Lompat ke isi utama
ilustrasi apresiasi Daniel Panay

Minim Apresiasi, Mantan Atlet Difabel Kini Jadi Nelayan

Solider.id, Jayapura – Papua dijuluki gudang atlet, baik difabel maupun nondifabel. Hal tersebut dibuktikan oleh Daniel Karlos Patay (Kaka Day) putra papua seorang difabel fisik, kelahiran Jayapura 27  September 1981 Argapuara pantai (Kampung Vietnam).

Cabang olahraga renang tak asing lagi bagi seorang Daniel Patay, sebelum menjadi difabel, ia sudah termasuk atlet renang di ajang Pekan olahraga Nasional (PON) Papua.  Pada tahun 1999 Daniel mengalami kecelakaan  yang mengharuskan kedua kakinya diamputasi. 

Setelah  sembuh  dari dampak kecelakaan, Daniel tidak putus asah. Ia tetap berlatih berenang secara mandiri. Hal tersebut terbukti tahun 2003 dipanggil untuk masuk sebagai atlet Papua, dan pada tahun 2004 Ikut bertanding di bimbingan Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) yang sekarang berubah nama menjadi Nasional Paralymmpic Commite (NPC) Indonesia. Pada tahun tersebut  ia mampu membuktikan sebagai atlet renang di Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) dengan meraih dua medali emas, dan satu medali perak.

Akhirnya di tahun 2005 Daniel dipanggil sebagai atlet pelatnas. Ia sempat mengikuti pelatihan nasional yang berpusat  di Solo Jawa Tengah untuk persiapan Asean Paragames di Philipina. Pada saat di Philipina, Daniel mampu membuktikan dengan torehan tiga medali emas, satu perak, dan satu perunggu dengan nomor bergengsi yakni 50 meter gaya dada, 50 meter gaya kupu, dan nomor estafet 4X100 dan 4X50 meter. Di Philipina  Daniel juga  mampu pecahkan rekor baru tercepat di 50 meter gaya dada dengan durasi atau catatan waktu 49,57 detik.

Tahun 2007 Daniel, sapaan akrabnya kembali berlaga mewakili Indonesia di Asean Paragames Thailand, dan perolehan empat medali emas sekaligus, dengan nomor perorangan 50 meter gaya dada, 50 meter gaya kupu, gaya dada 100 meter, dan estafet  4X100. DI Thailand juga Daniel dinobatkan sebagai atlet Renang terbaik Asean Paragames.

Asean Paragames Malaysia tahun 2009 Daniel juga meraih satu medali emas dan satu perak. Tahun 2011 pada gelaran Asean Paragames yang bertempat di Solo Jawa Tengah Indonesia, Daniel  juga meraih tiga medali emas, dan Daniel  juga kembali pecahkan rekor tercepat dengan catatan  ataau durasi waktu 42,54 detik. Rekor tersebut hingga kini belum ada yang terpecahkan  di tingkat ASEAN.

Prestasi  yang membanggakan baik mewakili Papua maupun Indonesia, sehingga Daniel dijuluki sebagai Atlet legenda di Cabang Olhraga Renang. Namun nasib Daniel alias Kaka Day saat ini hanya sebagai seorang nelayan biasa,  dengan peralatan satu unit mesin motor jhonson 40pk, dan satu unit perahu fiber. Berbagai peralatan tersebut di dapatnya saat   masih aktif sebagai seorang atlet renang dan sebagai pelatih renang pada tahun 2011. “Saat ini kondisi perahu dan mesin sudah tua, tapi syukurlah masih bisah dipakai untuk laut” terangnya.

Dari bakat seorang perenang, Daniel juga ikut terjun sebagai pelatih, dan pada tahun 2012  ia sempat menjadi  pelatih renang di NPC Papua kala itu. Pada saat ia latih,  tim renang Papua meraih 22 medali emas di Riau.

Daniel juga banyak melatih atlet-atlet renang mulai dari usia dini hingga dewasa, dan banyak melahirkan atlet-atlet andalan baik difabel maupun nondifabel di Papua, dan sebagian sebagai atlet PON maupun atlet PEPARNAS.

“Saya punya semangat yang tinggi untuk melatih atlet-atlet renang sampai hari ini, mulai usia dini hingga dewasa, dan banyak anak didik saya juga sudah go internasional khususnya dari kalangan dfabel dan anak-anak Papua. Bagi saya renang adalah hobi, jadi sampai kapanpun tidak bisa di tinggalkan. Walaupun saya keluarkan uang pribadi untuk mempersiapkan peralatan tapi saya tidak merasa rugi, saya justru senang kalau dengar anak didik saya jadi juara. Memang selama ini saya tidak di perhatikan oleh pemerintah, tapi besar harapan saya kedapan Pemerinah Papua maupun Pemerintah Pusat tolong lihat kami kaum difabel terlebih khusus sebagai atlet maupun mantan atlet. Dari dulu sampai sekarang kami di Papua belum ada satupun atlet difabel  diangkat sebagai PNS karena prestasinya. Padahal dengan segala hambatan fisik atau anggota tubuh kami tapi kami tetap berjuang untuk  nama baik daeah maupun bangsa kami.” Papar Daniel.

“Salah satu contoh saya pernah buat proposal pada tahun 2012 untuk bantuan tentang usaha Nelayan kami, tapi sampai sekarang satupun tidak ada jawabannya”. Ungkap Daniel.

Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Disabilitas  sampai saat ini tidak ada realisasinya di Papua, bahkan sosialisasinya saja tidak pernah ada. Padahal hak-hak  difabel sudah tertuang didalamnya.

“Saya berharap Pemerintah memperhatikan orang-orang yang seperti suami saya, saya merasa kecewa juga karena tidak ada perhatian dari Pemerintah. Sejak mulai aktif sebagai atlet, sebagai pelatih dan sampai saat ini tidak ada perhatian sama sekali. Apalagi saat ini ditengah pandemi covid-19 kami sangat merasa kesulitan karena suami saya hanya seorang nelayan dan dia juga seorang difabel. Kadang pergi melaut dua hari baru kembali tidak ada penghasilan karena kendala cuaca, ya saya kadang sedih tapi hanya bersyukur buat Tuhan karena kami masih memiliki semangat hidup. Selama pandemi covid-19 kami belum pernah ada bantuan sama sekali. Beruntung saya sebagai istri bisa bekerja, sehinigga dapat menambah biaya kehidupan kami setiap hari”. Tutur Sonya Rerey istri Daniel.[]

 

Reporter:  Roby Nyong

Editor     : Ajiwan Arief 

 

The subscriber's email address.