendorong di belakangnya

Variasi Biaya Ekstra untuk Multi Disability

Solider.id – Pada bulan November 2020, Sigab Indonesia telah melaksanakan penelitian tentang biaya tambahan (extra cost) difabel. Studi ini dilakukan melalui survey menginvestigasi Barang dan Jasa yang Dibutuhkan (GSR) bagi difabel di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melengkapi perkiraan penilaian biaya tambahan menggunakan Standard of Living Approach (SLA). Penelitian ini dilakukan untuk menanggapi kebutuhan PROSPERA dalam membantu BKF (Badan Kebijakan Fiskal) Kementerian Keuangan dalam memberikan masukan analisis untuk mempercepat penyusunan regulasi tentang konsesi dan insentif.

 

Survey yang menjangkau semua jenis hambatan difabel seperti hambatan melihat,

hambatan mendengar, hambatan berbicara/komunikasi, hambatan mobilitas, hambatan

kognitif, hambatan psikososial, disabilitas ganda/multi, hambatan mengurus diri, dan

spektrum autisme, gender, baik laki-laki dan perempuan, usia anak-anak, dewasa dan lansia serta wilayah tempat tinggal seperti perdesaan, perkotaan dan pinggiran perkotaan dengan melibatkan sekitar 80 responden difabel dan 10 responden non-difabel. Penelitian diawali dengan FGD expert dan aktivis difabel untuk pematangan instrumen penelitian, interviu responden, dan FGD untuk memvalidasi atau kroscek temuan lapangan, kemudian ditutup dengan perumusan rekomendasi.

 

Perhitungan awal Prospera menunjukkan bahwa biaya bulanan paling signifikan yang dikeluarkan oleh difabel adalah bantuan pribadi untuk kehidupan sehari-hari dan akses ke sekolah, biaya transportasi ke sekolah dan tempat kerja dengan asumsi pengeluaran rutin, dan biaya sendiri (out of pocket) untuk mengakses layanan kesehatan.

 

Hasil survey terhadap difabel ganda atau multi disability menunjukkan bahwa seorang difabel ganda rata-rata mengunjungi fasilitas kesehatan dengan biaya berkisar antara Rp. 30.000,- hingga Rp. 74.000,- untuk puskesmas dan praktek dokter, Rp. 200.000,- hingga Rp. 250.000,- untuk rumah sakit dan Rp. 135.000,- hingga 200.000,- untuk pusat rehabilitasi. Biaya berobatnya berkisar antara Rp. 40.000,- hingga Rp. 1.250.000,-.

 

Sedangkan untuk alat bantu untuk kehidupan sehari-hari, biaya tambahan rata-rata yang diperlukan antara Rp. 200.000,- hingga Rp. 825.000,- dan untuk jasa bantuan rata-rata Rp. 2.250.000,-. Biaya jasa bantuan ini akan bertambah jika orang dengan multi difabel tersebut bersekolah, hendak berbelanja, mengakses fasilitas kesehatan dan untuk bersosialisasi.

 

Terakhir terkait transportasi, biaya tambahan yang dikeluarkan orang dengan multi difabel per perjalanan sekitar Rp. 15.000,- hingga Rp. 600.000,-. Jika bepergian keluar kota biaya tambahannya mencapai angka dua juta rupiah.

 

Menanggapi angka-angka tersebut, seorang responden perempuan dari Aceh mengatakan bahwa untuk difabel secara umum dari segi kesehatan hanya kondisi tertentu yang mengeluarkan biaya sendiri yang tidak dikover BPJS. Sedangkan responden lain memilih mengakses dokter umum selama pandemi agar terhindar dari antrian seperti ketika ke puskesmas. Seperti yang juga dilakukan seorang responden dari Jogja yang merupakan orangtua dari anak multi difabel. Ia memilih terapi anaknya dilakukan di rumah selama pandemi. Ia tetap mengusahakan terapi anaknya agar kemampuan si anak yang dipelajari selama bertahun-tahun tidak hilang jika terapi terhenti. Karena memberikan terapi untuk kemampuan memegang saja butuh waktu lama dan ketika terapi tidak dilakukan, lama-lama kemampuan itu akan menghilang sehingga harus memulai dari awal lagi dan itu butuh waktu panjang.

 

Cerita dari responden di Bulukumba, tetangganya yang biasanya harus mengantar anaknya ke rumah sakit dengan biaya tiga ratus ribu, karena perekonomian menurun akibat pandemi, kini tak bisa membawa anaknya pergi berobat. Pada Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK), kerentanan yang dihadapi menjadi berlapis dalam konteks menghadapi stigma, contohnya ketika seorang yang amputasi dua kaki hendak naik transportasi umum, ia takut orang lain dalam transportasi tersebut akan menghindar, jadi bisa dibayangkan berapa biaya ekstra yang harus dikeluarkan, bukan?

 

Terkait jasa bantuan asisten pribadi, difabel di Aceh tergolong masih minim, karena difabel disana masih banyak belum berani keluar rumah dan masih banyak keluarga yang menyembunyikan anggota keluarganya yang difabel sehingga tidak diketahui oleh lingkungan sekitar. Yang disebutkan terakhir ini terjadi di daerah diluar Banda Aceh atau daerah yang jauh dari pusat informasi dan tidak ada organisasi difabel yang aktif sehingga minim paparan isu difabel. Yang juga menjadi catatan adalah bahwa jasa bantuan asisten pribadi ini penekanannya pada tingkat multi disability yang dialami, jadi ketika ragam multi disability-nya tergolong berat, maka asisten pribadi yang dibutuhkan tidak bisa ala kadarnya tetapi jasa bantuan profesional yang biayanya bisa lebih tinggi dari rata-rata jumlah biaya ekstra yang ditemukan dalam survei diatas.

 

Untuk transportasi di Aceh rata-rata menggunakan becak motor sehingga biaya cukup tinggi sehingga jadi hambatan untuk melakukan aktivitas berpartisipasi penuh di masyarakat. Hanya sedikit difabel yang dapat mengakses transportasi online. Yang membuat biaya transportasi mahal adalah biaya tambahan untuk pendamping difabelnya. Jadi difabel melakukan dua kali pembiayaan jika ingin bepergian.

 

Cerita lain soal transportasi oleh orang dengan multi difabel yang berusia muda mengatakan bahwa ia kerap ditolak naik transportasi online. Ini menunjukkan betapa transportasi online juga masih belum ramah difabel. Tak hanya orang dengan multi difabel, namun hal ini juga kerap dialami oleh ragam difabel lainnya.

Menyangkut soal kebijakan penerapan konsesi atau insentifnya, semua responden berpendapat bahwa lebih baik tunjangan khusus diberikan langsung kepada difabelnya karena difabel yang mengerti kebutuhannya dibanding jika tunjangan diberikan ke provider layanan. Hal ini dapat terlihat dari implementasi alat bantu dari BPJS atau dari Kemensos yang seringkali tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh difabel atau dibawah standar alih-alih beralasan terkendala masalah dana. []

 

 

Reporter: Alvi

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.