Lompat ke isi utama
proses pembelajaran IT di YPACD Bandung

Era Teknologi Informasi Mutakhir, Difabel belum Dapat Pendidikan TIK Sejak Dini

Solider.id - Literasi bidang teknologi informatika dan komputer atau yang lebih dikenal dengan nama IT kini menjadi sorotan para difabel. Mereka dengan ragam jenis kedifabelannya, terus berupaya agar dapat mengakses kemajuan teknologi berbasis media perangkat baik leptop atau komputer. Namun sangat disayangkan disebagian besar sekolah luar biasa jarang memberikan  pelajaran komputer  di tingkat bangku sekolah dasar. Padahal, untuk sebagian banyak difabel membutuhkan waktu yang cukup lama agar dapat mempelajarinya

Pun denikian dengan di sekolah luar biasa yayasan pembinaan anak cacat atau SLB YPAC D Mustang Kota Bandung, secara umum materi pelajaran komputer baru diberikan di jenjang SMPLB. Namun, bagi siapa pun siswa di tingkat sekolah dasar yang menginginkan belajar komputer, pihak sekolah dan guru mata pelajaran bersangkutan memberikan kesempatan satu kali dalam satu minggunya untuk belajar mengenal komputer di ruang khusus IT.

“Secara umum mata pelajar komputer di sekolah kami baru diberikan di kelas tujuh atau SMP. Akan tetapi, bagi siswa sekolah dasar yang memiliki minat atau hobi dengan pelajaran komputer diberikan waktu khusus setiap pekan untuk mempelajarinya,” papar Kasim S.Pd, guru bidang studi komputer YPAC D Mustang Kota Bandung.

Kasim juga memaparkan, untuk anak didik sekolah dasar biasanya mereka baru diperkenalkan tentang nama bagian-bagian dan fungsi dari perangkat komputer itu sendiri. Artinya, belum diberikan materi lebih selain pengenalan perangkat.

IT dari sudut pandang difabel

Andika Firnanda, difabel netra dan berprofesi sebagai tenaga pendidik anak berkebutuhan khusus yang tinggal di Kota Padang Sumatera Barat, yang dinobatkan sebagai juara pertama google form tingkat provinsi dan masuk ke tingkat nasioanal dalam kompetisi TIK Nasional 2020  menyampaikan banyak manfaat yang didapatkan dari IT.

Pria kelahiran September 1990 ini mengakui, dengan memahami ilmu teknologi dan komputer dapat memudahkan pekerjaannya. Terutama dalam konteks pengelolaan data yang dirasakan menjadi lebih mudah dan simple. Selama dirinya mengikuti lomba pun, banyak relasi baru selain dengan perangkat komputer aksesibilitas dalam bentuk smartphone juga mempengaruhi. Banyak ilmu baru serta tumbuhnya keberanian diri untuk menguji sejauh mana kemampuannya

 “Dengan mempu mengakses dan menguasai IT banyak kemudahan yang akan didapat. Seiring  berkembangnya, saya juga terus ikut serta belajar tentang apa yang belum saya ketahui,” katanya.

Lebih luas lagi dipaparkan oleh Ravindra Abdi, difabel netra dari Jakarta yang menjadi juara pertama TIK 2020 di tingkat nasional. 

Ravindra menerangkan, pelatihan dan kompetisi TIK adalah kegiatan rutin dari Kementerian Komunikasi dan Informatika yang sudah tiga kali di selenggarakan, yaitu di tahun 2016, 2017, dan 2020. Meskipun dirinya baru bisa mengikuti di tahun ketiga. Ia awalnya hanya penasaran dan ingin mencoba, walau diselenggarakan pada masa pandemi pesertanya lumayan banyak dari seluruh Indonesia, bahkan dari daerah pelosok atau wilayah 3T.

“Alhamdulillah ya bisa menang juara satu di tingkat provinsi dan juara satu di tingkat nasional. Tahun ini peserta meningkat, mungkin karena dilakukan secara daring, makanya banyak yang bisa ikut,” kenangnya.

Pria yang baru lulus Sarjana PGSD Agustus 2020 tersebut juga menyampaikan, menguasai TIK itu sangat perlu di saat sekarang, terutama buat masyarakat difabel. Untuk itu, mata pelajaran TIK harusnya diajarkan sejak dini. Namun sayangnya sekarang tidak dipelajari di bangku sekolah dasar. Walaupun ada sebagian sekolah tertentu yang mengajarkan, itu pun jumlahnya tidak banyak, biasanya hanya ada di sekolah favorit saja. Sehingga untuk difabel yang mau mempelajari TIK itu susah. Susah mencari tempat untuk belajar TIK,

Di SLB untuk difabel netra misalnya, pelajaran TIK baru ada di jenjang SMPLB nya. Padahal, kalau mau pelajaran TIK itu bisa diajarkan mulai dari SD. Menurutnya, kalau baru dimulai di tingkat SMP terhitung tambat dan kurang maksimal, apalagi yang diajarkan hanya seputar materi office saja. Padahal, TIK itu  sangat luas.

“Anak baru dikenalkan pada komputer itu di SMP, otomatis mereka harus mengenal bentuknya dulu, belajar cara hidupkan atau mematikan komputer dulu, baru mengenal tombol keybord-nya. Ini saja sudah butuh waktu lama. Belum belajar mengetik, editing, dan sebagainya. Andai itu diajarkannya dari SD, maka naik ke SMP mereka sudah bisa belajar internet,” terangnya.

Ia juga mencontohkan kasus lain, ada anak belajar di SLB sampai kelas enam sekolah dasar, lalu pindah ke sekolah inklusi, otomatis mereka itu tidak mendapatan pelajaran TIK sebelumnya. Padahal di sekolah inklusi pelajaran tersebut sangat dibutuhkan. Kondisi ini yang bisa membuat mereka tertinggal belajarnya oleh teman sekelas yang nondifabel. Pun demikian para difabel yang langsung sekolah di sekolah inklusi, yang sebelumnya tidak mengenal  TIK mereka akan tertinggal juga.

“Untuk difabel yang ada di daerah, yang mungkin belum tersentuh sarana dan prasarana yang memadai. Perasalahan ini juga harus ada penyelesaiannya. Saya pribadi mengusulkan supaya TIK bisa diajarkan sejak dini dan bisa masuk dalam kurikulum nasional,” saran Ravindra.

Menurut pandangannya, pelajaran ilmu komputer dan teknologi dapat diajarkan kepada para difabel sejak sekolah dasar. Terlebih perhatian pemerintah yang cukup besar terhadap TIK, yang dibuktikan dengan kegiatan dari Kominfo, dan pada tahun ini sudah mulai beragam. Ada dua bidang pelatihan yang baru di TIK 2020, yaitu bidang e-comers, dan google form, selain excel dan desain. Variannya masih dapat ditambah seiring dengan perkembangannya.

Pendapat yang hampir mirip juga terlontar dari Saeful Khafi difabel Cerebral Palsy, pelajar SMULB YPAC D Mustang Kota Bandung yang pernah mengikuti kompetisi dibidang IT. Mempelajari komputer menjadi hobi yang terus dikembangkan. Senada dengan para seniornya, pria yang akrab disapa Aef ini juga setuju bila materi IT diberikan sejak di bangku sekolah dasar, walaupun tidak dari mulai kelas satu.[]  

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.