Lompat ke isi utama

Memotret Kepemimpinan Kartini Difabel

Solider.id -    Bertepatan dengan peringatan hari Kartini yang diperingati setiap tahun di tanggal 21 April, Kelompok Asri Muda dengan dukungan Australian Global Alumni dan Universitas Multimedia Nusantara menyelenggarakan webinar yang mendiskusikan peran aktif perempuan difabel. ada Luluk Ariyantiny (Ketua Yayasan Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo) dan Christina Santoso ( Wirausaha Difabel) yang dihadirkan sebagai pembicara.

 

Luluk, begitu ia akrap disapa, menceritakan pengalamannya dalam pengorganisasian kelompok difabel di Situbondo dalam melakukan advokasi. Sejak beberapa tahun yang lalu, ia dan organisasi yang dipimpinnya berupaya mengkampanyekan isu difabel kepada para pemangku kepentingan. Pemerintah, masyarakat, mahasiswa, dan kelompok difabel tak luput dari target kampanye yang dikerjakannya.

 

Mula-mula, Luluk melakukan kampanye isu difabel kepada para mahasiswa. Tak lupa, ia juga terus melakukan audiensi kepada pemerintah daerah setempat. Alhasil, pemerintah daerah Situbondo memiliki rencana pembangunan yang sensitif terhadap kelompok difabel. Rencana pembangunan tersebut, setiap tahunnya akan di evaluasi oleh kelompok difabel di Situbondo, guna memastikan sejauhmana rencana pembangunan itu di realisasikan.

         

Advokasi yang dilakukannya bukan hanya berupaya menyentuh para pengambil kebijakan, tetapi juga memperhatikan masyarakat di akar rumput. Salah satu wujudnya adalah realisasi pembentukan desa inklusi di Situbondo.

 

Semangatnya berlipat ganda pasca dirinya menerima beasiswa kursus singkat dari Australia Award Scholarship. Selama di Sydney Australia, Luluk belajar mengenai menejeman organisasi difabel serta belajar banyak dari para aktivis yang ada Australia. Ilmu yang diperolehnya disana, kemudian ia terapkan ketika memimpin advokasi hak difabel di daerahnya.

 

Faktor yang Mendukung Keberhasilan

Christina Santoso (Wirausaha Difabel), menjelaskan bahwa keberhasilan perempuan difabel dipengaruhi oleh ketersediaan sistem dukungan yang memadai. Perempuan alumnus jurusan Komunikasi Universitas Pelita Harapan ini menceritakan bahwa, keberhasilannya saat ini disebabkan dukungan yang kuat dari lingkungan sekitarnya.

 

Ia berkata, bahwa dari sisi internal, keluarganya tak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang “berbeda”, namun kondisi difabel yang dimilikinya sebagai “keunikan”. Selain itu, lingkungan pertemanan juga sedikit banyak akan berpengaruh kepada keberhasilan seorang perempuan difabel.

 

Perempuan yang aktif sebagai penyanyi ini melanjutkan, bahwa bukan hanya dari sisi internal saja, dari sisi eksternal, dukungan juga perlu diberikan. Ia mencontohkan, pemerintah harus proaktif untuk mendukung partisipasi perempuan difabel diruang publik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan, yakni menciptakan aksesibilitas bagi difabel.

 

Sebagai ilustrasi, di Jakarta sekarang alat transportasi publik seperti MRT dan Trans Jakarta sudah dapat diakses oleh difabel. maka, hal ini akan berefek pada partisipasi kelompok difabel di ruang publik, karena sarana dan prasarana yang dibutuhkan telah tersedia.

 

Alih-alih melihat kondisi difabel sebagai kondisi yang membuat seseorang yang tidak dapat berbuat apa-apa, Christina justru menekankan faktor lingkungan yang terkadang menghambat difabel. apabila lingkungan sekitar telah menyediakan dukungan yang memadai, maka partisipasi keberhasilan perempuan difabel, bukanlah hal yang mustahil.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief    

The subscriber's email address.