Lompat ke isi utama
informasi mengenai film Sejauh Ku Melangkah

Alasan Pembuatan Film Sejauh Ku Melangkah

solider.id - GARAMIN NTT, sebuah organisasi yang berfokus pada advokasi isu difabel di Nusa Tenggara Timur menggelar kegiatan nonton bersama film Sejauh Ku Melangkah pada 9 Januari 2021. Film Sejauh Ku Melangkah adalah film yang menceritakan kisah persahabatan antara dua perempuan difabel netra yang tinggal di dua negara yang berbeda, yakni Indonesia dan Amerika. Pada kesempatan nonton bersama tersebut, GARAMIN NTT mengundang sutradara dan pemeran film Sejauh Ku Melangkah.

Ucu Agustin, sutradara film Sejauh Ku Melangkah mengatakan bahwa inspirasi pembuatan film ini hadir saat ia pindah dari Indonesia ke Amerika Serikat. Ketika baru saja menginjakkan kaki di kota Washington DC, Ucu dipertemukan dengan Andrea Carla Darmawan, seorang perempuan difabel netra asal Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Pertemuan itu dapat terjadi karena ibu dari Andrea Carla Darmawan, merupakan teman Ucu.

Ketika bertemu Andrea dan mengikuti kegiatan sehari-hari yang dijalaninya, terlintas dalam pikiran Ucu untuk membuat film yang dapat menjadi referensi bagi masyarakat Indonesia untuk mempelajari isu difabel. hal itu karena, tak banyak film yang menceritakan kisah hidup difabel. akhirnya, Ucu berinisiatif untuk mendokumentasikan kisah hidup Andrea dan sahabatnya yang tinggal di Indonesia, Indri Alifia Syalsabila.

Film itu menggambarkan kehidupan Andrea yang sejak umur 5 tahun harus meninggalkan Indonesia, karena harus mengikuti orangtuanya. Film Sejauh Ku Melangkah memotret kehidupan sehari-hari dan aktivitas pendidikan yang dijalani oleh Andrea dan sahabatnya Indri Alifia Syalsabila.

Menurut Ucu, film ini memiliki nilai inklusif yang sangat kuat, karena karakter kedua pemeran utamanya. Andrea yang merupakan seorang Katolik, bersahabat dengan Indri Alifia Syalsabila (Syalsa) yang merupakan seorang Muslim. “ini artinya, perbedaan agama tidak menghalangi persahabatan keduanya.” Ucap Ucu 9/1/2021.

Andrea Carla Darmawan sangat senang kisahnya dapat di filmkan. Menurutnya, dari cerita tersebut, masyarakat dapat belajar, bahwa tak perlu memandang secara berlebihan. Difabel cukup diperlakukan seperti masyarakat yang lain. Hal yang sama juga disampaikan oleh Indri Alifia Syalsabila.

Pdt Mery Kolimon, Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor/GMIT yang turut serta menyaksikan film tersebut, mengatakan bahwa film Sejauh Ku Melangkah memberikan pelajaran penting bagi masyarakat, bahwa ketika lingkungan sekitar mendorong partisipasi difabel, maka secara otomatis difabel dapat terlibat dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran itu  didapatkan misalnya, ketika Mery melihat adegan dalam film, dimana sekolah di Amerika berupaya memfasilitasi kebutuhan khusus yang diperlukan oleh Andrea sebagai seorang difabel. sementara itu, difabel menjadi terhambat, ketika negara dan lingkungan sekitar tidak mampu memenuhi kebutuhan difabel. hal itu tergambar ketika adegan film menggambarkan aktivitas sekolah yang dijalani oleh Syalsa, dimana sekolah tidak mampu memenuhi kebutuhannya.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.