Lompat ke isi utama
gambar diskusi braille'iant

Cara Unik ala Difabel Netra dalam Menjalani Ramadhan

Solider.id,Yogyakarta -Bulan suci Ramadhan kembali tiba untuk tahun ini. Keberagaman latar belakang umat muslim menyebabkan beragamnya pula cara menyambut Ramadhan, termasuk bagi difabel Netra. Tak hanya soal hambatan penglihatan yang mereka alami. Bulan Ramadhan rupanya menjadi salah satu moment spesial yang ditunggu-tunggu oleh difabel netra. Apa saja hal yang mungkin unik yang mereka alami?

 

Arif Prasetya, seorang difabel netra yang juga anggota dari Braille’iant Indonesia, hadir sebagai narasumber dalam  sebuah diskusi daring beberapa waktu lalu. Ia mengungkapkan jika difabel netra memiliki segudang cara dalam menikmati dan menyambut bulan suci Ramadhan. Salah satunya rutinitas yang ia lakukan bersama kawan-kawan remaja difabel netranya adalah tarawih keliling.

 

Mereka biasanya berjalan bersama-sama menuju masjid yang telah mereka sepakati. Umumnya, mereka akan memilih masjid yang memiliki akses yang mudah dijangkau, seperti masjid yang berada di pinggir jalan.

 

Dengan menggandeng pundak satu sama lain bak bermain kereta-keretaan, begitulah cara mereka berjalan. Tak jarang mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh hanya untuk mencari suasana baru dalam melaksanakan sholat tarawih.

“Kalau dipikir-pikir lagi memang cukup melelahkan bagi kami kalau harus berjalan jauh. Sebenarnya ada cara mudah yang bisa kami lakukan, semisal menggunakan ojek online. Namun jalan secara bersama-sama itulah yang membuatnya seru. Perjalanan jauh jadi terasa dekat dan tidak lelah karena selama berjalan kami terus mengobrol satu sama lain. Pengalaman itu tentu tidak akan kami dapatkan jika kami menggunakan ojek online,” jabarnya.

 

Selain itu, Arif menyebut difabel netra juga memiliki kebiasaan membaca Al-quran. Namun, tentunya dengan menggunakan Al-quran braille. Setidaknya sekali selama bulan ramadhan, mereka menyepakati untuk melalukan khataman Al-quran. Akan tetapi karena situasi pandemi seperti sekarang, biasanya hal itu dilakukan dengan metode daring. Tak hanya itu, difabel netra biasanya turut menghadiri acara pengajian yang biasanya diselenggarakan oleh ITMI, Pertuni, ataupun entitas lainya.

 

Arif juga menyoroti bahwa selama bulan ramadhan, difabel netra seringkali melakukan kegiatan amal seperti memberikan bantuan. Biasanya akan ditampung di ITMI terlebih dahulu, sebelum nantinya disalurkan kepada yang membutuhkan. Dalam kegiatan ini, ia menekankan bahwa difabel netra juga bisa menjadi subyek dalam berbagi, yang menepiskan stigmanya sebagai objek semata.

 

Hal unik lainya terjadi ketika difabel netra diundang dalam acara buka puasa bersama. Biasanya, mereka akan mengingatkan kepada teman-teman awas yang bertugas menyajikan hidangan buka agar mendeskripsikan apa saja hidangan yang ada di sekitar si difabel netra.

“Sebenarnya tidak diberitahupun tidak apa-apa. Namun, biasanya akan jadi cerita berbeda jika yang diberikan ke difabel netra adalah teh panas. Jika saja mereka tidak diberitahu kalau itu teh panas, otomatis difabel netra akan kaget dan bisa saja hal yang tidak diinginkan terjadi,” tuturnya sembari berkelakar.

 

Menurut Arif, dari semua hal tadi yang terpenting adalah makna inklusif bisa dipraktikan dengan cara yang sederhana, insidental, dan di mana saja. “Sejatinya bulan ramadhan adalah momentum paling berharga bagi seluruh umat muslim tanpa terkecuali dalam memperoleh pahala, serta menularkan nilai-nilai inklusifitas,” pintanya mengakhiri.

 

Bulan suci Ramadhan rupanya menjadi moment untuk melakukan hal bermanfaat bagi setiap kalangan, termasuk bagi kawan difabel netra. Safari Ramadhan atau bertarawih di beberapa masjid yang berbeda, berbuka puasa bersama teman sejawat atau teman nondifabel di tempat-tempat publik, menyalurkan donasi atau bersedekah kepada orang yang membutuhkan bisa jadi merupakan beragai cara untuk memaknai bulan ramadhan bagi kawan difabel netra. Selain bermanfaat bagi diri sendiri dan kalangan internal kawan difabel netra. Beberapa hal yang mereka lakukan juga merupakan cara untuk melakukan kampanye penyadaran publik agar masyarakat menjadi semakin paham keberadaan difabel dan potensi mewujudkan masyarakat inklusi semakin niscaya terjadi.

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief   

The subscriber's email address.